Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Cerita Menginspirasi dari Simanila Unila 2026, Penuh Perjuangan

Cerita Menginspirasi dari Simanila Unila 2026, Penuh Perjuangan
Seleksi Mandiri Masuk Universitas Lampung (Simanila) 2026 (dok.humas/unila)
Intinya Sih
  • Hanif, peserta Simanila Unila 2026, tetap mengikuti ujian meski baru mengalami kecelakaan dan menjadikan jalur PMPAP sebagai harapan untuk melanjutkan pendidikan di Unila.
  • Gischa Salsabila Adisti menempuh perjalanan jauh dari Rawajitu Timur bersama orang tuanya demi kesempatan terakhir masuk Unila, menunjukkan tekad kuat dan dukungan keluarga.
  • Puluhan teknisi UPA TIK Unila bekerja sejak dini hari memastikan seluruh perangkat ujian berfungsi optimal agar pelaksanaan Simanila berjalan lancar tanpa kendala teknis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Bandar Lampung, IDN Times - Seleksi Mandiri Masuk Universitas Lampung (Simanila) 2026 bukan sekadar menjadi ajang memperebutkan bangku kuliah. Di balik ribuan peserta yang datang mengikuti ujian, tersimpan berbagai kisah perjuangan yang jarang terlihat publik.

Ada peserta yang tetap datang ke ruang ujian meski baru mengalami kecelakaan, calon mahasiswa yang rela menempuh perjalanan jauh demi kesempatan terakhir masuk perguruan tinggi negeri, hingga para teknisi yang bekerja sejak sebelum matahari terbit agar seluruh proses seleksi berjalan lancar. Berikut IDN Times rangkum kisah yang mewarnai pelaksanaan Simanila Unila 2026.

1. Tetap mengikuti ujian meski baru mengalami kecelakaan

Peserta seleksi mandiri Universitas Lampung menyerahkan berkas pendaftaran kepada petugas di meja registrasi kampus.
Seleksi Mandiri Masuk Universitas Lampung (Simanila) 2026 (dok.humas/unila)

Musibah datang menghampiri Hanif, peserta Seleksi Mandiri Jalur Program Masuk Perluasan Akses Pendidikan (PMPAP), hanya beberapa jam sebelum mengikuti ujian. Pemuda asal Lampung Tengah itu mengalami kecelakaan saat hendak mencari sarapan di kawasan Hajimena, Bandar Lampung.

Akibat kecelakaan tersebut, kopling motornya patah, bodi kendaraan rusak, dan tangannya mengalami luka. Meski begitu, Hanif memilih tetap melanjutkan perjuangannya. Setelah mendapat pertolongan di tempat temannya menginap, ia berangkat menuju lokasi ujian karena jadwal tesnya masih memungkinkan untuk diikuti.

“Pas di jalan, kayaknya saya kurang memperhatikan kendaraan yang mau berbelok. Tapi saya langsung minta maaf kepada ojol yang juga jatuh. Syukurnya beliau juga merespons baik dan hanya mengingatkan supaya lebih berhati-hati,” ujarnya.

2. PMPAP menjadi harapan mengubah masa depan

Calon mahasiswa duduk di kursi dalam gedung serbaguna Universitas Lampung saat mengikuti Seleksi Mandiri Masuk Universitas Lampung 2026.
Seleksi Mandiri Masuk Universitas Lampung (Simanila) 2026 (dok.humas/unila)

Hanif menceritakan, sebelum mengikuti PMPAP, Ia lebih dulu mencoba jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), tetapi belum berhasil lolos. Kesempatan mengikuti PMPAP kemudian menjadi harapan berikutnya untuk mewujudkan cita-citanya berkuliah di Unila.

Ia memilih Program Studi S-1 Bisnis Digital sebagai pilihan pertama dan S-1 Ilmu Komunikasi sebagai pilihan kedua. Bagi Hanif, jalur afirmasi tersebut membuka kesempatan bagi putra-putri asli Lampung dari keluarga dengan kemampuan ekonomi terbatas untuk tetap mengenyam pendidikan tinggi.

Meski mengikuti ujian dengan kondisi tangan masih terluka, Hanif mengaku tidak mengalami kesulitan berarti. “Saya pernah latihan try out sebelumnya, jadi setidaknya sudah ada gambaran soal, sekarang tinggal maksimalin usaha,” katanya.

