Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Bermodal Ponsel, Mahasiswi Unila Sabet Juara Lomba Internasional

Bermodal Ponsel, Mahasiswi Unila Sabet Juara Lomba Internasional
Siti Sa'diyah, mahasiswi Pendidikan Bahasa Prancis angkatan 2024 Universitas Lampung juara 3 dalam lomba video kreatif tingkat internasional (IDN Times/Istimewa)
Intinya Sih
  • Siti Sa’diyah, mahasiswi Unila, meraih Juara 3 lomba video kreatif internasional berkat video edukasi tentang pemanfaatan AI sebagai teman belajar bahasa asing.
  • Dengan hanya bermodal ponsel dan dukungan teman, Siti menghadapi kendala memori serta pencahayaan terbatas namun tetap berhasil menyelesaikan video dalam dua hari.
  • Kompetisi ini menjadi wadah bagi Siti mengasah kreativitas, mengembangkan kemampuan komunikasi digital, dan menantang diri untuk terus belajar meski dengan fasilitas sederhana.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Bandar Lampung , IDN Times - Tak butuh peralatan canggih untuk mencetak prestasi. Siti Sa'diyah, mahasiswi Pendidikan Bahasa Prancis angkatan 2024 Universitas Lampung (Unila), membuktikannya lewat video edukasi mengantarkannya meraih Juara 3 lomba video kreatif tingkat internasional.

Kompetisi tersebut menantang peserta membuat konten tentang pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran bahasa asing. Dari tema itu, Siti memilih mengangkat kecerdasan buatan (AI) sebagai teman belajar bahasa asing, topik yang menurutnya semakin dekat dengan kehidupan pelajar dan mahasiswa saat ini.

1. AI bukan pengganti guru

ilustrasi smartphone dengan aplikasi AI (pexels.com/Sanket Mishra)
ilustrasi smartphone dengan aplikasi AI (pexels.com/Sanket Mishra)

Lewat videonya, Siti menunjukkan bagaimana AI dapat dimanfaatkan untuk melatih pengucapan, memperkaya kosakata, hingga mendukung proses belajar mandiri. Namun, ia menegaskan teknologi tidak bisa menggantikan peran guru maupun dosen dalam proses pembelajaran.

"Menurut saya, AI itu bukan pengganti guru, tetapi teman belajar. Guru tetap punya peran penting karena tidak hanya mengajar, tetapi juga membimbing, memotivasi, dan memahami kebutuhan siswa secara langsung," ujarnya.

Siti menceritakan, ide video tersebut lahir dari pengamatannya terhadap perkembangan teknologi di dunia pendidikan. Ia menyusun alur cerita, menulis naskah, hingga menentukan pesan yang ingin disampaikan agar mudah dipahami penonton.

Menariknya, video yang membawanya meraih prestasi internasional itu diselesaikan dalam waktu relatif singkat. Siti hanya membutuhkan sekitar dua hari untuk proses produksi hingga pengeditan

2. Kapasitas ponsel tak memadai jadi kendala saat proses pengambilan gambar

ilustrasi seseorang yang sedang menggunakan aplikasi produktivitas di smartphone (pexels.com/Airam Dato-on)
ilustrasi seseorang yang sedang menggunakan aplikasi produktivitas di smartphone (pexels.com/Airam Dato-on)

Menurutnya, di balik hasil tersebut, ada sejumlah kendala harus dihadapi. Kapasitas memori ponsel terbatas dan pencahayaan seadanya sempat menjadi tantangan selama proses pengambilan gambar.

Namun, ia memilih memanfaatkan fasilitas yang tersedia daripada menjadikan keterbatasan itu sebagai alasan untuk berhenti.

"File yang tidak diperlukan dihapus untuk menambah ruang penyimpanan, sementara pencahayaan sekitar dimaksimalkan agar kualitas visual tetap nyaman ditonton. Dukungan teman-temannya saat proses produksi juga membantu pengerjaan video berjalan lebih lancar," jelasnya.

Siti mengaku tak menyangka videonya mampu bersaing hingga tingkat internasional. Baginya, penghargaan tersebut menjadi bukti proses dan usaha yang dijalani dengan sungguh-sungguh bisa membuahkan hasil.

3. Jadi ajang mengasah kreativitas sekaligus menantang diri mencoba hal baru

ilustrasi orang mengoperasikan kamera ponsel (pexels.com/Kaique Rocha)
ilustrasi orang mengoperasikan kamera ponsel (pexels.com/Kaique Rocha)

Selain dukungan dari dosen, pengalaman sebagai Ketua Divisi Media dan Informasi Ikatan Mahasiswa Bahasa Prancis turut mendorongnya mengembangkan kemampuan di bidang media dan komunikasi digital. Kompetisi ini menjadi ruang baginya untuk mengasah kreativitas sekaligus menantang diri mencoba hal baru.

Menurut Siti, pengalaman mengikuti lomba ini memberinya banyak pelajaran. Mulai dari menyusun ide secara terstruktur, mengelola waktu, hingga meningkatkan kemampuan komunikasi dan berpikir kreatif.

Ia pun berpesan kepada mahasiswa lain agar tidak ragu mengikuti berbagai kompetisi meski memiliki keterbatasan fasilitas. Menurutnya, keberanian untuk memulai sering kali menjadi langkah terpenting menuju sebuah prestasi.

"Jangan takut mencoba dan jangan minder dengan keterbatasan yang dimiliki. Mulai saja dulu dari hal kecil, manfaatkan apa yang ada, dan terus belajar dari proses," pesannya.

Share Article
Topics
Editorial Team
Martin Tobing
EditorMartin Tobing

Latest News Lampung

See More