Comscore Tracker

Inflasi Lampung Diprediksi Tetap Rendah, BI Gagas 5 Cara Antisipasi

Permintaan masyarakat belum sekuat kondisi sebelumnya

Bandar Lampung, IDN Times - Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Lampung periode September 2020 mengalami deflasi sebesar -0,22 persen (mtm). Itu  lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yaitu sebesar 0,37 persen (mtm) dan rata-rata inflasi September dalam tiga tahun terakhir yaitu sebesar -0,06 persen (mtm), sementara Nasional dan Sumatera masing-masing mengalami deflasi sebesar -0,05% (mtm).

Secara tahunan, inflasi Provinsi Lampung tercatat sebesar 1,35 persen (yoy), atau lebih rendah dibandingkan inflasi nasional di angka 1,42 persen (yoy). Namun, lebih tinggi daripada inflasi Sumatera yaitu sebesar 0,66 persen (yoy).

Secara spasial, dibandingkan 90 kota perhitungan inflasi nasional, inflasi Kota Bandar Lampung dan Kota Metro pada bulan September 2020 tergolong moderat dan masing-masing menempati urutan ke-72 dan ke-21.

Merujuk hal itu, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Lampung menilai, inflasi akan tetap rendah dalam rentang sasaran 3±1 persen Hal ini sejalan dengan permintaan masyarakat yang belum sekuat kondisi sebelumnya, meskipun telah memasuki periode kenormalan baru.

1. BI nilai ada beberapa risiko perlu dimitigasi

Inflasi Lampung Diprediksi Tetap Rendah, BI Gagas 5 Cara AntisipasiGoogle

Kepala Perwakilan BI Provinsi Lampung, Budiharto Setyawan, mengutarakan, komitmen pemerintah untuk menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi selama masa pandemi COVID-19 juga turut mengurangi tekanan inflasi. Namun demikian, terdapat beberapa risiko yang perlu dimitigasi.

Pertama, berlanjutnya kenaikan harga beras seiring berkurangnya hasil produksi pada periode tanam gadu. Kedua, risiko berlanjutnya kenaikan harga bawang putih seiring dengan berakhirnya relaksasi impor. Ketiga, risiko kenaikan harga minyak goreng yang disebabkan oleh kenaikan harga CPO secara nasional akibat produksi yang menurun baik di Indonesia dan Malaysia dan mulai meningkatnya permintaan masyarakat.

Keempat, risiko kenaikan harga cabai merah disebabkan kondisi cuaca yang kurang mendukung di beberapa sentra produksi. Kelima, penurunan harga yang terjadi pada beberapa komoditas akibat lemahnya permintaan perlu diantisipasi karena dapat mendorong dilakukannya pengurangan produksi.

“Hal ini dapat berimplikasi pada risiko meningkatnya tekanan inflasi seiring dengan berkurangnya pasokan pada periode mendatang,” papar Budiharto, Selasa (6/10/2020).

2. Lima cara pengendalian inflasi yang konkrit

Inflasi Lampung Diprediksi Tetap Rendah, BI Gagas 5 Cara AntisipasiIlustrasi inflasi. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Dalam rangka mengantisipasi beberapa risiko tekanan inflasi, perlu berbagai langkah pengendalian inflasi yang konkrit. Terutama untuk menjaga inflasi yang tetap rendah dan stabil.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Lampung, Budiharto Setyawan, mengatakan, langkah pertama adalah memastikan keterjangkauan harga. Caranya, melakukan pemantauan harga harian dan perbandingan harga dengan daerah lain melalui aplikasi Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (hargapangan.id), untuk melihat perkembangan harga yang terjadi dan melakukan intervensi kebijakan yang diperlukan.

Selain itu, perlu dilakukan upaya penyerapan komoditas yang mengalami deflasi cukup dalam melalui penyerapan oleh industri pengolah makanan atau pengolahan produk turunan dengan memberdayakan Kelompok Wanita Tani (KWT).  Beberapa program pemerintah terhadap koperasi dan UMKM terdampak COVID-19, khususnya di bidang pertanian, diharapkan dapat mendukung upaya stabilisasi harga. 

Langkah kedua, memastikan ketersediaan pasokan, khususnya mempersiapkan fase adaptasi kebiasaan baru. Aktivitas masyarakat yang meningkat secara bertahap pada fase ini, diperkirakan dapat menaikkan permintaan.

“Kondisi ini perlu diwaspadai dengan memastikan ketersediaan pasokan agar tidak meningkatkan tekanan kenaikan harga. Untuk itu, perlu dilakukan pendataan yang akurat oleh TPID dan Satgas Pangan terkait ketersediaan komoditas strategis,” jelas Budiharto.

Selain itu, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) provinsi/kabupaten/kota perlu meningkatkan intensitas koordinasi. Satu di antaranya, melalui Kerjasama Antar Daerah (KAD) dalam hal pemenuhan komoditas pangan strategis menghadapi risiko kenaikan harga.

