Mahasiswa Teknokrat Ciptakan AgroBot Feed Otomatis untuk Peternak

- Mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia menciptakan AgroBot Feed, robot otomatis pemberi pakan sapi yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan konsistensi pengelolaan pakan peternak.
- AgroBot Feed mengintegrasikan teknologi robotika, smart agriculture, dan kecerdasan buatan agar mampu mendistribusikan pakan secara presisi serta berpotensi menyesuaikan pola pemberian berdasarkan data ternak dan lingkungan.
- Inovasi ini dikembangkan melalui kolaborasi lintas disiplin di berbagai pusat unggulan kampus dan menjadi sarana pembelajaran mahasiswa dalam penerapan teknologi cerdas di sektor peternakan modern.
Bandar Lampung, IDN Times - Mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia kembali menorehkan inovasi di bidang teknologi terapan melalui pengembangan AgroBot Feed, robot pemberi pakan ternak sapi otomatis. Dosen pembimbing, Dedi Darwis menjelaskan, inovasi ini dirancang untuk membantu peternak meningkatkan efisiensi, produktivitas, serta konsistensi dalam pengelolaan pakan, sekaligus menjawab tantangan keterbatasan tenaga kerja di sektor peternakan modern.
Pengembangan AgroBot Feed merupakan hasil kolaborasi mahasiswa lintas disiplin yang tergabung dalam Center of Excellence Smart Agriculture, Center of Excellence Robotics, dan Center of Excellence Artificial Intelligence. Sinergi antarpusat unggulan ini menjadi bagian dari komitmen kampus dalam mendorong riset terapan relevan dengan kebutuhan sektor pertanian dan peternakan berbasis teknologi.
1. Robot otomatis bantu efisiensi dan produktivitas peternak

Menurut Darwis, AgroBot Feed dirancang sebagai robot otomatis yang mampu mendistribusikan pakan ternak sesuai jadwal dan takaran yang telah diprogram secara presisi. Dengan sistem tersebut, proses pemberian pakan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada tenaga manual, sehingga membantu peternak menghemat waktu dan mengurangi beban kerja harian.
"Robot ini dilengkapi sistem kendali cerdas memungkinkan pengaturan waktu dan jumlah pakan secara akurat. Melalui teknologi otomatisasi tersebut, AgroBot Feed diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional peternakan, menekan biaya tenaga kerja, serta menjaga kualitas dan keberlanjutan usaha ternak," jelasnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, keterbatasan tenaga kerja dan manajemen waktu menjadi tantangan yang kerap dihadapi peternak sapi, terutama pada skala menengah dan besar. Kehadiran AgroBot Feed dinilai menjadi solusi teknologi yang efektif dan berkelanjutan untuk menjawab persoalan tersebut.
2. Integrasikan robotika, smart agriculture, dan AI

Keunggulan AgroBot Feed kata Darwis terletak pada integrasi tiga bidang utama, yakni robotika, smart agriculture, dan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Dari sisi robotika, sistem mekanik dirancang agar mampu mendistribusikan pakan secara stabil dan efisien di area peternakan.
Pendekatan smart agriculture memungkinkan robot beroperasi sesuai kebutuhan manajemen peternakan modern, termasuk penjadwalan dan pengaturan takaran pakan yang terukur. Sementara itu, pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan membuka peluang pengembangan sistem yang lebih adaptif di masa depan.
"Ke depan, sistem ini berpotensi menyesuaikan pola pemberian pakan berdasarkan kondisi ternak, data lingkungan, hingga analisis kebutuhan nutrisi secara otomatis. Dengan demikian, teknologi tidak hanya bersifat mekanis, tetapi juga mampu mendukung pengambilan keputusan berbasis data," jelasnya.
3. Siap dikembangkan lebih luas

Menurut Darwis, inovasi ini memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan menjadi sistem lebih cerdas. Pengembangan AgroBot Feed tidak hanya berfokus pada fungsi mekanis, tetapi juga diarahkan untuk menjadi sistem cerdas yang mampu menyesuaikan pemberian pakan berdasarkan data kondisi ternak dan lingkungan.
Senada dengan itu, dosen pembimbing Ridwan Mahenra menegaskan proyek ini memberikan pengalaman pembelajaran komprehensif bagi mahasiswa.
“Mahasiswa belajar mengintegrasikan perangkat keras, perangkat lunak, serta kecerdasan buatan dalam satu sistem yang nyata dan aplikatif. Ini merupakan pengalaman penting dalam membangun kompetensi teknologi masa depan,” jelasnya.

















