Teknik Kimia Itera Bahas PSEL, Peluang Sampah jadi Energi Listrik

- Program Studi Teknik Kimia Itera menggelar kuliah tamu membahas konsep waste to energy sebagai solusi ganda untuk masalah sampah dan kebutuhan energi di Indonesia.
- Para narasumber menekankan pentingnya sinergi lintas sektor, kesiapan infrastruktur, serta dukungan kebijakan daerah agar proyek PSEL dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.
- Kegiatan ini mendorong mahasiswa memahami keterkaitan teori dengan persoalan nyata, sekaligus menumbuhkan pandangan bahwa pengelolaan sampah bisa menjadi peluang inovasi energi bersih.
Lampung Selatan, IDN Times - Masalah sampah di Indonesia kerap berhenti di tempat yang sama, menumpuk, dipindahkan, lalu kembali menumpuk. Di sisi lain, kebutuhan energi terus meningkat dan mendorong pemerintah mencari sumber alternatif yang lebih ramah lingkungan.
Di tengah dua persoalan itu, konsep waste to energy mulai dilirik sebagai solusi yang dianggap bisa “sekali jalan”, mengurangi sampah sekaligus menghasilkan listrik.
Isu tersebut menjadi bahasan utama dalam kuliah tamu bertajuk “Waste to Energy: Belajar dari Rencana Pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Indonesia” yang digelar Program Studi Teknik Kimia Institut Teknologi Sumatera (Itera).
Kegiatan ini menjadi ruang diskusi mahasiswa dan akademisi untuk melihat lebih dekat seperti apa peluang sekaligus tantangan pembangunan PSEL yang belakangan ramai dibicarakan di berbagai daerah.
1. Keberhasilan implementasi PSEL bergantung pada sinergi lintas sektor

Kuliah tamu ini menghadirkan dua narasumber, yakni Ni Nyoman Nepi Marlena dari Universitas Gadjah Mada dan Junaedi Rahmad dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Lampung. Lewat pemaparan keduanya, mahasiswa diajak memahami bahwa wacana pengolahan sampah menjadi energi listrik bukan sekadar gagasan modern, tetapi membutuhkan kesiapan yang serius dari banyak sisi.
Dalam pemaparannya, Ni Nyoman Nepi Marlena menjelaskan perkembangan rencana pembangunan PSEL di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk berbagai tantangan yang sering muncul dalam prosesnya. Ia menyoroti proyek PSEL bukan hanya urusan memilih teknologi pengolahan sampah, tetapi juga menuntut integrasi kuat antara aspek teknis dan kebijakan publik.
"Keberhasilan implementasi PSEL sangat bergantung pada sinergi lintas sektor, mulai dari perencanaan teknologi hingga dukungan regulasi yang konsisten," jelasnya.
2. Kebijakan daerah jadi faktor penting

Sementara itu, Junaedi Rahmad memaparkan pengalaman Pemerintah Provinsi Lampung dalam menyusun strategi pengelolaan sampah berbasis energi. Ia menekankan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi listrik tidak bisa berjalan hanya karena ada rencana di atas kertas.
Menurutnya, kesiapan infrastruktur, dukungan masyarakat, serta keberpihakan kebijakan daerah menjadi faktor penting agar proyek semacam ini benar-benar dapat terealisasi. Kuliah tamu ini diikuti mahasiswa, dosen, hingga praktisi di bidang teknik dan lingkungan.
Diskusi berlangsung interaktif, menunjukkan tingginya ketertarikan peserta terhadap isu energi terbarukan dan pengelolaan sampah. Banyak peserta aktif mengajukan pertanyaan seputar kesiapan teknologi, potensi dampak lingkungan, hingga peluang implementasi PSEL di Lampung.
3. Pentingnya mahasiswa melihat keterkaitan teori di kelas dengan persoalan nyata

Perwakilan dosen Teknik Kimia Itera, Mustapa, mengatakan, kuliah tamu ini menjadi bagian dari upaya prodi untuk memperkuat pembelajaran yang lebih kontekstual. Ia menilai, mahasiswa perlu dibiasakan melihat keterkaitan antara teori di kelas dengan persoalan nyata yang sedang dihadapi masyarakat.
Menurutnya, konsep waste to energy adalah pendekatan strategis yang bisa menjawab persoalan sampah sekaligus mendukung transisi menuju energi bersih di Indonesia.
"Melalui kegiatan ini, Program Studi Teknik Kimia Itera kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak lulusan yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga adaptif terhadap tantangan industri dan lingkungan," ujarnya.
Ia berharap, penguatan wawasan terkait waste to energy diharapkan dapat membuka cara pandang mahasiswa bahwa persoalan sampah bukan sekadar beban, tetapi juga peluang inovasi yang bisa dikembangkan menjadi solusi berkelanjutan di masa depan.

















