Lampung Literature Gelar Sayembara Novela Sejarah dan Budaya

- Bahasa dan budaya Lampung terpinggirkan akibat modernisasi
- Rangkaian kegiatan mencakup sayembara penulisan novela, workshop, dan pertunjukan musisi lokal
- Novela diharapkan menjadi jembatan untuk memaknai ulang sejarah dan kebudayaan Lampung
Bandar Lampung, IDN Times – Lampung Literature bersama Badan Bahasa Kemendikdasmen RI menggelar program Menulisi Lampung: Sayembara dan Workshop Penulisan Novela Berbasis Sejarah dan Budaya Lampung pada Agustus hingga akhir Oktober 2025.
Kegiatan ini bertujuan merevitalisasi bahasa dan budaya Lampung di tengah derasnya arus modernisasi.
1. Posisi bahasa dan budaya Lampung kian terpinggirkan

Penanggung jawab kegiatan, Iskandar, mengatakan program ini lahir dari keprihatinan terhadap posisi bahasa dan budaya Lampung yang kian terpinggirkan.
“Bahasa Lampung bukan sekadar alat komunikasi, tapi wadah kebudayaan yang menyimpan nilai, etika, dan memori kolektif. Ketika bahasa punah, warisan budaya ikut punah. Melalui sastra, kami ingin merespon situasi ini,” ujarnya.
2. Rangkaian kegiatan, ada pertunjukan musisi lokal pada puncak acara

Iskandar menjelaskan, rangkaian kegiatan terdiri dari tiga tahap. Pertama, sayembara penulisan novela dengan open call pada 11–28 Agustus 2025 untuk menjaring delapan calon penulis.
Kedua, workshop atau residensi penulisan pada 5–11 September 2025. Ketiga, para penulis mendapat waktu lebih dari sebulan untuk mematangkan karya dengan bimbingan intensif.
"Puncak acara akan digelar 28 Oktober 2025 lewat Perjamuan Prosa di Bandar Lampung. Agenda ini mencakup diskusi karya, peluncuran delapan novela terpilih, hingga pertunjukan musikalisasi puisi oleh musisi lokal," jelasnya.
3. Memaknai ulang sejarah dan kebudayaan dengan cara relevan dan asyik

Ari Pahala Hutabarat, sebagai pengarah dan perancang program, menambahkan, karya novela yang akan ditulis diharapkan menjadi salah satu jembatan antara sejarah-budaya Lampung dengan publik masa kini, terutama generasi muda.
“Novela-novela ini bisa jadi pintu masuk untuk mengenal dan (jika harus) memaknai ulang sejarah dan kebudayaan kita dengan cara yang relevan dan asyik dan dari situlah, rasa empati pembaca (masyarakat Lampung) terhadap budaya lokal bisa tumbuh,” ujarnya.



















