700 Ton Beras Siap Disalurkan ke Lamsel, Prioritas Dataran Rendah

- Sebanyak 700 ton beras siap disalurkan ke masyarakat Lampung Selatan, dengan prioritas wilayah dataran rendah untuk menjaga ketahanan pangan dan menekan beban ekonomi warga.
- Bulog memastikan stok beras dan jagung aman meski distribusi terkendala ketersediaan kemasan impor, sementara penyaluran bantuan pangan periode Februari–Maret telah mencapai sekitar 70 persen.
- Pemerintah daerah menetapkan tujuh kecamatan sebagai lokus prioritas penyaluran bantuan, menekankan pentingnya data akurat dan stabilitas harga agar manfaat dirasakan kelompok rentan.
Lampung Selatan, IDN Times - Bantuan pangan sebanyak 700 ton beras bakal segera mengalir ke masyarakat Kabupaten Lampung Selatan. Fokus utama menyasar warga di wilayah dataran rendah yang tersebar di sejumlah kecamatan prioritas.
Rencana penyaluran bantuan tersebut disampaikan dalam audiensi antara Pemkab Lampung Selatan dan Perum Bulog, yang berlangsung di ruang kerja Sekretaris Daerah, Kantor Bupati Lampung Selatan. Program ini digadang-gadang menjadi salah satu langkah strategis untuk menjaga ketahanan pangan sekaligus menekan beban ekonomi warga di tengah kondisi harga kebutuhan pokok yang masih fluktuatifnuhi target,” kata Rindo.
1. Serapan gabah di Lampung Selatan capai 80.000 ton

Pimpinan Wilayah Perum Bulog Lampung, Rindo Safutra, memastikan stok beras saat ini berada dalam kondisi aman. Bahkan, Bulog mencatat serapan gabah selama musim panen menunjukkan hasil yang cukup tinggi.
Hingga 1 April 2026, Bulog mencatat serapan gabah di Lampung Selatan telah mencapai 80.000 ton, atau setara dengan 41.000 ton beras. Angka itu diperkirakan masih akan terus bertambah, mengingat bulan April disebut sebagai puncak panen raya di wilayah tersebut.
“Serapan masih terus berjalan. Momentum panen raya ini kami optimalkan untuk meme
2. Bulog menargetkan penyerapan jagung mencapai 120.000 ton

Tak hanya beras, penyerapan jagung juga ikut menunjukkan tren positif. Dari total 2.700 ton jagung yang diserap Bulog di Provinsi Lampung sepanjang 2026, sekitar 1.000 ton di antaranya berasal dari Lampung Selatan. Menurut Rindo ke depan, Bulog menargetkan penyerapan jagung mencapai 120.000 ton, dengan kontribusi terbesar diharapkan datang dari Lampung Timur dan Lampung Selatan.
“Kami berharap kerja sama semua pihak dapat meningkatkan penyerapan jagung agar hasil petani terserap secara maksimal,” ujarnya.
Rindo juga memaparkan progres penyaluran bantuan pangan periode Februari–Maret di sejumlah wilayah Lampung yang kini sudah mencapai sekitar 70 persen dari total kebutuhan. Ia menegaskan, komoditas utama seperti beras dan minyak masih dalam kondisi aman.
3. Komoditas aman, tapi kemasan menjadi kendala

Rindo mengatakan, Bulog mengakui proses distribusi bantuan pangan masih menemui kendala teknis, terutama terkait ketersediaan kemasan atau karung yang sebagian besar masih bergantung pada impor. Sebagai solusi sementara, Bulog melakukan pengemasan ulang atau repack beras ke ukuran 10 kilogram, agar proses distribusi tetap berjalan tanpa harus menunggu stok karung tersedia.
“Komoditas aman, tapi kemasan menjadi kendala. Kami upayakan dalam waktu dekat penyaluran di Lampung Selatan bisa segera terealisasi,” jelas Rindo.
Pimpinan Cabang Bulog Lampung Selatan, Fadrial Farhan, menyebut total kebutuhan beras untuk distribusi di wilayah tersebut mencapai 3.800 ton. Namun, hingga saat ini baru tersedia 700 ton yang siap disalurkan.
Menurutnya, jumlah tersebut masih cukup untuk tahap awal, khususnya untuk memenuhi kebutuhan di empat kecamatan, meskipun distribusi masih dalam proses. “Masih dalam proses, dan kami akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah terkait mekanisme penyaluran yang baru,” kata Fadrial.
4. Ada tujuh lokus kecamatan prioritas

Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setdakab Lampung Selatan, Tri Umaryani, menilai kebutuhan jagung di daerah itu masih cukup tinggi, meskipun stok beras relatif mencukupi. Ia juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga di tingkat petani agar hasil panen yang melimpah tidak justru membuat mereka merugi karena harga jatuh.
Selain itu, Tri menyoroti kendala pengemasan yang berdampak langsung terhadap lambatnya penyaluran bantuan pangan, terutama untuk wilayah prioritas.
“Kita memiliki tujuh lokus kecamatan prioritas. Penyaluran harus tepat sasaran dan berbasis data, apalagi tingkat kemiskinan masih perlu ditekan,” ujarnya.
Tri juga mendorong agar pengoperasian pasar Bulog dilakukan secara kolaboratif untuk menjaga kestabilan harga, sekaligus memastikan bantuan pangan benar-benar dirasakan masyarakat yang membutuhkan.
ia berharapm dengan berbagai langkah tersebut, penyaluran bantuan pangan dapat segera terealisasi dan memberi dampak nyata, terutama bagi kelompok rentan di Lampung Selatan.



















