Arsitek Lampung: Program Gentengisasi Prabowo Dongkrak Ekonomi Desa

- Program gentengisasi dorong kemandirian pengrajin desa
- Genteng memiliki nilai ekonomi nasional besar dan ramah lingkungan
- Berpotensi berdampak pada industri seng atau spandek
Bandar Lampung, IDN Times - Wacana program gentengisasi digagas Presiden Prabowo Subianto dinilai tidak hanya berdampak pada sektor pembangunan perumahan, tetapi juga berpotensi mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat desa.
Praktisi Arsitektur asal Lampung, Daud Haniman menyatakan dukungan terhadap rencana program gentengisasi tersebut. Ia mengatakan, kebijakan mengganti penggunaan atap seng atau spandek dengan genteng memiliki nilai tambah dari berbagai aspek mulai dari ekonomi, estetika bangunan, hingga keberlanjutan lingkungan.
“Kalau bicara dari sisi arsitektur dan kualitas hunian, genteng itu jelas lebih unggul. Awet, estetikanya punya kelas, dan secara nilai bangunan jauh lebih baik dibanding spandek atau seng,” ujarnya dikonfirmasi, Selasa (3/2/2026).
1. Dorong kemandirian perajin desa

Daud menjelaskan, program gentengisasi dapat menjadi solusi ekonomi bagi masyarakat desa, khususnya warga tidak memiliki lahan pertanian. Menurutnya, produksi genteng dan bata dinilai sebagai sektor mudah diakses oleh perajin kecil dengan modal terbatas.
“Mereka bisa mandiri dari perajin genteng. Satu keluarga bisa terlibat, dari mencetak sampai menjemur. Ini bentuk pemberdayaan yang nyata,” jelas anggota Ikatan Arsitek Indonesia wilayah Lampung tersebut.
Lebih lanjut ia menyebutkan, nilai jual genteng terutama jenis keramik cukup bernilai ekonomis tinggi di pasaran. Harga satu keping genteng keramik bisa mencapai Rp16 ribu hingga Rp20 ribu.
"Ini bisa memberikan peluang ekonomi menjanjikan, jika didukung industri dan kebijakan pemerintah," tambah Daud.
2. Punya nilai ekonomi nasional besar

Daud menyebutkan, penerapan realisasi program gentengisasi ini bakal berdampak ekonomis signifikan secara nasional. Dengan jumlah penduduk Indonesia mencapai ratusan juta jiwa, kebutuhan genteng dipastikan sangat besar.
“Kalau kita bicara skala nasional, kebutuhannya luar biasa. Dari sisi ekonomi, ini dahsyat. Perajin lokal bisa tumbuh, industri pendukung bergerak, dan rantai ekonomi hidup,” katanya.
Selain aspek ekonomi, Daud juga menyoroti keunggulan genteng dari sisi lingkungan. Pasalnya, material genteng berbahan tanah liat dinilai lebih ramah lingkungan dan mudah didaur ulang dibanding material logam.
“Genteng itu material alami. Kalau dibandingkan logam, eksplorasi tambangnya jauh lebih luas dan dampak lingkungannya besar. Genteng lebih bersahabat dengan alam,” lanjut dia.
3. Berpotensi beri dampak industri seng

Meski ada sisi positif tersebut, Daud melanjutkan, program gentengisasi ini bakal berdampak pada industri seng atau spandek. Alasannya, penurunan permintaan menjadi konsekuensi tak terhindarkan.
“Pasti ada dampak ke industri seng, daya belinya bisa berkurang tapi itu bagian dari persaingan industri. Pedagang dan industri harusnya bisa beradaptasi, hari ini jual seng, besok jual genteng,” jelasnya.
Oleh karenanya, ia tetap berharap program gentengisasi ini dapat dijalankan secara konsisten dan tepat sasaran. “Kami sebagai praktisi mendukung penuh. Mudah-mudahan program ini berjalan on the track, karena ini bukan hanya soal atap rumah, tapi soal kualitas hidup, ekonomi rakyat, dan arah pembangunan ke depan,” imbuhnya.
















