Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Guru Besar Unila: Hari Kamis Beradat Bangun Identitas Manusia Lampung

Mengenal Prof Admi Syarif PhD, sesosok Dosen Fakultas MIPA Unila sekaligus pendirian dan pemilik Rumah Singgah Nuwo Inspirasei. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna)
Prof Admi Syarif PhD, Dosen Fakultas MIPA Unila sekaligus pendirian dan pemilik Rumah Singgah Nuwo Inspirasei. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna)
Intinya sih...
  • Membangun kebanggaan sebagai Manusia Lampung
  • Kebijakan inklusif bagi seluruh warga Lampung, termasuk pendatang yang telah menetap dan berkontribusi di daerah ini
  • Ingub Hari Kamis Beradat sangat relevan jika diimplementasikan ke lingkungan pendidikan, termasuk perguruan tinggi
  • Unila memiliki Program Studi Pendidikan Bahasa Lampung, sehingga tidak ada alasan untuk mengabaikan upaya pelestarian bah
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandar Lampung, IDN Times – Guru Besar Universitas Lampung (Unila), Admi Syarif menilai penerbitan Instruksi Gubernur (Ingub) tentang Hari Kamis Beradat sebagai langkah strategis dan progresif dalam membangun identitas bersama sebagai "Manusia Lampung".

Admi mengatakan, kebijakan tertuang dalam Ingub Nomor 4 Tahun 2025 mewajibkan Aparatur Sipil Negara (ASN) mengenakan batik khas Lampung serta menggunakan bahasa daerah setiap Kamis itu tidak hanya relevan, tetapi juga penting sebagai upaya merawat bahasa dan budaya lokal di tengah masyarakat majemuk.

“Ini langkah yang sangat positif, bukan hanya untuk suku Lampung, tapi untuk seluruh Manusia Lampung. Siapa pun yang tinggal di Lampung sudah sepantasnya memahami dan mencintai budaya Lampung, meski pelan-pelan,” ujarnya dimintai keterangan, Rabu (14/1/2026).

1. Bangun kebanggaan sebagai Manusia Lampung

Menara Siger di Bakauheni Harbour City (BHC), Lampung Selatan. (dok. ASDP Indonesia Ferry)
Menara Siger di Bakauheni Harbour City (BHC), Lampung Selatan. (dok. ASDP Indonesia Ferry)

Admi melanjutkan, penggunaan bahasa dan batik khas Lampung merupakan bentuk ekspresi kebanggaan terhadap identitas daerah. Menurutnya, ornamen dan motif khas Lampung bukan sekadar pakaian, melainkan simbol kecintaan terhadap Bumi Ruwa Jurai.

“Batik Lampung itu ekspresi kebanggaan kita terhadap ke-Lampung-an. Ini cara kita membangun rasa memiliki terhadap Lampung,” katanya.

Selain itu, ia menegaskan kebijakan tersebut tidak bersifat eksklusif, melainkan inklusif bagi seluruh warga Lampung. Termasuk pendatang telah lama menetap dan berkontribusi di daerah ini.

"Langkah ini bisa menjadi upaya kita untuk membangun kebanggaan kepada Bumi Lampung ini," lanjut dia.

2. Relevan diterapkan di dunia pendidikan

Gedung Rektorat Unila. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna)
Gedung Rektorat Unila. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna)

Sebagai akademisi berstatus guru besar, Admi menilai Ingub Hari Kamis Beradat sangat relevan jika diimplementasikan ke lingkungan pendidikan, termasuk perguruan tinggi. Misalnya di Unila, sebagai institusi pendidikan mengusung nama daerah memiliki tanggung jawab moral dalam menjaga dan mengembangkan nilai-nilai kelampungan.

“Namanya saja Universitas Lampung. Sudah seharusnya kita menjaga dan mengembangkan kelampungan itu. Volumenya bisa disesuaikan, tapi kita mulai dulu. Ini proses belajar,” ucapnya.

Ia turut mengingatkan, Unila telah memiliki Program Studi Pendidikan Bahasa Lampung, sehingga tidak ada alasan untuk mengabaikan upaya pelestarian bahasa daerah.

“Jangan sampai kita lama hidup di Lampung, kuliah di Universitas Lampung, tapi terus mengeluhkan tidak bisa bahasa Lampung. Kalau diupayakan, saya yakin bisa,” tegasnya.

3. Optimistis kebijakan berjalan konsisten

IMG-20251105-WA0033.jpg
Rapat Koordinasi Penguatan Sinergi dan Kolaborasi Pemberantasan Korupsi Wilayah Lampung, yang berlangsung di Gedung Balai Keratun, Komplek Kantor Gubernur Lampung, Rabu (5/11/2025). (Dok. Pemprov Lampung).

Terkait implementasi, Admi menyebutkan, instruksi gubernur memiliki kekuatan cukup untuk dijalankan secara konsisten. Menurutnya, kebijakan tersebut tidak memberatkan, baik dari sisi bahasa maupun pakaian.

“Soal dialek tidak perlu dipusingkan, mau Pepadun atau Saibatin yang penting Lampung. Soal pakaian juga tidak harus beli baru. Bahkan ini bisa menggerakkan UMKM,” jelasnya.

Oleh karena itu, Admi amat optimistis kebijakan ini dapat berjalan efektif dikarenakan masyarakat Lampung pada dasarnya memiliki keinginan untuk belajar dan beradaptasi. “Saya yakin ini bisa jalan, kita semua harus bangga menjadi orang Lampung,” lanjut dia.

4. Apresiasi kepemimpinan gubernur

IMG-20260113-WA0025.jpg
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal. (Dok. Pemprov Lampung).

Admi turut mengapresiasi langkah cepat dan taktis Gubernur Lampung dalam menerbitkan kebijakan tersebut. Ia menilai, perhatian terhadap budaya lokal menunjukkan kepemimpinan yang responsif dan visioner.

“Saya melihat ini kebijakan yang sangat positif, bahkan di luar ekspektasi saya karena keluarnya cepat. Sudah sepantasnya kebijakan seperti ini kita dukung,” imbuh pemilik kanal YouTube Admi Syarif Institut tersebut.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Martin Tobing
EditorMartin Tobing
Follow Us

Latest News Lampung

See More

Pemkot Balam Bakal Bangun Perumahan ASN Bebas Banjir di 3 Kecamatan

15 Jan 2026, 14:02 WIBNews