Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Ternyata Ini Pemicu Inflasi Lampung 0,36 Persen Februari 2026

Ternyata Ini Pemicu Inflasi Lampung 0,36 Persen Februari 2026
ilustrasi makanan sehat (pexels.com/Flo Dahm)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
  • Provinsi Lampung mencatat inflasi 0,36 persen (yoy) pada Februari 2026, naik dari deflasi bulan sebelumnya namun masih lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 4,76 persen.
  • Kenaikan harga emas perhiasan, daging ayam ras, bawang merah, cabai rawit, dan tomat menjadi pemicu utama inflasi, sementara penurunan harga bensin menahan tekanan inflasi.
  • Bank Indonesia dan TPID Lampung memperkuat strategi 4K—keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta komunikasi efektif—untuk menjaga stabilitas harga di tengah risiko global dan domestik.
  • Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
    Is this "Intinya Sih" helpful?

Bandar Lampung, IDN Times - Provinsi Lampung pada Februari 2026 mengalami inflasi 0,36 persen year on year. (yoy). Inflasi itu meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat deflasi 0,07 persen (yoy).

Terkait inflasi periode terlapor, Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Achmad P. Subarkah memberikan analisisnya, Senin (2/3/2026). Apabila dibandingkan dengan inflasi nasional, realisasi tersebut lebih rendah sebesar 0,68 persen (yoy).

"Namun lebih tinggi dibandingkan rata-rata perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Lampung pada Februari tiga tahun terakhir yang mengalami deflasi 0,04 persen (yoy)," ujarnya, Senin (2/3/2026).

Merujuk perkembangan tersebut, inflasi Provinsi Lampung secara tahunan sebesar 2,95 persen (yoy). Itu lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 4,76 persen (yoy).

1. Pemicu inflasi Februari 2026

Cabai rawit setan yang dijual di Pasar Peterongan Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)
Cabai rawit setan yang dijual di Pasar Peterongan Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Ahmad menjelaskan, dilihat dari sumbernya, inflasi Februari 2026 terutama didorong kenaikan harga komoditas pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau, yaitu emas perhiasan, daging ayam ras, bawang merah, cabai rawit, dan tomat. Andil masing-masing sebesar 0,09 persen; 0,05 persen; 0,04 persen; 0,04 persen; dan 0,04 persen (mtm).

Kenaikan harga emas perhiasan sejalan dengan berlanjutnya tren peningkatan harga emas dunia di tengah tingginya ketidakpastian global. Sementara itu, kenaikan harga daging ayam ras dan komoditas hortikultura dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan masyarakat menjelang ramadan di tengah terbatasnya pasokan, khususnya panen lokal yang tertunda untuk komoditas hortikultura.

Di sisi lain, tekanan inflasi Februari 2026 tertahan oleh penurunan harga pada kelompok transportasi, khususnya bensin dengan andil sebesar -0,05 persen (mtm). "Itu seiring penyesuaian harga BBM nonsubsidi oleh PT Pertamina," paparnya.

Selain itu, beberapa komoditas lain yang turut menahan inflasi adalah susu cair kemasan, kangkung, hand body lotion, dan wortel dengan andil masing-masing sebesar -0,01 persen (mtm).

2. Waspada risiko eskalasi konflik militer di Timur Tengah

WhatsApp Image 2025-07-17 at 13.47.31 (1).jpeg
ilustrasi perang (IDN Times/Aditya Pratama)

Menurut Ahmad, BI Provinsi Lampung memprakirakan inflasi di Provinsi Lampung akan tetap terjaga pada rentang sasaran inflasi 2,5±1 persen (yoy) pada akhir tahun 2026. Namun demikian, beberapa risiko perlu tetap diwaspadai dan dimitigasi yakni:

Inflasi Inti (Core Inflation), risiko bersumber dari:

  • Peningkatan permintaan agregat sebagai dampak penyesuaian UMP yang direalisasikan secara bertahap sepanjang tahun serta meningkatnya mobilitas masyarakat pada momentum Ramadan dan HBKN Idulfitri 1447 H
  • Berlanjutnya kenaikan harga emas dunia di tengah masih tingginya ketidakpastian global seiring pecahnya konflik terbuka antara Amerika Serikat–Israel dengan Iran, yang mendorong peningkatan permintaan aset safe haven dan volatilitas pasar keuangan global.

