Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ironi Negeri Agraris, Harga Beras Melejit Warga Menjerit
Ilustrasi stok beras Perum Bulog Kanwil Lampung. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).
  • Warga antre untuk mendapatkan beras murah dari Bulog mencapai jam berjam di Pasar Besar Ngawi.
  • Ketersediaan beras terbatas menyebabkan banyak warga yang antre pulang dengan tangan hampa karena tidak kebagian beras.
  • Masyarakat mulai menyiasati harga beras tinggi dengan makan nasi dicampur tiwul atau olahan dari singkong kering.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandar Lampung, IDN Times - Membeli beras untuk kebutuhan makan menjadi perjuangan luar biasa bagi Vivi Virgonita, warga Kabupaten Ngawi Jawa Timur, sepekan terakhir ini. Demi mendapatkan beras harga murah dari Bulog, ia bersama puluhan warga daerah setempat rela mengantre berjam-jam di lorong depan kios milik pedagang beras di Pasar Besar Ngawi.

Vivi berujar, ia takut tidak kebagian beras murah. Warga didominasi emak-emak ini rela mengantre sejak subuh di depan kios pedagang. Bahkan, ada seorang ibu sampai ketiduran di lantai demi mendapatkan beras beberapa kilogram.

Saat kios dibuka pukul 08.15 WIB, mereka langsung menyerbu beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dari Bulog yang dijual Rp54.500 per kemasan isi 5 kilogram. Harga beras selain SPHP dari Bulog mencapai Rp17 ribu per kilogram atau Rp85.000 per 5 kilogram, selisih Rp30.500. Nahas, meskipun sudah antre sejak subuh, tak sedikit warga pulang dengan tangan hampa lantaran tidak kebagian beras. Kios tersebut hanya menyediakan 50 kemasan beras SPHP setiap hari.

Vivi mengatakan, warga yang tidak kebagian beras protes karena di daerah lumbung pangan seperti Ngawi, beras masih mahal dan sulit didapat. Kesulitan bahan pangan beras juga diperparah naiknya harga kebutuhan pokok lain seperti cabai rawit kini terkerek menjadi Rp85.000 dari sebelumnya Rp45.000 per kilogram.

"Semakin hari beras semakin mahal. Ini Rp54.500, di luar bisa jadi Rp70.000. Kenapa di sini (Ngawi) gudang beras kok seperti ini? Apa ini permainan?" tanya Vivi.

Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Antrean masyarakat mengular setiap beras SPHP dikirim Bulog dari gudang ke Pasar Sayur Magetan datang. Beras rakyat itu langsung diserbu ibu rumah tangga.

Demi mendapatkan beras murah tersebut mereka rela berebut agar kebagian. Ironisnya, meski masyarakat membutuhkan, tidak semua kios menjual beras SPHP Bulog dengan berbagai alasan. Akibatnya, banyak warga yang ikut mengantre tidak kebagian. Bahkan, ada beberapa kios menolak menjual kepada masyarakat meski pasokan baru tiba.

"Tidak semua toko yang dipasok SPHP boleh dibeli. Alasannya, beras tinggal lima sampai sepuluh wadah padahal baru dipasok ya. Jadi terpaksa kami berebut agar dapat dari kios yang sukarela menjual," kata kuli gendong bernama Winarti.

Ditanya kenapa memilih beras SPHP Bulog, bukan beras biasa, Winarsih mengaku harga yang lebih murah jadi alasan. Marni, pembeli lain menceritakan pengalaman menyakitkan pada saat ditolak hendak membeli beras SPHP di pasar Sayur Magetan. "Susah membeli beras Bulog yang murah. Dari banyaknya toko yang dipasok, hanya sekitar tiga toko yang boleh dibeli, itupun berebut. Katanya, toko lainnya tidak boleh dibeli karena mau dijual ke pedagangnya lagi," kata dia.

1. Warga makan nasi dicampur tiwul, petani panen malah getir

Ilustrasi harga beras. (IDN Times/Aditya Pratama).

Mahalnya harga beras membuat sebagian warga di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, menyiasatinya dengan makan nasi dicampur dengan tiwul. Salah satunya dilakukan Sulastri (55) warga Desa Gandong, Kecamatan Bringin. Di keluarga Sulastri sudah satu bulan terakhir mengonsumsi nasi beras dicampur dengan nasi tiwul atau olahan dari singkong kering. Langkah ini dilakukan Sulastri untuk menyiasati harga beras terus meroket. Dengan mencampur tiwul, Sulastri bisa menghemat penggunaan beras untuk kebutuhan sehari-hari.

