Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kontraktor Lampung Sambut Positif Wacana Program Gentengisasi Prabowo

IMG_20260203_112222.jpg
Deretan genteng produksi perajin asal Mayong Jepara. (IDN Times/Fariz Fardianto)
Intinya sih...
  • Penggunaan genteng meningkatkan kesehatan dan ramah lingkungan
  • Program gentengisasi dapat mendongkrak UMKM dan industri lokal
  • Genteng meningkatkan kualitas, ketahanan bangunan, dan dinilai realistis serta aplikatif
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandar Lampung, IDN Times - Kalangan pelaku usaha konstruksi di Provinsi Lampung menyambut positif wacana program penggantian atap seng dengan genteng "gentengisasi" diusung oleh Presiden RI Prabowo Subianto.

Kontraktor asal Lampung, Christopan Deswansyah mengatakan, kebijakan tersebut bukan sekadar program fisik terhadap sektor pembangunan perumahan, melainkan investasi jangka panjang bagi kualitas hidup masyarakat.

“Kalau dilihat dari aspek teknis bangunan, genteng jelas lebih unggul. Seng itu konduktivitas panasnya tinggi, suhu di dalam rumah jadi lebih panas, boros energi, dan tidak nyaman. Genteng punya sifat isolasi alami yang jauh lebih baik,” ujarnya dikonfirmasi, Kamis (4/2/2026).

1. Hunian lebih sehat dan ramah lingkungan

genteng tanah liat
genteng tanah liat (pixabay.com/Mufid Majnun)

Christopan menjelaskan, penggunaan atap seng dalam jangka panjang juga berpotensi menimbulkan persoalan kesehatan. Terutama jika terjadi korosi atau paparan logam berat di lingkungan permukiman padat penduduk.

“Ini bukan cuma soal tampilan rumah. Genteng itu menyangkut kesehatan penghuni. Rumah jadi lebih sejuk, sirkulasi panas lebih baik, dan risiko paparan material logam bisa ditekan,” katanya.

Menurutnya, transisi dari seng ke genteng sejalan dengan prinsip bangunan sehat dan ramah lingkungan saat ini mulai menjadi standar dalam dunia konstruksi modern. "Saya pribadi merespons positif, progam ini langkah strategis berbasis kajian ilmiah," lanjut dia.

2. Dongkrak UMKM dan industri lokal

Videoshot_20260203_164140.jpg
Menjemur Genteng (inin nastain/IDN Times)

Dipandang dari sisi ekonomi, Christopan menyebutkan, program gentengisasi berpotensi besar menggerakkan industri bahan bangunan lokal, khususnya UMKM pengrajin genteng di desa-desa.

“Ini peluang besar. Industri genteng lokal bisa tumbuh, serapan tenaga kerja meningkat, dan ketergantungan pada material impor bisa dikurangi. Efek berantainya jelas,” ucapnya.

Material genteng berbahan tanah liat atau beton juga memiliki jejak karbon lebih rendah dibanding material logam, sehingga mendukung agenda pembangunan berkelanjutan. “Bagi kami, ini bukan sekadar proyek, tapi investasi sosial," tambahnya

Oleh karena itu, ia berharap program gentengisasi dapat dijalankan secara konsisten dan tepat sasaran, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat luas, khususnya kelompok berpenghasilan rendah di daerah. “Kalau rumah rakyat kuat dan sehat, fondasi sosial kita juga akan ikut kuat,” ucap Ketua MPC Pemuda Pancasila Bandar Lampung tersebut.

3. Tingkatkan kualitas dan ketahanan bangunan

genteng
genteng tanah liat (pinhome.id)

Sambutan positif juga datang dari, Kontraktor bangunan asal Bandar Lampung lainnya, Hendra Gunawan. Ia menilai, program gentengisasi bakal berdampak langsung pada peningkatan kualitas dan ketahanan bangunan rumah masyarakat.

Sebab, genteng lebih adaptif terhadap kondisi iklim tropis dan cuaca ekstrem dibanding atap seng.

“Dari pengalaman di lapangan, rumah yang pakai genteng jauh lebih awet dan minim keluhan. Tidak panas berlebihan, tidak bising saat hujan, dan struktur rangka atapnya lebih stabil,” ucapnya.

Selain itu, penggunaan genteng juga dapat mengurangi biaya perawatan jangka panjang bagi pemilik rumah. “Kalau dihitung jangka panjang, justrulebih hemat karena tidak sering ganti atap,” tambah dia.

4. Program dinilai realistis dan aplikatif

Ilustrasi Genteng (pixabay.com/Tomazj)
Ilustrasi Genteng (pixabay.com/Tomazj)

Meski cenderung mendukung, Hendra mengingatkan pemerintah agar pelaksanaan program gentengisasi disertai kajian teknis dan skema transisi matang, khususnya di daerah-daerah tertentu tak terkecuali di Provinsi Lampung.

Pasalnya, pemerintah harus mencatat tidak semua kondisi bangunan atau rumah warga dan wilayah tertentu bisa langsung beralih dari penggunaan seng ke genteng tanpa penyesuaian struktur.

“Genteng memang lebih baik dari sisi kenyamanan, tapi bobotnya lebih berat. Untuk rumah lama dengan rangka ringan, perlu penguatan struktur atap supaya aman,” imbuhnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Martin Tobing
EditorMartin Tobing
Follow Us

Latest News Lampung

See More

FKUB Pastikan Kerukunan Umat Beragama di Bandar Lampung Kondusif

05 Feb 2026, 13:32 WIBNews