Bandar Lampung Percepat Sanitary Landfill, Pakai Geomembran

- Pemerintah Kota Bandar Lampung mempercepat penerapan sistem sanitary landfill di TPA Bakung dengan pengadaan geomembran yang ditargetkan mulai digunakan pada tahun 2026.
- TPA Bakung masih mampu menampung sekitar 800 ton sampah per hari, dengan area tambahan dan akses jalan rigid beton yang sudah diperbaiki untuk mendukung operasional.
- DLH memperketat pencegahan kebakaran di TPA Bakung serta menyiapkan ground tank sebagai cadangan air, sambil menunggu proyek pengelolaan sampah regional di Kota Baru memasuki tahap tender.
Bandar Lampung, IDN Times – Pemerintah Kota Bandar Lampung mulai mempercepat transformasi pengelolaan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Bakung.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandar Lampung, Budi Ardianto, mengatakan salah satu langkah yang dilakukan yakni mengadakan geomembran sebagai bagian dari penerapan sistem sanitary landfill untuk mengakhiri praktik open dumping.
"Pengadaan geomembran saat ini telah memasuki tahap pengadaan dan ditargetkan mulai dimanfaatkan pada 2026," katanya, Kamis (9/7/2026).
1. Geomembran mendukung sanitary landfill

Budi menjelaskan, geomembran merupakan lapisan kedap yang berfungsi sebagai alas penanganan sampah sehingga pengelolaan di TPA menjadi lebih ramah lingkungan.
"Untuk sanitary landfill ini kita sedang proses pembelian geomembran. Geomembran itu seperti terpal khusus untuk penanganan sampah. Tahun ini sudah masuk pengadaan dan mudah-mudahan sudah mulai digunakan," ujarnya.
Ia menambahkan, penerapan sistem sanitary landfill menjadi salah satu langkah yang dilakukan pemerintah daerah untuk meningkatkan tata kelola sampah sekaligus memenuhi ketentuan penghentian sistem open dumping di TPA.
2. 800 ton sampah per hari

Di tengah proses pembenahan tersebut, DLH memastikan kapasitas TPA Bakung masih mencukupi untuk menerima sampah yang setiap hari masuk dari berbagai wilayah di Bandar Lampung.
Menurut Budi, area di bagian belakang TPA masih tersedia sebagai lokasi penempatan sampah.
Selain itu, akses jalan di dalam kawasan TPA juga telah diperbaiki menggunakan rigid beton sehingga memudahkan operasional kendaraan pengangkut sampah.
"Area di belakang TPA Bakung masih tersedia. Sekarang juga kondisi jalannya sudah diperbaiki dengan rigid beton sehingga akses di dalam TPA jauh lebih baik," ujarnya.
Ia menambahkan, volume sampah yang masuk ke TPA Bakung hingga saat ini mencapai sekitar 800 ton per hari.
3. DLH perketat pencegahan kebakaran dan tunggu proyek pengolahan sampah

Selain pembenahan sistem pembuangan sampah, DLH juga memperketat langkah antisipasi kebakaran di kawasan TPA Bakung. Pemulung diminta tidak merokok maupun melakukan aktivitas yang berpotensi memicu api di area pembuangan sampah.
"Seharinya masih 800 ton sampah yang dibuang ke TPA. Namun kita tegas pemulung di sana tidak diperbolehkan merokok maupun melakukan aktivitas yang berpotensi memicu api di area pembuangan sampah," tegas Budi.
Sebagai langkah mitigasi, pemerintah juga menyiapkan fasilitas pendukung berupa ground tank yang akan menjadi cadangan sumber air saat terjadi kondisi darurat.
Di sisi lain, Budi menyampaikan proyek pembangunan fasilitas pengelolaan sampah regional di kawasan Kota Baru, Lampung Selatan, yang didukung pendanaan pemerintah pusat juga terus berproses.
"Saat ini proyek tersebut telah memasuki tahap tender setelah penandatanganan MoU," tuturnya.




