Ia biasanya memasak satu kilogram beras untuk dua hari, kini satu kilogram bisa sampai empat hari setelah dicampur tiwul. Setiap pagi, Sulastri menumbuk singkong kering atau gaplek untuk bahan baku tiwul. Singkong tersebut didapatnya dari kebun sendiri yang telah dikeringkan sebelum dijadikan gaplek.

Setelah ditumbuk halus, gaplek dicampur sedikit air dan dikukus hingga matang. Cara mengonsumsinya tinggal mencampurnya dengan nasi dan sayur berkuah agar mudah ditelan. "Setiap harinya kita pakai beras sedikit-sedikit, nanti dicampur dengan gaplek. Perbandingannya satu kilogram beras lebih yang biasanya hanya untuk dua hari, sekarang bisa sampai empat hari," kata Sulastri.

Makan nasi campur tiwul tampak tak mengurangi kenikmatan makan keluarga Sulastri. Bahkan menurutnya, kini banyak keluarga lain di desanya yang melakukan hal serupa. Meniru cara berhemat beras dari keluarganya.

Cerita lainnya bikin hati pilu datang dari kalangan petani, Warijan (53). Senyum petani padi asal Dusun Selorejo, Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, Jawa Timur ini terlihat getir. Meski gabah hasil panen saat ini dihargai Rp7.500 per kilogram, namun Warijan masih merasa khawatir. Ini karena panen yang diperoleh kali ini tidak cukup berbobot. Selain itu, di pasaran harga beras meroket hingga Rp16.000 per kilogram.

Warijan mengatakan, pada panen kali ini dia tidak bisa menjual semua hasilnya. Itu karena, beras di pasaran saat ini terbilang sangat mahal. Ditambah lagi, dia harus menyisihkan hasil panen dalam bentuk gabah untuk dimakan keluarganya. "Kalau dijual semuanya kan percuma, beras masih beli juga. Apalagi sekarang harganya mahal. Jadi ya dijual sebagian, dan sebagian lagi disimpan untuk dimakan keluarga," katanya.

Selain harga beras yang mahal, yang membuatnya khawatir adalah rutinitas hujan yang terlalu pekat dalam tiga bulan terakhir ini. Panen yang digadang-gadang bakal mencapai 1 ton lebih di lahan seperempat hektare miliknya, ternyata hasilnya tidak memuaskan. Panen kali ini, ia hanya bisa mengumpulkan gabah kurang dari 1 ton.

"Hujan setiap hari di sini. Pokoknya kalau siang sudah mendung itu datang, terus hujan. Belum lagi akhir-akhir ini angin juga kencang. Alamat panen tidak bagus," katanya saat ditemui Jumat (23/2/2024).

Momen mahalnya harga jual gabah saat ini ternyata gagal dinikmati secara penuh oleh Warijan. Kala harga gabah Rp7.500, Warijan hanya memperoleh menjual 8 kuintal seharga Rp3.000.000. "Normalnya bisa dapat lebih. Kalau harganya mahal seperti saat ini seharusnya bisa dapat uang Rp8 jutaan kalau panen 1 ton lebih," ujarnya.

Menurutnya, kondisi cuaca lembap dan basah dapat memberikan dampak negatif pada produksi padi, yang pada akhirnya memengaruhi pasokan gabah di pasaran. Dia mengakui, fenomena gabah mahal ini sering terjadi saat musim hujan tiba. Namun tidak banyak petani yang bisa menikmati secara penuh momentum kenaikan harga ini.

"Wes biasa mahal kalau musim hujan tiba. Gabah pas lagi mahal-mahalnya tapi petani tidak punya panen. Kalau tidak, ada panen tapi (hasilnya) jelek," kata dia.

Menurut Warijan, salah satu dampak utama musim hujan adalah peningkatan risiko serangan hama pada tanaman padi. Kelembapan yang tinggi menciptakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan hama seperti wereng dan penyakit tanaman. Serangan hama dapat merusak tanaman padi secara signifikan, mengurangi hasil panen, dan pada gilirannya, mempengaruhi ketersediaan gabah di pasar. "Pasti butuh biaya untuk istilahnya menanggulangi hama itu. Kalau dibiarkan ya malah rugi karena hama. Belum lagi risiko panen rusak kalau angin kencang merusak padi," keluhnya.

