Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Daerah di Lampung Ternyata Tingkat Minat Baca Terendah
ilustrasi membacakan cerita anak (pexels.com/Ron Lach)
  • Data BPS Lampung menunjukkan lima daerah dengan tingkat kegemaran membaca terendah, menandakan pembangunan literasi di provinsi ini belum merata dan masih menghadapi tantangan serius.
  • Kota Metro tercatat memiliki nilai TGM terendah di Lampung, disusul Lampung Tengah, Bandar Lampung, Pesawaran, dan Tulang Bawang Barat dengan skor rata-rata di bawah 58.
  • Faktor geografis, akses terbatas, serta budaya membaca yang lemah menjadi penyebab utama rendahnya minat baca; pemerintah dan masyarakat perlu berkolaborasi memperkuat ekosistem literasi secara berkelanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandar Lampung, IDN Times - Literasi jadi salah satu indikator penting dalam melihat kualitas sumber daya manusia (SDM) di suatu daerah. Tingkat kegemaran membaca tinggi biasanya berbanding lurus dengan kemajuan pendidikan, kemampuan berpikir kritis, hingga daya saing masyarakat di era modern.

Namun, data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung menunjukkan masih adanya ketimpangan tingkat kegemaran membaca di berbagai wilayah. Hal ini menandakan pembangunan literasi belum merata sepenuhnya.

Penasaran daerah mana saja masih memiliki tingkat kegemaran membaca paling rendah? Berikut IDN Times merangkum 5 daerah di Lampung dengan tingkat kegemaran membaca terendah.

1. Kabupaten Tulang Bawang Barat

ilustrasi membacakan cerita (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Kabupaten Tulang Bawang Barat memiliki luas wilayah sekitar 1.201 km² dengan kondisi geografis berupa dataran rendah didominasi kawasan permukiman dan pertanian. Jumlah penduduknya berkisar sekitar 300 ribu jiwa.

Nilai TGM di daerah ini terdiri dari TGM-Pra Membaca sebesar 53,55, TGM-Saat Membaca 57,53, dan TGM-Pasca Membaca 60,02, sehingga totalnya mencapai 57,86. Kabupaten ini berada di posisi kelima terendah di Provinsi Lampung.

Meski tidak termasuk wilayah terluas, rendahnya minat baca menunjukkan perlunya peningkatan fasilitas literasi dan edukasi masyarakat. Jika tidak segera diintervensi, hal ini dapat berdampak pada lambatnya peningkatan kualitas pendidikan serta daya saing masyarakat di masa depan.

2. Kabupaten Pesawaran

ilustrasi membaca (freepik.com/freepik)

Kabupaten Pesawaran memiliki luas wilayah sekitar 1.173 km² dengan karakter geografis didominasi wilayah pesisir dan perbukitan. Kondisi ini membuat akses antarwilayah di beberapa daerah menjadi cukup menantang. Jumlah penduduknya sekitar 477 ribu jiwa.

Data BPS menunjukkan TGM-Pra Membaca sebesar 52,57, TGM-Saat Membaca 56,84, dan TGM-Pasca Membaca 60,15, sehingga totalnya mencapai 57,42. Kabupaten Pesawaran berada di posisi keempat terendah di Lampung.

Tantangan geografis menjadi salah satu faktor yang memengaruhi rendahnya tingkat literasi. Jika kondisi ini terus berlanjut, potensi daerah, terutama di sektor pariwisata dan kelautan bisa kurang optimal karena keterbatasan kualitas SDM berbasis pengetahuan.

3. Kota Bandar Lampung

Ilustrasi membaca buku. (pexels.com/Mikhail Nilov)

Kota Bandar Lampung memiliki luas sekitar 197,22 km² dengan kondisi geografis cukup beragam, mulai dari wilayah pesisir hingga perbukitan. Sebagai ibu kota provinsi, kota ini menjadi pusat pemerintahan, ekonomi, dan pendidikan dengan jumlah penduduk lebih dari 1 juta jiwa.

Berdasarkan data BPS, TGM-Pra Membaca di Bandar Lampung sebesar 52,75, TGM-Saat Membaca 56,34, dan TGM-Pasca Membaca 60,58, dengan total tingkat kegemaran membaca sebesar 57,34. Kota ini menempati posisi ketiga terendah di Lampung.

Rendahnya minat baca di pusat aktivitas provinsi menunjukkan akses saja tidak cukup. Jika budaya membaca tidak diperkuat, maka pembangunan berbasis pengetahuan dan inovasi bisa terhambat, terutama di tengah tuntutan era digital saat ini.

4. Kabupaten Lampung Tengah

Ilustrasi membaca berita di koran (pexels.com/Tim Samuel)

Kabupaten Lampung Tengah merupakan wilayah terluas di Provinsi Lampung dengan luas sekitar 4.545 km². Secara geografis, daerah ini didominasi dataran rendah dengan aktivitas utama di sektor pertanian dan perkebunan.

Jumlah penduduknya juga sangat besar, mencapai lebih dari 1,5 juta jiwa, menjadikannya salah satu daerah dengan populasi terbanyak. Nilai TGM di Lampung Tengah terdiri dari TGM-Pra Membaca 53,14, TGM-Saat Membaca 56,82, dan TGM-Pasca Membaca 58,69, sehingga totalnya mencapai 56,98. Kabupaten ini berada di posisi kedua terendah di Lampung.

Wilayah luas dan jumlah penduduk besar, tantangan utama terletak pada pemerataan akses literasi seperti perpustakaan, bahan bacaan, dan fasilitas pendidikan. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat memperlebar kesenjangan kualitas SDM antarwilayah di dalam kabupaten itu sendiri.

5. Kota Metro

ilustrasi membaca buku (pexels.com/@Andrea Piacquadio)

Kota Metro memiliki luas wilayah hanya sekitar 68,74 km² dengan kondisi geografis berupa kawasan perkotaan relatif datar. Kota ini dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan di Lampung dengan fasilitas pendidikan cukup lengkap.

Jumlah penduduknya mencapai sekitar 173 ribu jiwa, dengan karakter masyarakat heterogen dan dinamis. Berdasarkan data BPS, Kota Metro mencatat TGM Pra Membaca sebesar 52,10, TGM, baik saat Membaca 55,02, dan TGM pasca Membaca 59,94.

Jika diakumulasikan, total tingkat kegemaran membaca di daerah ini berada di angka 56,35. Angka tersebut menempatkan Kota Metro di posisi terendah di Provinsi Lampung.

Kondisi ini cukup kontras mengingat Metro dikenal sebagai kota pendidikan. Jika tidak segera dibenahi, rendahnya minat baca ini berpotensi menurunkan kualitas literasi generasi muda serta melemahkan peran kota sebagai pusat pengembangan SDM berbasis pengetahuan.

Editorial Team