Musim Kemarau tapi Lampung Masih Sering Hujan? Ini Penjelasan BMKG

- BMKG Lampung menjelaskan hujan di musim kemarau masih wajar karena wilayah Sumatra, termasuk Lampung, sedang berada dalam masa peralihan menuju kemarau penuh.
- Hanya sekitar 7,8 persen zona musim di Indonesia yang sudah masuk kemarau, sementara sebagian besar wilayah masih mengalami hujan ringan hingga sedang akibat fase pancaroba.
- BMKG memprediksi kemarau 2026 akan lebih kering dari kondisi normal dan mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi perubahan cuaca ekstrem selama masa transisi.
Lampung Selatan, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Provinsi Lampung menginfokan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih kerap mengguyur sejumlah daerah di Sumatra, termasuk Provinsi Lampung.
Koordinator Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Kelas I BMKG Raden Intan II Lampung, Rudi Harianto mengatakan, kondisi tersebut merupakan hal normal lantaran sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam fase peralihan musim atau pancaroba. Meski sejumlah wilayah di Indonesia disebut mulai memasuki musim kemarau.
"Musim kemarau itu bukan berarti sama sekali tidak ada hujan. Hujan masih tetap bisa terjadi, hanya frekuensi dan intensitasnya mulai berkurang dibanding musim hujan,” ujarnya dikonfirmasi, Senin (18/5/2026).
1. Lampung masih berada di fase peralihan musim

Rudi menjelaskan, wilayah Sumatra, termasuk Lampung saat ini masih berada pada masa transisi menuju musim kemarau. Berdasarkan pola klimatologis, kemarau di Indonesia bergerak secara bertahap dari wilayah selatan menuju utara.
Menurut dia, sebagian besar wilayah Sumatra diperkirakan baru mulai memasuki musim kemarau secara bertahap pada Juni 2026.
“Jadi kondisi hujan yang masih terjadi di Lampung saat ini masih sangat wajar, karena memang belum seluruh wilayah masuk musim kemarau penuh,” jelasnya.
2. Kemarau bukan berarti tanpa hujan

BMKG sebelumnya juga menyampaikan, baru sekitar 7,8 persen zona musim di Indonesia yang telah memasuki musim kemarau pada awal April 2026. Sementara mayoritas wilayah lainnya masih mengalami musim hujan atau masa peralihan.
Rudi menambahkan, banyak masyarakat masih memiliki anggapan musim kemarau identik dengan cuaca panas tanpa hujan sama sekali. Padahal secara meteorologis, musim kemarau ditandai dengan berkurangnya curah hujan dalam periode tertentu.
“Dalam definisi klimatologi, musim kemarau terjadi ketika curah hujan kurang dari 50 milimeter per dasarian atau 10 hari dan berlangsung secara berturut-turut,” katanya.
Oleh karena itu, peluang hujan lokal maupun hujan dengan durasi singkat masih tetap dapat terjadi selama musim kemarau berlangsung, terutama pada masa pancaroba seperti sekarang. "Jadi masyarakat tidak perlu heran apabila hujan masih turun, meski musim kemarau mulai berlangsung di sejumlah wilayah," tambah dia.
3. BMKG prediksi kemarau 2026 lebih kering dari normal

Rudi menambahkan, BMKG memprediksi musim kemarau 2026 cenderung lebih kering dibanding kondisi normal tahunan. Meski begitu, ia menegaskan kondisi tersebut bukan berarti menjadi musim kemarau terparah dalam beberapa dekade terakhir.
“Memang diperkirakan lebih kering dibanding rata-rata klimatologis normal, tetapi bukan berarti menjadi kemarau paling parah dalam 30 tahun terakhir,” ujarnya.
BMKG Lampung mengimbau masyarakat tetap rutin memantau informasi prakiraan cuaca dan mewaspadai potensi perubahan cuaca yang masih dapat terjadi sewaktu-waktu selama masa peralihan musim. "Kami juga terus mengingatkan masyarakat agar selalu mewaspadai perubahan cuaca ekstrem," imbuh dia.


