2. Pedagang berebut membeli stok beras

Antrian masyarakat beli beras di salah satu kios pasar Sayur Magetan. IDN Times/ Riyanto

Berdasarkan Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 7 Tahun 2023 tentang Harga Eceran Tertinggi Beras, HET beras diatur berdasarkan zonasi. Untuk Zona 1 meliputi Jawa, Lampung, Sumatra Selatan, Bali, NTB, dan Sulawesi, HET beras medium senilai Rp10.900 per kilogran. Sedangkan beras premium Rp13.900 per kilogram.

Sementara Zona 2 meliputi Sumatra selain Lampung dan Sumatra Selatan, NTT dan Kalimantan, HET beras medium sebesar Rp11.500 per kilogran dan beras premium Rp14.400 per kilogram. Sedangkan zona 3 meliputi Maluku dan Papua, HET beras medium sebesar Rp11.800 per kilogram dan untuk beras premium sebesar Rp14.800 per kilogram.

Namun, HET ditetapkan pemerintah bak jauh panggang dari api. Tak hanya pembeli, kenaikan harga beras membuat pedagang mengurut kening. Roni, misalnya, pedagang besar beras di Pasar Maja, Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Ia terpaksa harus menjual beras berkualitas dengan harga mahal. "Sekarang kalau mau bagus harus Rp14.000u per liter, putih bersih. Kalau yang Rp12.000 udah pada kuning, jelek pokoknya," kata Roni, Selasa (13/2/2024).

Padahal, ia menambahkan, sebelumnya para pembeli sudah bisa mendapat beras kualitas premium dengan harga Rp12.000 per liter. Tak hanya para pembeli yang terkena dampak, para pedagang pun merasakan hal serupa. Pasalnya, pedagang kerap menemukan beras dengan kualitas jelek dengan harga tinggi dan terlanjur sudah dibeli. "Kalau sekarang kan beras mahal, tapi perlu kami cek juga kualitasnya disurvei dulu, lebih hati-hati,"  kata dia.

Menurut Roni, kenaikan harga tersebut terjadi lantaran minim stok dari distributor sehingga di antara pedagang berebut membeli stok beras dengan saling meninggikan harga tawar. "Rada langka memang, jadi pedagang rebutan gede-gedean duit (besar-besaran harga penawaran)," tutur dia.

Kondisi ini sudah terjadi hampir dari sebulan yang lalu. "Mulai naiknya cepat, seminggu bisa tiga kali naik. Pokoknya setiap belanja ada perubahan harga," ucap dia.

Bagus Widiantoro, pedagang beras di Pasar Besar Ngawi mengaku kasihan melihat warga sudah antre sejak kios belum buka. Apalagi ketika ada yang tidak kebagian. "Tapi harus bagaimana lagi, stok beras SPHP kami juga sedikit, sehari hanya dapat jatah dari Bulog 50 pack isi 5 kilogram. Kami sudah membatasi satu orang hanya bisa membeli 1 bungkus," katanya.

Yang membuatnya miris, minimnya dropping beras Bulog disebabkan stok karung yang terbatas. Bahkan ia mendengar stok karung tidak ada lagi. "Kok bisa Bulog kehabisan karung, masyarakat saat ini sulit pangan lho," katanya.

Kenaikan harga beras secara drastis juga terpantau di Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Mahalnya harga beras di wilayah kepulauan tersebut juga berdampak kepada pedagang. "Saya tidak berani stok beras, karena harga nanjak (naik) terus. Kalau stok beras banyak, nanti lama laku. Warga sekarang beli beras sedikit-sedikit," ungkap Ni Made Rasti, salah seorang pedagang di Nusa Penida, Kamis (22/2/2024).

Menurutnya harga beras lokal kemasan 25 kilogram sudah mencapai Rp390.000 atau Rp15.600 per kilogram. Sementara untuk beras premium, beras 5 kilogram seharga Rp85.000, beras 10 kg seharga Rp165.000, sementara beras 25 kg sebesar Rp410.000. 

"Kalau beras mahal, kami para pedagang juga dirugikan. Penjualan lesu sekali. Sekarang paling yang lebih banyak laku beras medium," ia menjelaskan.

