5 Daerah di Lampung Pendapatan Pekerja Informal Paling Tinggi

- BPS mencatat rata-rata pendapatan pekerja informal di Provinsi Lampung mencapai Rp1.852.068 per bulan, menunjukkan sektor ini tetap berdaya saing tinggi di tengah perubahan ekonomi global.
- Lima daerah dengan pendapatan tertinggi adalah Lampung Barat (Rp2.744.405), Kota Metro (Rp2.245.921), Bandar Lampung (Rp2.234.997), Tulang Bawang (Rp2.179.605), dan Way Kanan (Rp2.079.609).
- Perbedaan pendapatan antar daerah dipengaruhi oleh kondisi geografis, aktivitas ekonomi lokal, serta tingkat pendidikan masyarakat yang menentukan produktivitas sektor informal.
Bandar Lampung, IDN Times - Di tengah arus globalisasi semakin pesat, dunia kerja ikut mengalami perubahan besar. Kini, pekerjaan tak lagi selalu terikat dengan perusahaan atau bahkan negara.
Beragam jenis pekerjaan informal pun semakin berkembang di tengah masyarakat, mulai dari pedagang kaki lima, tukang ojek (termasuk ojek online), buruh harian lepas, tukang bangunan, hingga wirausaha dan freelancer tanpa kontrak tetap. Meski kerap dipandang sebelah mata, sektor ini justru menjadi salah satu penopang utama ekonomi masyarakat.
Menariknya, penghasilan para pekerja informal atau pekerja lepas tidak selalu kecil. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata pendapatan bersih sebulan pekerja informal di Provinsi Lampung mencapai sekitar Rp1.852.068.
Angka ini menunjukkan sektor informal tetap memiliki daya saing tersendiri. Namun, jika dilihat lebih dalam, setiap daerah memiliki capaian pendapatan berbeda-beda, dipengaruhi oleh kondisi wilayah, aktivitas ekonomi, hingga tingkat pendidikan masyarakat.
Berikut ini IDN Times akan memberikan informasi seputar lima daerah dengan rata-rata pendapatan pekerja informal terbesar di Lampung.
1. Kabupaten Way Kanan

Kabupaten Way Kanan dengan luas wilayah sekitar 3.921 km². Wilayah ini memiliki kondisi geografis berupa dataran dan perbukitan sehingga sangat cocok untuk sektor agraris, terutama pertanian dan perkebunan.
Sebagian besar masyarakat Way Kanan menggantungkan hidup pada hasil bumi, mulai dari karet, sawit, hingga komoditas pertanian lainnya. Meski berada di wilayah tidak sepadat kota, aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan aktif melalui sektor informal berbasis sumber daya lokal.
Rata-rata pendapatan pekerja informal di daerah ini mencapai Rp2.079.609 per bulan. Rinciannya, pekerja tidak tamat SD memperoleh Rp1.865.917, lulusan SD Rp1.853.062, lulusan SMP Rp2.005.404, dan lulusan SMA ke atas Rp2.466.542. Dengan angka tersebut, Way Kanan berada di peringkat kelima sebagai daerah dengan pendapatan pekerja informal terbesar.
2. Kabupaten Tulang Bawang

Kabupaten Tulang Bawang dengan luas wilayah sekitar 3.466 km². Secara geografis, daerah ini didominasi oleh dataran rendah dan kawasan rawa sehingga sangat potensial untuk pengembangan sektor pertanian, perkebunan dan perikanan.
Mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai petani, nelayan, maupun pelaku usaha berbasis sumber daya alam. Ketersediaan lahan luas dan sumber daya melimpah membuat sektor informal di daerah ini tetap produktif dan mampu menghasilkan pendapatan cukup tinggi.
Rata-rata pendapatan pekerja informal di Tulang Bawang mencapai Rp2.179.605. Menariknya, pekerja tidak tamat SD memiliki pendapatan mencapai Rp2.105.185, menunjukkan pengalaman dan akses terhadap sumber daya juga berperan besar.
Sementara itu, lulusan SD memperoleh Rp1.953.771, lulusan SMP Rp2.348.656, dan lulusan SMA ke atas Rp2.293.418. Tulangbawang berada di peringkat keempat sebagai daerah dengan pendapatan pekerja informal terbesar.
3. Kota Bandar Lampung