Budiharto menyoroti Kota Bandar Lampung sebagai wilayah yang memiliki kontribusi besar pada inflasi Provinsi Lampung perlu mengupayakan KAD, khususnya untuk komoditas-komoditas utama penyumbang inflasi. Fokus lainnya adalah pengawalan dalam pemberian bantuan sosial bagi kelompok masyarakat yang rentan terdampak COVID-19 perlu ditingkatkan. Tidak hanya dari sisi daftar penerima bantuan melainkan juga mekanisme penyaluran dan ketersediaan pasokan komoditasnya agar tidak mendorong kenaikan harga.

Ketiga, memastikan kelancaran distribusi melalui TPID dan Satgas Pangan dengan cara melakukan koordinasi untuk memastikan kembali kecukupan pasokan dan kelancaran akses distribusi bahan pokok. Keempat, meningkatkan komunikasi efektif terkait ketersediaan pasokan, rencana pemenuhan pasokan, dan imbauan untuk berbelanja secara bijak yang perlu disampaikan oleh pemerintah daerah untuk menjaga ekspektasi positif bagi masyarakat dan menjaga stabilitas harga.

Baca Juga: Belanja Masyarakat Minim Picu Bandar Lampung Deflasi 0,26 Persen

3. Harga komoditas turun picu terjadinya deflasi September 2020

Inflasi Lampung Diprediksi Tetap Rendah, BI Gagas 5 Cara Antisipasifreepik.com

Dilihat dari sumbernya, deflasi periode September 2020 didorong penurunan harga beberapa komoditas antara lain petai, telur ayam ras, angkutan udara, bawang merah dan popok bayi sekali pakai atau diapers. Andil penurunan harga itu masing-masing sebesar -0,06 persen, -0,06 persen, -0,04 persen, -0,02 persen dan -0,02 persen.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Lampung, Budiharto Setyawan, menyampaikan, deflasi yang terjadi pada kelompok bahan makanan, khususnya petai, disebabkan turunnya permintaan. Harga telur ayam ras juga turun disebabkan peningkatan pasokan yang tidak dapat diserap secara maksimal di tengah permintaan masyarakat yang masih rendah.

“Peningkatan pasokan terjadi baik pada perusahaan pembibitan maupun peternak ayam layer. Sementara itu, penurunan harga bawang merah terjadi seiring dengan bertambahnya pasokan dari sentra produksi,” ujarnya.

Budiharto juga menyoroti penurunan tarif angkutan udara didorong maraknya promo tiket penerbangan yang diberikan oleh maskapai untuk meningkatkan penjualan. Harga popok bayi atau diapers juga turun dipengaruhi adanya potongan harga dari penjual.

4. Relaksasi impor bawang putih dari Tiongkok picu naiknya harga

Inflasi Lampung Diprediksi Tetap Rendah, BI Gagas 5 Cara Antisipasipixabay.com/stevepb

Deflasi yang terjadi periode September 2020 tertahan oleh inflasi yang terjadi pada sebagian komoditas. Di antaranya, bawang putih, tahu mentah, emas perhiasan, bahan bakar rumah tangga dan mi kering instan dengan andil masing-masing sebesar 0,01 persen.

Naiknya harga bawang putih merupakan dampak dari berakhirnya relaksasi impor bawang putih 31 Mei 2020. Itu juga seiring pasokan yang berkurang seiring dengan berakhirnya panen musim panas di Tiongkok. Diketahui, mayoritas pasokan bawang putih di Lampung berasal dari Negeri Tirai Bambu.

Selain itu, harga tahu mentah naik dipengaruhi kenaikan harga bahan baku. Kenaikan pada harga bahan bakar rumah tangga disebabkan oleh meningkatnya permintaan masyarakat.

“Di sisi lain, berlanjutnya peningkatan harga emas perhiasan sejalan dengan naiknya harga komoditas emas dunia seiring meningkatnya permintaan masyarakat di tengah kekhawatiran pasar terkait kondisi perekonomian akibat COVID-19. Harga mie kering instan juga tercatat naik dipengaruhi oleh kenaikan harga distributor,” ujar Budiharto.

5. Harga komoditas pangan dan perkebunan naik dorong kenaikan penerimaan petani

Inflasi Lampung Diprediksi Tetap Rendah, BI Gagas 5 Cara Antisipasipxhere

Nilai Tukar Petani (NTP) September 2020 tercatat lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya. Meningkatnya harga beberapa komoditas pangan dan perkebunan mendorong kenaikan penerimaan petani sebesar 1,62 persen (mtm).

Di sisi lain, IHK perdesaan tercatat relatif rendah sebesar 0,17 persen (mtm). Sehingga kenaikan biaya yang dikeluarkan sebesar 0,16 persen (mtm).

Merujuk hal itu, NTP September 2020 tercatat naik 1,46% (mtm) dari 94,26 menjadi 95,63. Kenaikan khususnya pada subsektor tanaman perkebunan rakyat, hortikultura dan tanaman padi dan palawija.

Baca Juga: Bank Indonesia Nilai Pasar Ekspor UMKM Lampung Hadapi Tantangan

Topic:

  • Martin Tobing

Berita Terkini Lainnya