Mahasiswa UTI Ciptakan Smart Collar Pemantau Kesehatan Sapi

- Inovasi Smart Collar karya mahasiswa Teknik Komputer UTI
- Smart Collar diklaim mampu percepat pemantauan kesehatan sapi
- Sistem IoT dan fitur peringatan dini
Bandar Lampung, IDN Times - Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) mendorong transformasi digital di sektor pertanian dan peternakan melalui pengembangan inovasi berbasis teknologi. Melalui Center of Excellence (CoE) Smart Agriculture, UTI mengembangkan Digital Smart Collar, sebuah perangkat pintar berbasis Internet of Things (IoT) dirancang untuk memantau kondisi kesehatan ternak sapi secara real time.
Digital Smart Collar memungkinkan peternak mengakses informasi kondisi ternak secara langsung melalui perangkat gawai sehingga proses pemantauan dapat dilakukan secara lebih mudah, praktis dan terintegrasi.
1. Efektif memantau kesehatan ternak

Digital Smart Collar merupakan hasil karya mahasiswa Program Studi Teknik Komputer Universitas Teknokrat Indonesia, yakni Deka Ramadani, Reza Isa Mahendra, dan Fadhlurrohman Penateh Mergo, di bawah bimbingan dosen Dedi Darwis dan Yuri Rahmanto. Menurut Dedi Darwis, pemanfaatan perangkat digital saat ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan efektivitas pemantauan kesehatan ternak sekaligus menekan risiko kerugian akibat keterlambatan penanganan.
“Smart Collar dipasang di leher sapi dan dilengkapi sejumlah sensor untuk merekam aktivitas pergerakan, suhu tubuh, serta pola perilaku ternak. Perangkat ini mampu merekam sejumlah parameter penting, seperti aktivitas pergerakan ternak, suhu tubuh, hingga pola perilaku sapi yang dapat menjadi indikator awal kondisi kesehatan,” ujar Dedi.
2. Smart Collar diklaim mampu percepat pemantauan kesehatan sapi

Tidak hanya berfungsi sebagai alat pemantau, Dedi menjelaskan, Digital Smart Collar juga dilengkapi fitur early warning system yang akan memberikan notifikasi otomatis ketika sistem mendeteksi kondisi abnormal pada ternak. Fitur ini memungkinkan peternak mengambil tindakan pencegahan lebih dini sebelum gangguan kesehatan berkembang menjadi masalah lebih serius.
"Data dikumpulkan oleh sensor kemudian dikirimkan melalui jaringan Internet of Things (IoT) ke sistem monitoring digital. Melalui sistem tersebut, peternak dapat mengakses informasi kondisi ternak secara langsung melalui perangkat gawai, sehingga proses pemantauan menjadi lebih praktis, cepat, dan terintegrasi," jelasnya.
3. Hadirkan early warning system hingga siap didorong ke tahap hilirisasi

Menurutnya, pengembangan Smart Collar saat ini telah memasuki versi ketiga sejak riset awal dilakukan pada 2023. Versi terbaru menghadirkan berbagai penyempurnaan, mulai dari peningkatan akurasi sensor, efisiensi konsumsi daya, stabilitas transmisi data, hingga pengembangan dashboard monitoring menjadi lebih informatif dan mudah digunakan.
Sistem ini juga sudah dirancang agar adaptif terhadap kondisi lingkungan peternakan di Indonesia. Pada 2025, inovasi ini mendapatkan dukungan pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melalui program SINERGI. Dukungan tersebut membuka peluang hilirisasi produk agar riset tidak berhenti di tahap laboratorium.
“Riset ini diarahkan menjadi produk yang benar-benar dapat dimanfaatkan peternak, sehingga mampu memberikan nilai tambah ekonomi dan meningkatkan efisiensi pengelolaan ternak,” jelas Dedi.

















