5 Calon Rektor Itera Adu Visi, Kampus Teknologi Mau Dibawa ke Mana?

- Lima calon rektor Itera dari berbagai kampus memaparkan visi kepemimpinan dalam sesi aspirasi daring, menyoroti arah masa depan institut periode 2026–2030.
- Para kandidat menekankan isu kemandirian, riset, inovasi, dan reputasi global dengan pendekatan berbeda, mulai dari penguatan tata kelola hingga sinergi industri dan masyarakat.
- Proses pemilihan rektor berlanjut dengan sesi penyampaian visi-misi di Kampus Itera pada 20 April 2026 dan pemungutan suara sehari setelahnya.
Lampung Selatan, IDN Times - Lima bakal calon Rektor Institut Teknologi Sumatera (Itera) periode 2026–2030 mulai unjuk arah. Bukan sekadar memperkenalkan diri, mereka membawa visi besar yang bakal menentukan wajah Itera empat tahun ke depan: mau jadi kampus teknologi unggul berbasis riset?
Kampus hijau berkonsep smart forest? Atau kampus bereputasi global yang siap mandiri secara finansial?
Semua ide itu muncul dalam kegiatan Aspiration Session yang digelar secara daring oleh Panitia Pemilihan Rektor Itera, Senin (13/4/2026). Forum ini diikuti sivitas akademika, mulai dari dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa.
Mereka diberi ruang berdialog langsung dan melontarkan pertanyaan untuk menggali program kerja masing-masing kandidat.
1. Lima bakal calon rektor berasal dari kampus berbeda

Adapun lima bakal calon rektor yang tampil dalam sesi tersebut berasal dari kampus berbeda. Di antaranya, Aswan dan Elfahmi dari Institut Teknologi Bandung, Fahmi dari Universitas Sumatera Utara, Ismunandar dari Institut Teknologi Bandung, serta M. Faiz Syuaib dari Institut Pertanian Bogor.
Ketua Senat Itera, Sunarsih, menegaskan forum ini bukan sekadar agenda formal dalam proses pemilihan rektor. Meski berasal dari kampus berbeda menurutnya, semua datang dengan satu tujuan yang sama, menawarkan formula kepemimpinan baru untuk Itera.
Sunarsih mengatakan, momen ini menjadi pintu awal untuk mengenal lebih jauh karakter, motivasi, serta arah kepemimpinan para bakal calon. Pemilihan rektor harus dipandang sebagai keputusan strategis yang akan menentukan masa depan institut, bukan hanya soal siapa yang memimpin organisasi,
“Pemilihan rektor tidak sekadar memilih pemimpin organisasi, tetapi menentukan figur yang akan, dan mampu mengartikulasikan arah masa depan institut,” ujar Sunarsih.
Ia juga mengajak sivitas akademika untuk ikut mengawal proses secara aktif, dengan menilai gagasan para calon berdasarkan integritas, kapasitas, serta keberpihakan terhadap kemajuan Itera.
2. Itera mau dibawa ke mana?

Sesi aspirasi yang dipandu dosen Perencanaan Wilayah dan Kota Itera, M. Bobby Rahman, berlangsung dinamis. Masing-masing bakal calon memaparkan gagasan strategis, mulai dari penguatan akademik, reformasi tata kelola, hingga peran Itera untuk Sumatera dan Indonesia.
Menariknya, semua calon sama-sama menyinggung kata kunci yang kini menjadi tantangan perguruan tinggi modern: kemandirian, riset, inovasi, dan reputasi global. Namun, pendekatan mereka berbeda-beda.
Bakal calon rektor Aswan mengusung visi menjadikan Itera sebagai kampus sains dan teknologi yang unggul, mandiri, transparan, dan adaptif, serta berdampak bagi Sumatera dan Indonesia. Ia menekankan inovasi kurikulum, riset kontekstual, penguatan tata kelola, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta sinergi dengan industri dan pemerintah.
Sementara, Elfahmi menekankan visi pendidikan tinggi yang inovatif, inklusif, dan berdaya saing global. Ia menyoroti pentingnya sistem pendidikan yang responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, penguatan riset dan inovasi, serta tata kelola organisasi yang modern dan partisipatif.
3. Proses pemilihan rektor berlanjut, sesi tatap muka dijadwalkan pekan depan

Bakal calon Rektor Itera lainnya, Fahmi mengusung visi transformasi budaya unggul berkelanjutan menuju Itera bereputasi global. Fokusnya meliputi pengembangan pendidikan rekayasa berbasis teknologi, penguatan riset terapan sesuai kebutuhan industri, serta percepatan kemandirian institusi melalui transformasi menuju Badan Layanan Umum (BLU).
Sementara itu, M Faiz Syuaib menyoroti peran pendidikan tinggi sebagai jangkar moral dan peradaban. Ia menekankan pentingnya kontribusi nyata perguruan tinggi bagi masyarakat serta komitmen pengabdian akademisi. Ia juga mengangkat filosofi “menara air”, yakni semakin besar perguruan tinggi, semakin luas manfaat yang mengalir bagi masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, para bakal calon rektor juga menanggapi berbagai pertanyaan yang disampaikan sivitas akademika Itera. Rangkaian Pemilihan Rektor Itera akan dilanjutkan dengan kegiatan penyampaikan visi, misi, dan program secara langsung di Kampus Itera, pada 20 April 2026, dan pemilihan calon rektor pada 21 April 2026.


