Samsul, pedagang di Pasar Magetan, Jatim,  mengatakan, selalu mendapat pasokan beras SPHP. Bahkan lebih dari jatah pada umumnya yang 50 pack sehari. Di tempatnya berjualan, setiap toko mendapat jatah 125 karung per 5 kilogram. "Beras SPHP jika kita jual hari ini pasti ludes dalam waktu singkat ya. Sengaja sebagian tidak saya jual karena kasihan pembeli yang datang besok, tidak kebagian. Makanya, meski pasca dipasok saya jual, tapi ada sebagian yang tidak saya jual saat ini untuk pembeli langganan besok,” ujarnya.

3. Permintaan tak sebanding dengan stok beras

Ratusan warga dari berbagai desa di kecamatan Barat Magetan serbu oprasi pasar murah. IDN Times/ Riyanto

Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengatakan, melambungnya harga beras di pasar tradisional lantaran dipicu permintaan masyarakat yang tak sebanding dengan ketersediaan barang di tingkat petani. Menurutnya setelah berkeliling ke sejumlah daerah bersama Presiden Jokowi beberapa waktu lalu, diketahui kenaikan harga beras terjadi pada jenis premium dan beras lokal.

"Saya keliling kemana-mana sama Pak Presiden ke Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bekasi waktu itu. Memang beras lokal harganya naik. Sampai sekarang harganya masih bergerak naik. Karena beras lokal yang diminta itu produksinya turun. Diperkirakan Januari Maret dibandingkan tahun lalu itu 2 juta lebih bedanya," tutur Zulhas sapaan akrabnya saat menghadiri rapat kerja Kementerian Perdagangan di Hotel Padma Semarang, Selasa (20/2/2024).

Ia menganggap, penurunan pasokan beras terjadi karena dipengaruhi perpindahan musim. Jika semula musim panen terjadi Januari sampai Maret, untuk kondisi tahun ini musimnya bergeser ke Maret sampai Mei. "Artinya bukan turun tapi pindah musim. Yang harusnya Januari - Maret, ini menjadi Maret - Mei. Pindah sehingga barangnya langka, barangnya sulit maka harganya naik gitu kira-kira sebabnya beras premium beras lokal," tuturnya.

Walau begitu, Zulhas menyampaikan, untuk solusi mengatasi lonjakan harga beras, pihaknya memutuskan menggelontorkan beras standar SPHP di pasar tradisional. Beras SPHP yang identik dengan beras bersubsidi dijual di pasar seharga Rp10.000 sampai Rp11.000 per kilogram. Adanya beras standar SPHP ini, katanya bisa menjadi opsi bagi masyarakat yang kesulitan menyiasati harga beras yang semakin mahal belakangan ini. 

"Makanya pemerintah membanjiri pasar dengan SPHP. SPHP itu beras dari Bulog yang disubsidi, yang dijualnya Rp10.000, Rp11.000. Jadi konsumen, masyarakat bisa cari alternatif kalau ini mahal sekali dia bisa beli beras yang subsidi yang kualitasnya gak kalah. Maka Bulog membanjiri beras subsidi di ritel ritel modern dan pasar dengan beras kualitas SPHP," ujarnya.

4. Stok beras aman hingga Idul Fitri

Ilustrasi grafis impor beras Indonesia. (IDN Times/Aditya Pratama.

Zulhas juga memastikan stok beras di Indonesia cukup untuk periode Ramadan dan Idul Fitri 2024, ditambah beras impor juga bakal segera masuk ke Indonesia, sehingga ketersediaannya diperkirakan bakal aman. "Beras tidak ada masalah, berasnya banyak cuma alternatif beras Bulog," ujarnya.

Saat ini pemerintah memiliki stok sebanyak 1,4 juta ton beras. Jumlah tersebut akan ditambah lagi dengan masuknya beras impor sehingga total menjadi 2 juta ton. Zulhas menekankan stok beras untuk SPHP tidak mengalami kelangkaan. Namun untuk beras premium, harganya naik lantaran suplainya berkurang. "Jadi tidak masalah berasnya, hanya yang biasa beras apa namanya, beras premium ada yang biasa Cianjur, ada yang biasa Demak, ada yang biasa apa, kan itu biasanya sungkan beralih. Kita anjurkan untuk beralih karena beras Bulog tidak kalah bagus sebetulnya," katanya

Meski panen raya tidak sesuai waktunya dan harga beras terus naik, senada dengan Zulhas, Bulog Jabar memastikan stok di gudang mencukupi bagi masyarakat hingga Ramadan dan Idul Fitri. Merespons langkanya beras medium dan premium di berbagai tempat, Bulog Jabar akan terus mendistribusikan stok beras ke pasaran. Hal tersebut, sesuai dengan perintah dari kantor pusat menyikapi kondisi perberasan saat ini. Saat ini, stok beras di Perum Bulog Kanwil Jabar, sebanyak 133.000 ton.

