Viral Sopir Truk Protes di Kapal Laut Lamsel, Terombang-ambing 5 Hari

- Puluhan sopir truk di KMP Mutiara Persada III protes karena kapal terombang-ambing lima hari di perairan Lampung Selatan tanpa kepastian dan logistik mulai menipis.
- Kapal berangkat dari Pelabuhan Cigading menuju Panjang namun alami gangguan mesin di sekitar Pulau Sebuku, membuat penumpang frustrasi hingga masuk ke ruang kemudi meminta penjelasan.
- Penumpang bertahan dengan makanan seadanya sampai kapal sandar, sementara sopir truk menerima kompensasi Rp1 juta yang dinilai belum sebanding dengan kerugian waktu dan risiko keterlambatan distribusi barang.
Lampung Selatan, IDN Times - Rekaman video puluhan penumpang didominasi oleh para sopir truk logistik menggelar aksi protes di atas Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Mutiara Persada III beredar luas di medis sosial (Medsos).
Berdasarkan rekaman video diterima IDN Times, para penumpang mulai frustrasi berkumpul di dek luar dan ruang nakhoda menuntut penjelasan hingga solusi konkret dari pihak pengelola kapal hingga petugas keamanan.
Dari informasi, aksi protes ini dipicu lantaran kapal tumpangi mereka itu terombang-ambing tanpa kepastian di perairan Lampung Selatan (Lamsel) selama berhari-hari.
1. Massa sempat merengsek masuk ke ruang kemudi kapal

Masih dari salah satu video tersebut, para penumpang mengaku kondisi di dalam kapal semakin memprihatinkan. Akibat tertahan selama berhari-hari di tengah laut. Persediaan makanan dan air bersih bagi penumpang mulai menipis.
"Kami ini bawa barang, bawa muatan. Berhari-hari di sini gak ada kejelasan, makan minum kami bagaimana?" ujar salah satu perwakilan penumpang dengan nada tinggi saat melayangkan protes kepada petugas dan kru kapal.
Tidak puas hanya mendengar penjelasan dari kru dek, perwakilan massa juga merangsek masuk ke dalam ruang kemudi kapal. Mereka mencoba meminta ketegasan dari nakhoda mengenai kendala teknis atau cuaca apa yang sebenarnya membuat kapal mati berlayar.
2. KMP Mutiara Persada III diduga alami kerusakan mesin

Terkait insiden tersebut, Momo, salah satu penumpang sopir truk menumpangi KMP Mutiara Persada III menyebut, KMP Mutiara Persada III berangkat dari Pelabuhan Cigading, Banten menuju Pelabuhan Panjang, Lampung, Kamis (14/5/2026) sekitar pukul 04.00 WIB.
Namun dalam perjalanan, kapal mengalami gangguan mesin saat melintas di sekitar Pulau Sebuku, Lampung Selatan. “Ada trouble mesin. Sempat dibenerin dan jalan lagi, tapi setelah lewat Pulau Sebuku trouble lagi,” katanya saat dihubungi, Senin (18/5/2026).
Menurut Mono, kapal sempat beberapa kali diperbaiki di tengah laut. Bahkan sejumlah penumpang sempat turun langsung ke ruang mesin untuk melihat kondisi kapal. "Di kapal itu sempat ada aksi protes karena penumpang minta kepastian,” lanjut dia.
3. Penumpang bertahan dengan logistik seadanya

Akibat gangguan tersebut, para penumpang harus bertahan selama sekitar lima hari lima malam di atas kapal hingga akhirnya berhasil sandar di Pelabuhan Panjang. Kondisi logistik penumpang sempat menjadi perhatian, lantaran persediaan makanan amat terbatas.
“Awalnya makan cuma dua kali sehari. Setelah ramai dan viral, baru jadi tiga kali,” ungkap warga Natar, Lampung Selatan tersebut.
Meski demikian, ia menyebut kebutuhan makan penumpang selama berada di kapal tetap ditanggung pihak terkait “Namanya di kapal ya makan seadanya, tapi tetap ditanggung,” lanjut dia.
4. Sopir truk terima kompensasi Rp1 juta

Selain mengalami kelelahan selama berada di tengah laut, para sopir truk juga mengaku cemas terhadap potensi kerugian akibat keterlambatan distribusi barang. Mono menyebut, truknya membawa muatan bungkil kedelai untuk pakan ternak dari Jakarta menuju Lampung. Beruntung, muatan itu tidak mengalami kerusakan.
“Alhamdulillah muatan saya aman. Jadi kebanyakan teman-teman muat dari Jakarta isinya memang barang kering,” ucap dia.
Meski demikian, ia menyebut para sopir mendengar adanya rencana kompensasi sebesar Rp1 juta per kendaraan. Namun nominal tersebut dinilai belum sebanding dengan risiko dan kerugian waktu yang dialami.
“Harapan pasti belum sesuai, karena ada risiko keterlambatan dan bisa kena klaim dari bos atau pemilik barang,” imbuhnya.


















