Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kisah Pelajar Way Bungur Berjibaku Seberangi Sungai demi Akses Sekolah

IMG_20260202_113457.jpg
Tangkap layar unggahan akun Tiktok @president_angler_liar. (Instagram/@@president_angler_liar).
Intinya sih...
  • Pelajar Way Bungur berjuang menyeberangi sungai
  • Risiko tercebur dan terlambat datang ke sekolah
  • Siswa pilih menginap di sekolah saat musim hujan
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Lampung Timur, IDN Times - Bagi Praja, seragam sekolah bersih dan kering menjadi kemewahan sulit dijaga. Setiap pagi, pelajar asal Desa Kali Pasir ini harus bergelut dengan derasnya arus Sungai Way Bungur demi bisa sampai di bangku kelas.

Bukan melalui jembatan kokoh, melainkan dengan menumpang perahu kayu sederhana. ​Kisah perjuangan pelajar di Lampung Timur ini menjadi potret keterbatasan akses infrastruktur di kabupaten setempat.

Proyek jembatan menghubungkan Desa Kali Pasir dan Tanjung Tirto diharapkan menjadi solusi mobilitas warga hingga kini masih terbengkalai, menyisakan tiang-tiang beton tak kunjung tersambung.

1. ​Basah kuyup dan risiko tercebur​

IMG_20260204_105708.jpg
Praja, pelajar asal Desa Kali Pasir saat akses perahu kayu seberangi sungai. (Dok. IDN Times).

Bagi Praja dan teman-temannya, debit air sungai yang naik bukan sekadar hambatan, melainkan ancaman. Tak jarang, Praja terpaksa bolos sekolah jika debit air sungai terlalu tinggi dan dianggap terlalu berbahaya untuk diseberangi.

​"Kalau banjir, ya basah-basah semua," ujar Praja dengan senyum getir saat ditemui di atas perahu penyeberangan, Selasa (3/2/2026).

Lebih dari itu, ia turut mengaku pernah tercebur ke sungai dari atas perahu kayu lengkap dengan seragam sekolahnya. ​"Harapannya ya biar jembatannya cepat jadi, supaya aksesnya mudah," tambahnya penuh harap.

2. ​Terbiasa terlambat datang ke sekolah

IMG_20260203_134951.jpg
Penampakan jembatan mangkrak di Sungai Way Bungur, Lampung Timur. (Dok. IDN Times).

​Ketergantungan pada moda transportasi air yang terbatas membuat ketepatan waktu menjadi sesuatu mustahil. Tak jarang, Praja mengaku harus terlambat datang ke sekolah.

"Alhamdulillah, kalau sekolah sudah paham jadi tetap boleh masuk kelas," ucapnya.

​Kondisi itu dibenarkan oleh Ahmad Saiful, Wakil Kepala SMAN 1 Way Bungur. Menurutnya, pihak sekolah terpaksa mengambil kebijakan khusus demi menjamin hak pendidikan para siswa menyebrangi Sungai Kali Pasir.

​"Kami memberikan dispensasi. Jam berapa pun mereka sampai, mereka tetap diizinkan masuk kelas dan mengikuti pelajaran. Kami paham betapa sulitnya perjuangan mereka di penyeberangan," kata Saiful.

3. ​Siswa pilih menginap di sekolah saat musim hujan​

IMG_20260202_113511.jpg
Tangkap layar unggahan akun Tiktok @president_angler_liar. (Instagram/@@president_angler_liar).

Hambatan geografis ini semakin terasa berat saat musim ujian tiba. Pihak sekolah bahkan sempat menawarkan para siswa untuk "nge-camp" atau menginap di sekolah, agar tidak tertinggal ujian akibat kendala penyeberangan.

​"Sejauh ini, anak-anak biasanya memilih menginap di rumah teman atau kerabat yang posisinya tidak perlu menyeberang sungai, agar tetap bisa ikut ujian tepat waktu," imbuh Saiful.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Martin Tobing
EditorMartin Tobing
Follow Us

Latest News Lampung

See More

Siasat Truk Semangka Selundupkan 70 Kg Sabu, Upah Kurir Rp1,3 Miliar

06 Feb 2026, 15:19 WIBNews