Energi Bersih Bisa jadi Eksploitasi Baru, Ini Kata Akademisi Itera

- Forum Green Students Movement di Lampung mempertemukan 25 mahasiswa untuk membahas transisi energi bersih dan keadilan ekologis secara kritis dan mendalam.
- Dosen Itera, Rinda Gusvita, menyoroti dilema negara antara mengejar pertumbuhan industri atau melakukan dekarbonisasi total demi keadilan ekologis.
- Peserta GSM menyusun rencana aksi satu bulan guna mendorong kebijakan energi yang adil dan tidak sekadar ramah lingkungan di atas kertas.
Bandar Lampung, IDN Times - Transisi energi bersih sering terdengar seperti kabar baik. Tapi dibalik jargon “ramah lingkungan”, selalu ada pertanyaan yang lebih tajam: siapa yang benar-benar diuntungkan, dan siapa yang justru harus menanggung dampaknya?.
Isu itulah yang coba dibedah dalam Green Students Movement (GSM) yang digelar Walhi Lampung di Kemiling, Bandar Lampung.
Program bertema “Gerakan Orang Muda untuk Energi Bersih dan Keadilan Ekologis” ini mempertemukan 25 mahasiswa terpilih dari lebih 300 pendaftar, yang datang dari berbagai daerah di Lampung dan sekitarnya. Bukan sekadar berdiskusi, tapi untuk membangun cara pandang baru soal krisis iklim, energi bersih, dan keadilan ekologis.
1. Negara sering berada di posisi dilematis

Dalam forum tersebut, dosen Teknik Industri Itera, Rinda Gusvita, mengajak peserta melihat persoalan perubahan iklim dari sisi yang lebih kompleks. Bukan sekadar bencana alam, tapi juga arena tarik-menarik kepentingan.
Menurutnya, negara sering berada di posisi dilematis antara mengejar pertumbuhan industri jangka pendek atau mengambil langkah tegas menuju dekarbonisasi.
“Negara seringkali berada di persimpangan antara mengejar target pembangunan industri atau melakukan dekarbonisasi total. Seorang environmentalis tidak hanya dituntut kritis terhadap kebijakan, tetapi juga harus mampu melihat realitas di lapangan dan mengambil posisi tegas dalam mengawal keadilan ekologis,” kata Rinda, Selasa (29/4/2026).
2. Pentingnya generasi muda yang kritis

Rinda menekankan, transisi energi global dari fosil ke energi terbarukan tidak bisa dianggap sekadar urusan teknologi. Dibalik narasi “energi hijau”, masih ada potensi pendekatan ekstraktif yang berisiko merugikan masyarakat lokal.
Karena itu, ia menilai generasi muda perlu lebih kritis agar transisi energi tidak sekadar jadi label baru bagi komoditas ekonomi.
“Di satu sisi, kita membutuhkan energi bersih untuk menekan laju perubahan iklim. Namun di sisi lain, proses transisi ini kerap masih menggunakan pendekatan ekstraktif yang merugikan masyarakat lokal. Di sinilah peran environmentalis muda untuk bersikap kritis: transisi energi harus adil, bukan sekadar membuka komoditas bisnis baru,” ujarnya.
3. Dorong kebijakan lebih adil, bukan hanya bersih di atas kertas

Selama tiga hari pelaksanaan, GSM bukan hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga tempat peserta memperdalam isu lingkungan, hak asasi manusia, hingga membaca arah kebijakan energi dari perspektif politik global. Di akhir kegiatan, para peserta menyusun rencana tindak lanjut berupa program yang akan dijalankan selama satu bulan ke depan.
"Lewat gerakan ini, kami berharap mahasiswa tak berhenti sebagai penonton isu krisis iklim, tapi mulai membangun langkah nyata untuk mendorong kebijakan yang lebih adil, bukan hanya bersih di atas kertas," imbuh Rinda.
















