Mahasiswa UBL Juara 3 Dunia Kompetisi AI Internasional di Tiongkok

- Tim PROTECTA dari Universitas Bandar Lampung meraih Juara 3 Dunia di Global AI Scenario Innovation Competition 2026 di Tiongkok berkat inovasi sistem deteksi kebakaran berbasis AI dan IoT.
- Sistem PROTECTA mampu mendeteksi potensi kebakaran otomatis, mengirim peringatan real-time, serta menganalisis data untuk memberikan rekomendasi pencegahan agar risiko kebakaran dapat diminimalkan.
- Rektor UBL menyebut prestasi ini bukti kemampuan mahasiswa Indonesia bersaing global dan berharap capaian tersebut menginspirasi mahasiswa lain memperkuat riset serta inovasi teknologi bermanfaat bagi masyarakat.
Bandar Lampung, IDN Times - Mahasiswa Universitas Bandar Lampung (UBL) menorehkan prestasi membanggakan di kancah internasional. Tim PROTECTA beranggotakan Surya Pratama Januarvi, Muhammad Ilham Alparsy, dan Praise Otniel Beethoven meraih Third Prize atau Juara 3 Dunia dalam ajang Global AI Scenario Innovation Competition (GAISIC) 2026 diselenggarakan di Guangzhou Huashang College, Tiongkok, pada April 2026.
Mereka meraih penghargaan tersebut setelah melalui proses penjurian ketat dengan menghadirkan inovasi sistem deteksi dan mitigasi kebakaran berbasis Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT).
1. Sistem cerdas mampu mendeteksi potensi kebakaran otomatis

Dalam kompetisi tersebut, Tim PROTECTA memperkenalkan sistem cerdas yang mampu mendeteksi potensi kebakaran secara otomatis melalui identifikasi api, asap, dan peningkatan suhu. Sistem ini juga dirancang untuk mengirimkan peringatan secara real-time serta menampilkan informasi lokasi kejadian guna mempercepat proses penanganan.
Perwakilan Tim PROTECTA, Muhammad Ilham Alparsy, mengatakan inovasi tersebut berangkat dari persoalan keterlambatan penanganan kebakaran yang masih kerap terjadi di masyarakat. Menurutnya, lambatnya proses pelaporan dan kurang akuratnya informasi lokasi kejadian dapat memperbesar risiko kerugian, baik secara materi maupun keselamatan jiwa.
“Dalam situasi kebakaran, setiap menit sangat berharga. Karena itu, kami mengembangkan PROTECTA sebagai sistem yang mampu mendeteksi potensi kebakaran secara otomatis dan mengirimkan informasi secara real-time sehingga respons dapat dilakukan lebih cepat,” ujar mahasiswa prodi Infromatika UBL ini, Senin (15/6/2026).
2. Dilengkapi kemampuan analisis berbasis data

Tidak hanya berfungsi sebagai sistem peringatan dini, PROTECTA juga dilengkapi kemampuan analisis berbasis data. Melalui teknologi AI, sistem ini dapat membaca pola risiko dari data sensor, memberikan peringatan dini, sekaligus merekomendasikan langkah pencegahan agar potensi kebakaran dapat diminimalkan sejak awal.
“Kami tidak hanya ingin membuat sistem alarm, tetapi menghadirkan solusi yang dapat membantu pengguna memahami risiko dan mengambil tindakan pencegahan sebelum kejadian terjadi,” kata Ilham.
3. Dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya

Rektor UBL, M Yusuf Barusman menyambut baik prestasi tersebut. Ia menilai, capaian Tim PROTECTA sejalan dengan komitmen UBL dalam mendorong mahasiswa untuk mengembangkan riset, kreativitas, dan inovasi berbasis kebutuhan masyarakat serta perkembangan teknologi global.
“Prestasi ini menjadi kebanggaan bagi Universitas Bandar Lampung dan Indonesia. Capaian ini membuktikan bahwa mahasiswa UBL memiliki kemampuan untuk bersaing di tingkat internasional melalui karya inovatif yang relevan dengan kebutuhan masyarakat,” ujar Yusuf.
Ia berharap, prestasi tersebut dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus memperkuat budaya riset, keberanian berinovasi, serta kemampuan menghasilkan solusi teknologi yang tidak hanya kompetitif di tingkat global, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
4. Prestasi tersebut menjadi capaian penting bagi UBL dan Indonesia

Keberhasilan Tim PROTECTA menembus tiga besar dunia pada GAISIC 2026 menjadi bukti mahasiswa Indonesia memiliki daya saing dalam pengembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan. Capaian ini sekaligus menunjukkan bahwa inovasi mahasiswa UBL mampu menjawab persoalan nyata masyarakat melalui pendekatan teknologi yang aplikatif, solutif, dan berdampak.
Prestasi tersebut menjadi capaian penting bagi UBL dan Indonesia. Pasalnya, GAISIC 2026 diikuti 384 tim dari lebih dari 20 negara, termasuk negara-negara dengan ekosistem teknologi maju seperti Jepang, Tiongkok, Amerika Serikat, dan Kanada. Di tengah persaingan global yang ketat, Tim PROTECTA UBL mampu menembus tiga besar dunia melalui inovasi berbasis kecerdasan buatan.


















