Sakral dan Meriah, Penobatan Putra Mahkota Keratuan Darah Putih

- Prosesi adat langka digelar di Desa Kuripan, Lampung Selatan setelah 27 tahun absen.
- Gusti Putra Aji dinobatkan sebagai Raden Imba Kesuma Ratu V dan menikah dengan Wulan Rezky Amalya.
- Acara ini menunjukkan keberlangsungan tradisi adat dan relevansinya di tengah modernisasi.
Lampung Selatan, IDN Times – Momen sakral dan bersejarah terjadi di Desa Kuripan, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan. Keratuan Darah Putih menggelar prosesi adat Gawi Nyambai Bujenong Jakhu Makhga untuk menobatkan penerus adat.
Tak hanya menjadi simbol pelestarian budaya, acara ini juga menjadi sorotan publik karena bukan hanya seremoni budaya, tapi juga penanda penting regenerasi kepemimpinan adat di Lampung Selatan.
1. Penobatan sekaligus pernikahan, perpaduan adat dan kehidupan pribadi

Gusti Putra Aji, resmi dinobatkan sebagai Raden Imba Kesuma Ratu V, meneruskan garis kepemimpinan Keratuan Darah Putih. Uniknya, momen penobatan ini juga dirangkaikan dengan resepsi pernikahannya dengan Wulan Rezky Amalya, yang sekaligus dikukuhkan sebagai Khatu Khunjungan.
Prosesi ini menunjukkan bagaimana adat dan kehidupan pribadi dapat berjalan beriringan secara sakral dan penuh makna. Di tengah maraknya modernisasi, prosesi ini menjadi pengingat bahwa tradisi tetap hidup dan relevan, bahkan dalam momen kehidupan penting seperti pernikahan.
2. Prosesi adat langka yang terakhir digelar 1998

Rangkaian Gawi Adat berlangsung sejak 7 Mei 2025, diawali dengan Ngitai Maju atau persiapan internal adat. Puncaknya adalah prosesi Nyecup, penyerahan gelar dari Dalom Kesuma Ratu kepada putra sulungnya.
Salah satu tokoh adat, Sohari, warga Desa Kuripan yang menyandang gelar Raden Mas, mengatakan, acara ini adalah kewajiban adat. Ketika putra pertama dari seorang raja telah siap, ia harus diturunkan secara adat.
"Disinilah nilai-nilai warisan, identitas, dan penghormatan terhadap leluhur dikukuhkan kembali," ujar Sohari, Kamis (15/5/2025).
3. Periode istimewa penobatan putra mahkota di keratuan darah putih

Sohari menambahkan, bahwa perhelatan sakral tersebut menjadi momen langka yang menandai penobatan putra mahkota menjadi nahkoda baru di Keratuan Darah Putih. Bahkan penobatan ini menjadi momen langka yang tak terjadi setiap tahun.
“Saya terharu. Tahun depan belum tentu saya bisa menyaksikan lagi. Karena terakhir kali prosesi seperti ini digelar pada 1998. Gawi Adat merupakan warisan budaya yang harus terus dijaga," ucapnya.