Inflasi Bahan Makanan Bergejolak (Volatile Food), risiko yang perlu dicermati meliputi:

  • Peningkatan curah hujan dan risiko banjir lokal yang berpotensi menghambat realisasi panen padi serta distribusi pangan, sejalan dengan prakiraan berlanjutnya La Nina lemah hingga awal tahun 2026;
  • Potensi peningkatan harga komoditas pangan strategis pada periode high season Ramadan dan HBKN Idul Fitri 1447 H
  • Potensi gangguan pasokan dan distribusi komoditas pangan ke Provinsi Lampung sebagai dampak meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah Sumatera yang dapat menghambat kelancaran arus logistik antarwilayah.

Inflasi Harga yang Diatur Pemerintah (Administered Prices), risiko yang perlu dicermati:

  • Semakin meningkat seiring eskalasi konflik militer di Timur Tengah. Itu berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi global, khususnya apabila terjadi disrupsi pada jalur strategis perdagangan minyak dunia seperti Selat Hormuz, sehingga mendorong kenaikan harga minyak mentah global dan meningkatkan premi risiko geopolitik di pasar energi.
  • Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap harga BBM non-subsidi, tarif transportasi, serta biaya logistik dan distribusi domestik, di tengah normalisasi tarif angkutan darat dan laut pasca berakhirnya diskon tarif angkutan serta insentif PPN DTP untuk angkutan udara pada periode HBKN.

3. Pengendalian inflasi melalui strategi 4K

ilustrasi strategi pemasaran (freepik.com/pikisuperstar)
ilustrasi strategi pemasaran (freepik.com/pikisuperstar)

Meninjau perkembangan inflasi Februari dan mempertimbangkan peningkatan risiko global dan domestik, Bank Indonesia dan TPID Provinsi Lampung terus memperkuat pengendalian inflasi melalui strategi 4K yaitu,

1. Keterjangkauan harga

  • Melaksanakan operasi pasar beras/SPHP secara terarah dan targeted.
  • Memperkuat monitoring harga dan pasokan komoditas strategis (beras, cabai, bawang, daging sapi, serta daging dan telur ayam ras), termasuk antisipasi dampak kenaikan biaya distribusi akibat volatilitas energi global.

2. Ketersediaan pasokan

  • Memperluas implementasi Toko Pengendalian Inflasi di seluruh wilayah IHK dan Non-IHK.
  • Memperkuat kerja sama antar daerah (KAD) antarprovinsi maupun intraprovinsi untuk komoditas defisit dan berisiko defisit dengan sentra produksi.
  • Memperkuat koordinasi antar OPD terkait guna mempercepat realisasi program swasembada pangan di Provinsi Lampung melalui optimalisasi lahan, penggunaan varietas unggul, bantuan alsintan, serta memastikan kelancaran distribusi pupuk bersubsidi secara tepat guna dan tepat sasaran.
  • Memperkuat data pasokan guna meningkatkan efektivitas monitoring ketersediaan pasokan.

3. Kelancaran distribusi

  • Memastikan kecukupan moda transportasi guna menjaga kelancaran arus barang dan manusia menjelang HBKN.
  • Mengantisipasi potensi kenaikan biaya logistik akibat volatilitas harga BBM global.
  • Memperkuat kapasitas transportasi melalui penambahan volume penerbangan Lampung–Jakarta serta reaktivasi rute Lampung–Bali dan Lampung–Jogja.
  • Melanjutkan perbaikan infrastruktur jalur distribusi pangan.
  • Memperkuat implementasi Mobil TOP (Transportasi Operasi Pasar) dan dukungan Subsidi Ongkos Angkut (SOA) bersama OPD dan Bulog.

4. Komunikasi efektif

  • Melakukan rapat koordinasi rutin TPID Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam rangka menjaga awareness terkait dinamika harga dan pasokan terkini.
  • Menjaga ekspektasi inflasi melalui komunikasi publik yang konsisten di tengah ketidakpastian global.
  • Memperkuat sistem informasi neraca pangan melalui integrasi data pangan yang terkini dan berkualitas guna mendukung pengambilan kebijakan pengendalian harga yang tepat.
  • Memanfaatkan media digital untuk menyampaikan informasi terkini mengenai inflasi di Provinsi Lampung.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Martin Tobing
EditorMartin Tobing
Follow Us

Latest News Lampung

See More