Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IDN Ecosystem
IDN Signature Events
For
You

142 Tahun Letusan Krakatau, Itera: Pentingnya Riset dan Mitigasi

Fakultas Sains Itera Peringati 142 Tahun Letusan Krakatau dengan Gelar Nobar Film Krakatoa: The Last Days
Fakultas Sains Itera Peringati 142 Tahun Letusan Krakatau dengan Gelar Nobar Film Krakatoa: The Last Days (Dok/Humas Itera)
Intinya sih...
  • Pemutaran film BBC jadi pintu masuk diskusi ilmiah
  • Dekan Fakultas Sains tekankan pentingnya riset Krakatau
  • Erupsi gunung api bisa picu bencana global
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Lampung Selatan, IDN Times – Fakultas Sains Institut Teknologi Sumatera (Itera) menggelar kegiatan bertajuk Itera Scientific Expedition and Exploration (I-SEE) Krakatau 2025. Agenda ini resmi dibuka oleh Dekan Fakultas Sains Ikah Ning Prasetiowati Permanasari, tepat pada peringatan 142 tahun peristiwa bersejarah letusan Gunung Krakatau. Kegiatan dipusatkan di Amphitheater Embung C Itera dengan rangkaian acara pemutaran film, diskusi ilmiah, hingga penyampaian gagasan penting tentang riset dan mitigasi bencana.

1. Pemutaran film BBC jadi pintu masuk diskusi ilmiah

Fakultas Sains Itera Peringati 142 Tahun Letusan Krakatau dengan Gelar Nobar Film Krakatoa: The Last Days
Fakultas Sains Itera Peringati 142 Tahun Letusan Krakatau dengan Gelar Nobar Film Krakatoa: The Last Days (Dok/Humas Itera)

Kegiatan I-SEE Krakatau 2025 dibuka dengan pemutaran film dokumenter berjudul Krakatoa: The Last Days produksi BBC. Film tersebut menyoroti pentingnya memahami peran setiap unsur kehidupan di bumi, dengan pesan kuat “tidak ada di bumi ini yang tumbuh tanpa ada fungsinya.”

Melalui tayangan visual, para peserta diajak menyelami kembali dahsyatnya letusan Gunung Krakatau serta keterkaitannya dengan fenomena alam dan dampaknya bagi kehidupan. Pemutaran film ini sekaligus menjadi pintu masuk menuju sesi diskusi ilmiah.

Hadir sebagai narasumber utama, Koordinator Program Studi Teknik Geologi, Angga Jati Widiatama dan dosen Biologi. Keduanya memberikan penjelasan mengenai proses geologi hingga dampak ekologis yang ditimbulkan dari letusan gunung berapi.

Diskusi berlangsung interaktif, ditandai dengan pertanyaan kritis dari mahasiswa, mulai dari cara memperkirakan umur lempeng bumi hingga alasan Papua tidak memiliki gunung berapi. Narasumber kemudian menjelaskan bahwa Papua tidak berada di jalur Cincin Api Pasifik, melainkan termasuk dalam kategori pegunungan non-vulkanik.

2 Dekan Fakultas Sains tekankan pentingnya riset Krakatau

Fakultas Sains Itera Peringati 142 Tahun Letusan Krakatau dengan Gelar Nobar Film Krakatoa: The Last Days
Fakultas Sains Itera Peringati 142 Tahun Letusan Krakatau dengan Gelar Nobar Film Krakatoa: The Last Days (Dok/Humas Itera)

Dekan Fakultas Sains, Ikah Ning Prasetiowati Permanasari, menekankan pentingnya riset dan pengelolaan data terkait Gunung Krakatau. Ia menyampaikan pengalamannya bersama wakil rektor Itera saat kunjungan ke Kagoshima, Jepang, wilayah dengan Gunung Sakurajima yang masih aktif menjadi inspirasi untuk lebih serius mengelola potensi riset Krakatau.

“Di Jepang, infrastruktur dan laboratorium penelitian sudah mendukung pemantauan gunung api secara lengkap, termasuk dukungan dari Universitas Tokyo. Sedangkan kita di Lampung memiliki Gunung Krakatau, tetapi belum sepenuhnya melakukan hal serupa,” ujar Ikah.

Melalui kegiatan ekspedisi Krakatau ini, Fakultas Sains tengah berupaya membangun bank data yang bermanfaat bagi ilmu pengetahuan sekaligus mendukung mitigasi bencana. Menurutnya, kesadaran masyarakat terhadap bencana harus dibarengi dengan kemampuan merespons dan melakukan langkah mitigasi secara tepat.

3. Erupsi gunung api bisa picu bencana global

Fakultas Sains Itera Peringati 142 Tahun Letusan Krakatau dengan Gelar Nobar Film Krakatoa: The Last Days
Fakultas Sains Itera Peringati 142 Tahun Letusan Krakatau dengan Gelar Nobar Film Krakatoa: The Last Days (Dok/Humas Itera)

Koordinator Prodi Teknik Geologi, Angga Jati Widiatama, menyoroti potensi dampak global dari letusan gunung berapi. Ia menjelaskan, erupsi besar yang terjadi di gunung api di kawasan khatulistiwa berpotensi menimbulkan bencana global karena penyebaran material vulkanik yang lebih luas.

Ia juga menyinggung catatan leluhur yang telah menggambarkan fenomena yang terjadi dari letusan Gunung Krakatau. Diskusi berjalan hidup dengan berbagai pertanyaan dari peserta.

Salah satu mahasiswa Fisika menanyakan alasan Papua tidak memiliki gunung berapi. Menjawab hal itu, Angga menjelaskan secara geologi, Papua tidak berada pada jalur Cincin Api Pasifik yang menjadi rumah bagi ratusan gunung berapi aktif.

Sebaliknya, wilayah Papua dikategorikan sebagai pegunungan nonvulkanik. Penjelasan tersebut memperkaya wawasan mahasiswa tentang keragaman geologi di Indonesia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Martin Tobing
EditorMartin Tobing
Follow Us