Sebagai ibu kota provinsi, Kota Bandar Lampung memiliki aktivitas ekonomi sangat padat dan beragam. Wilayah seluas sekitar 197,22 km² ini memiliki kondisi geografis unik, memadukan kawasan pesisir dan perbukitan, sehingga mendukung berbagai sektor usaha.
Bandar Lampung menjadi pusat perdagangan, jasa, transportasi, hingga sektor kreatif. Banyaknya aktivitas ekonomi ini membuka peluang besar bagi pekerja informal untuk mendapatkan penghasilan, baik sebagai pedagang, pengemudi, pekerja jasa, maupun pelaku usaha mandiri lainnya.
Rata-rata pendapatan pekerja informal di kota ini mencapai Rp2.234.997. Jika dilihat dari tingkat pendidikan, pekerja tidak tamat SD memperoleh Rp1.281.363, lulusan SD Rp1.804.790, lulusan SMP Rp1.806.817, dan lulusan SMA ke atas Rp2.666.797.
Dengan capaian tersebut, Bandar Lampung menempati peringkat ketiga sebagai daerah dengan pendapatan pekerja informal terbesar.
4. Kota Metro

Kota Metro menunjukkan wilayah kecil pun bisa memiliki kekuatan ekonomi besar. Dengan luas sekitar 68,74 km² dan kondisi geografis berupa dataran rendah, Metro berkembang sebagai salah satu pusat pendidikan, perdagangan, dan jasa di Lampung.
Karakter masyarakatnya yang aktif di sektor UMKM membuat roda ekonomi di kota ini terus berputar. Banyak pelaku usaha kecil, pedagang, hingga pekerja jasa mampu menciptakan peluang pendapatan secara mandiri tanpa bergantung pada sektor formal. Hal ini membuat sektor informal di Kota Metro menjadi sangat dinamis.
Rata-rata pendapatan pekerja informal di Kota Metro mencapai Rp2.245.921. Rinciannya, pekerja tidak tamat SD memperoleh Rp1.360.223, lulusan SD Rp1.374.894, lulusan SMP Rp1.796.997, dan lulusan SMA ke atas mencapai Rp2.668.672.
Merujuk angka tersebut, Kota Metro berada di peringkat kedua sebagai daerah dengan pendapatan pekerja informal terbesar.
5. Kabupaten Lampung Barat

Kabupaten Lampung Barat dengan wilayah seluas sekitar 2.142 km² ini didominasi oleh dataran tinggi dan pegunungan memiliki tanah subur serta iklim sejuk. Kondisi geografis tersebut menjadikan sektor perkebunan sebagai tulang punggung ekonomi, terutama komoditas kopi robusta yang sudah terkenal hingga ke pasar nasional.
Sebagian besar masyarakat di Lampung Barat bekerja sebagai petani dan pelaku usaha perkebunan. Tak hanya mengandalkan hasil panen mentah, banyak juga mulai terlibat dalam proses distribusi hingga penjualan, sehingga nilai ekonomi dihasilkan semakin besar. Hal ini berdampak langsung pada tingginya pendapatan pekerja informal di daerah ini.
Berdasarkan data BPS, rata-rata pendapatan bersih pekerja informal di Lampung Barat mencapai Rp2.744.405 per bulan. Jika dirinci, pekerja tidak atau belum tamat SD memperoleh Rp1.633.048, lulusan SD Rp2.418.545, lulusan SMP bahkan mencapai Rp3.429.703, dan lulusan SMA ke atas Rp2.848.300.
Dengan capaian tersebut, Lampung Barat menempati peringkat pertama sebagai daerah dengan pendapatan pekerja informal terbesar di Lampung.


















