Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Daerah di Lampung Paling Sering Dilanda Bencana

5 Daerah di Lampung Paling Sering Dilanda Bencana
Ilustrasi bencana alam di Indonesia (Unsplash.com/ Iqro Rinaldi)
Intinya Sih
  • Sepanjang 2025, Lampung mencatat 153 kejadian bencana alam dengan dominasi banjir dan cuaca ekstrem akibat kondisi geografis beragam serta perubahan iklim.
  • Kota Bandar Lampung menjadi daerah paling rawan dengan 24 kejadian bencana, disusul Lampung Timur dan Lampung Selatan yang juga sering terdampak banjir.
  • Pemerintah daerah diimbau memperkuat mitigasi melalui perbaikan drainase, normalisasi sungai, pengendalian tata ruang, serta edukasi kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi bencana.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bandar Lampung, IDN Times - Lampung dikenal sebagai salah satu provinsi dengan kekayaan alam luar biasa lengkap. Mulai dari laut, hutan kawasan, Bukit Barisan, gunung, lembah, sungai, hingga danau, semuanya bisa ditemukan. Namun dibalik keindahan tersebut, Lampung juga dihadapkan pada risiko bencana alam cukup tinggi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung, tercatat sekitar 153 kejadian bencana alam terjadi sepanjang 2025. Jenisnya pun beragam, mulai dari gempa bumi, tanah longsor, banjir, hingga cuaca ekstrem cukup mendominasi.

Kondisi geografis beragam serta perubahan iklim menjadi faktor utama memicu tingginya intensitas bencana di berbagai wilayah. Dari data tersebut, berikut ini IDN Times merangkum 5 daerah di Lampung dengan jumlah bencana alam terbanyak sepanjang 2025.

1. Kabupaten Pesawaran

Ilustrasi bencana alam di Indonesia
Ilustrasi bencana alam di Indonesia (Unsplash.com/ Iqro Rinaldi)

Kabupaten Pesawaran memiliki karakter geografis cukup beragam, mulai dari wilayah pesisir, perbukitan, hingga kawasan hutan. Kondisi ini sebenarnya menjadi potensi besar dari sisi pariwisata, namun di sisi lain juga menyimpan kerentanan terhadap bencana alam, terutama dipicu oleh perubahan cuaca.

Berdasarkan data BPS, sepanjang 2025 terjadi 12 kejadian bencana alam di Pesawaran. Rinciannya terdiri dari sepuluh kejadian banjir dan dua kejadian cuaca ekstrem. Meski jumlahnya tidak sebanyak daerah lain, namun tetap menunjukkan adanya risiko perlu diantisipasi secara serius.

Alhasil, Pesawaran berada di peringkat kelima sebagai daerah dengan jumlah bencana terbanyak di Lampung.

2. Kabupaten Tulang Bawang

Ilustrasi bencana alam
Ilustrasi bencana alam. (pexels.com/Pok Rie)

Kabupaten Tulangbawang dikenal sebagai wilayah dengan bentang alam berupa rawa, sungai, dan dataran rendah luas. Kondisi ini menjadikannya sangat rentan terhadap banjir, terutama saat musim penghujan tiba dan debit air sungai meningkat drastis.

Sepanjang 2025, tercatat 17 kejadian bencana alam di Tulang Bawang. Rinciannya meliputi 14 kejadian banjir dan tiga kejadian cuaca ekstrem. Tingginya angka banjir menunjukkan persoalan tata kelola air masih menjadi tantangan utama di wilayah ini.

Tulangbawang menempati peringkat keempat dalam daftar daerah dengan jumlah bencana terbanyak di Lampung.

3. Kabupaten Lampung Selatan

Ilustrasi bencana alam di Indonesia
Ilustrasi bencana alam di Indonesia (Unsplash.com/ Iqro Rinaldi)

Kabupaten Lampung Selatan memiliki wilayah cukup beragam, mulai dari dataran rendah, kawasan pesisir, hingga perbukitan di beberapa titik. Letaknya berada di ujung selatan Pulau Sumatra serta berhadapan langsung dengan Selat Sunda membuat wilayah ini memiliki dinamika alam cukup tinggi.

Berdasarkan data BPS, sepanjang 2025 terjadi 20 kejadian bencana alam di Lampung Selatan. Rinciannya terdiri dari 15 kejadian banjir dan lima kejadian cuaca ekstrem.

Dominasi banjir menunjukkan bahwa daerah ini memiliki kerentanan tinggi terhadap curah hujan ekstrem serta kemungkinan buruknya sistem drainase di beberapa wilayah. Lampung Selatan berada di peringkat ketiga dalam daftar daerah dengan jumlah bencana terbanyak di Lampung.

4. Kabupaten Lampung Timur

ilustrasi bencana alam
ilustrasi bencana alam (pexels.com/Long Bà Mùi)

Kabupaten Lampung Timur merupakan salah satu wilayah terluas di Lampung didominasi oleh dataran rendah, kawasan pertanian, serta sebagian wilayah pesisir. Karakter geografis ini membuat Lampung Timur cukup rentan terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir, terlebih saat curah hujan tinggi dan sistem aliran air tidak mampu menampung debit yang meningkat.

Sepanjang 2025, tercatat 21 kejadian bencana alam di Lampung Timur. Seluruh kejadian tersebut didominasi oleh 14 kasus banjir dan tujuh kejadian cuaca ekstrem.

Tidak adanya catatan gempa bumi maupun longsor menunjukkan ancaman utama di wilayah ini lebih kepada faktor cuaca dan sistem tata air. Lampung Timur menempati peringkat kedua sebagai daerah dengan jumlah bencana terbanyak di Lampung.

5. Kota Bandar Lampung

ilustrasi bencana alam (Pexels.com/Wilson Malone)
ilustrasi bencana alam (Pexels.com/Wilson Malone)

Sebagai pusat pemerintahan dan aktivitas ekonomi di Lampung, Kota Bandar Lampung memiliki luas wilayah sekitar 197 km² dengan kondisi geografis cukup kompleks. Wilayah ini terdiri dari dataran rendah di kawasan perkotaan, perbukitan di beberapa sisi, serta wilayah pesisir langsung berbatasan dengan Teluk Lampung.

Kombinasi bentang alam ini membuat Bandar Lampung sangat rentan terhadap berbagai jenis bencana, terutama banjir dan tanah longsor saat intensitas hujan meningkat. Berdasarkan data BPS, sepanjang 2025 tercatat 24 kejadian bencana alam di Kota Bandar Lampung.

Rinciannya meliputi dua kejadian tanah longsor, 16 kejadian banjir, dan enam kejadian cuaca ekstrem. Tingginya angka banjir menunjukkan bahwa sistem drainase perkotaan masih menjadi tantangan besar, apalagi dengan pesatnya pembangunan sering kali mengurangi daerah resapan air.

Dengan jumlah tersebut, Kota Bandar Lampung berada di peringkat pertama sebagai daerah dengan jumlah bencana terbanyak di Lampung. Kondisi ini menjadi alarm serius bagi pemerintah daerah untuk memperkuat strategi mitigasi bencana.

Mulai dari normalisasi sungai, perbaikan drainase, hingga pengendalian tata ruang di kawasan rawan longsor. Selain itu, edukasi masyarakat tentang kesiapsiagaan bencana juga harus terus digencarkan agar dampak ditimbulkan bisa diminimalisir.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Martin Tobing
EditorMartin Tobing
Follow Us

Latest News Lampung

See More