3. Menempuh perjalanan jauh demi kesempatan terakhir

Calon mahasiswa mengikuti Seleksi Mandiri Masuk Universitas Lampung 2026 dengan membawa berkas dan mengenakan pakaian rapi di area kampus.
Seleksi Mandiri Masuk Universitas Lampung (Simanila) 2026 (dok.humas/unila)

Perjuangan lain datang dari Gischa Salsabila Adisti, peserta asal Rawajitu Timur, Kabupaten Tulang Bawang. Bersama ayah dan ibunya, ia menempuh perjalanan panjang menuju Bandar Lampung demi mengikuti Simanila.

Sehari sebelum ujian, keluarga kecil itu memilih menginap di Talang Padang agar dapat melanjutkan perjalanan menuju Kampus Unila sejak dini hari. Mereka berangkat selepas subuh supaya tiba tepat waktu di lokasi ujian.

Simanila menjadi kesempatan terakhir bagi Gischa untuk menjadi mahasiswa Unila tahun ini. Sebelumnya ia telah mengikuti jalur SNBP dan SNBT, tetapi belum berhasil memperoleh kursi di perguruan tinggi negeri.

Perjalanan Gischa tak lepas dari dukungan penuh kedua orang tuanya. Sang ibu, Waida, mengatakan putrinya sejak awal tidak pernah mengubah pilihan program studi, yakni Pendidikan Bahasa Inggris sebagai pilihan pertama dan PGSD sebagai pilihan kedua.

Menurut Waida, kecintaan Gischa terhadap bahasa Inggris sudah tumbuh sejak kecil hingga akhirnya aktif dalam berbagai kegiatan berbahasa Inggris saat SMA. Sebab itu, keluarga terus memberikan semangat agar ia tidak menyerah meski sempat gagal pada dua jalur seleksi nasional.

“Dari awal SNBP kemudian SNBT, pilihannya tidak berubah. Dia tetap memilih Bahasa Inggris dan PGSD Unila,” ujar sang Ibu.

Bagi Waida, keberhasilan putrinya lolos ke Unila akan menjadi kebanggaan sekaligus mewujudkan impian yang dulu belum sempat ia raih untuk mengenyam pendidikan di kampus tersebut.

4. Ada teknisi memastikan mimpi peserta tak terhambat

Peserta ujian Seleksi Mandiri Masuk Universitas Lampung 2026 mengerjakan tes berbasis komputer di ruang kelas dengan pengawas.
Seleksi Mandiri Masuk Universitas Lampung (Simanila) 2026 (dok.humas/unila)

Di balik ribuan peserta yang mengikuti Simanila, ada puluhan teknisi UPA Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Unila yang bekerja sejak dini hari. Mereka memastikan seluruh perangkat ujian siap digunakan sebelum peserta memasuki ruang tes.

Operator Layanan Operasional UPA TIK Unila sekaligus teknisi pelaksana Simanila, Aditya Dwi Abrianto, mengatakan seluruh persiapan dilakukan agar tidak ada peserta yang mengalami kendala teknis saat ujian berlangsung. Hingga hari kedua pelaksanaan Simanila menurutnya seluruh proses berjalan lancar tanpa gangguan berarti.

“H-1 kami melakukan uji coba seluruh perangkat. Semua laptop dan PC dihidupkan, kemudian dilakukan simulasi pengerjaan soal untuk memastikan aplikasi dan akun berjalan normal. Seluruh teknisi di setiap blok ikut terlibat sesuai tugas masing-masing sehingga saat ujian dimulai semuanya sudah siap,” ujarnya.

Menurut Aditya, pada pelaksanaan ujian, UPA TIK Unila mengoperasikan 290 perangkat komputer dan laptop yang tersebar di berbagai ruang ujian. Setiap blok terdiri atas 20 perangkat yang didampingi seorang teknisi dan seorang pengawas sehingga apabila terjadi kendala dapat segera ditangani tanpa mengganggu jalannya ujian.

"Setelah salat subuh kami langsung berangkat. Sesampainya di kampus kami memastikan seluruh perangkat hidup, listrik aman, AC berfungsi, jaringan normal, semuanya harus benar-benar siap sebelum peserta datang. Bahkan kalau terjadi gangguan listrik pun kami sudah menyiapkan langkah antisipasinya,” imbuhnya.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Martin Tobing
EditorMartin Tobing

Latest News Lampung

See More