"Stok beras yang dikuasai oleh Bulog Jabar sebesar 93.000 ton dan dalam perjalanan ada sebanyak 40 ribu ton, jadi total stok Beras di Bulog di Jawa Barat akan mencapai 133.000 ton," ujar Pemimpin Wilayah Bulog Jabar M Attar Rizal.

Stok ini, imbuh dia, akan digunakan untuk kegiatan penyaluran beras SPHP untuk pasar tradisional maupun retail modern dan kegiatan Gerakan Pangan Murah (GPM). Serta untuk penyaluran Bantuan Pangan, dan stabilisasi Beras Premium melalui pola pengalihan. Attar menjelaskan, 2024 ini Perum Bulog Kanwil Jabar akan menyalurkan Bantuan Pangan sebanyak 44.000 ton per bulan. Dari awal Januari lalu, pihaknya sudah menggelontorkan sebanyak 17.000 ton beras SPHP ke pasar-pasar, baik tradisional maupun modern.

Attar mengatakan, suplai ke pasar tradisional dilakukan minimal sepekan sekali. Untuk retail modern pun Bulog memasok sesuai dengan PO yang diajukan oleh retail modern. Bulog Jabar, mengirimkan ke Distribution Center retail modern.

"Selain dari impor melalui Pelabuhan Patimban dan Tanjung Priok yang akan terus berlangsung, pasokan beras dari dalam negeri akan kami optimalkan pada masa panen nanti. Untuk wilayah Jawa Barat panen diperkirakan di bulan April hingga Mei Nanti, masa panen ini mundur karena kekeringan dampak elnino, stok kita akan terus terisi," ujar Attar.

Ketersediaan stok hingga harga beras di pasaran menjadi sorotan Februari 2024 ini, termasuk di Provinsi Lampung. Namun, Perum Bulog Kanwil Lampung mengklaim cadangan beras pemerintah (CBP) provinsi kini masih dalam kategori aman alias sekitar 15.000 ton. Dari data jelang akhir Februari 2024 ini, belasan ribu ton CBP itu dikatakan tersebar di 4 kantor cabang dan 13 gudang Perum Bulog Kanwil Lampung.

"Beras dikuasai Bulog di Lampung saat ini ada 15.000 ton dalam bentuk cadangan beras pemerintah," ujar Pimpinan Wilayah Perum Bulog Kanwil Lampung, Taufan Akib saat dimintai keterangan, Jumat (23/2/2024).

Taufan mengatakan, stok itu bakal mencukupi kebutuhan beras bagi Provinsi Lampung sekitar 1,5 hingga 2 bulan ke depan atau diperkirakan memenuhi kebutuhan selama bulan Ramadan sampai Hari Raya Idul Fitri 1445 Hijriah. "Iya masih, kami yakin (kebutuhan beras di Lampung) masih sangat mencukupi sampai Idul Fitri," katanya.

Ia menambahkan, ketersediaan CBP 15.000 ton ini, pihaknya juga bakal mengintensifkan program SPHP, atau dahulu dikenal sebagai operasi pasar (OP) menjelang Ramadan. "Pasti, karena SPHP itu salah satu upaya kami dalam mengendalikan harga beras, selain SPHP, tentunya ada bantuan pangan itu juga akan kami lakukan," kata dia.

Menurut Taufan, ketersediaan beras di kompleks pergudangan Bulog Lampung tersebut akan terus ditambah hingga mencapai target 50.000 ton pada 2024. Itu dengan cara menyerap beras dan gabah langsung dari petani. Perum Bulog Kanwil Lampung disebut akan membeli gabah kering panen (GKP) sesuai dengan harga pokok penjualan (HPP) Rp5.000 per kilogram, sedangkan untuk harga jual beras di tingkat petani sebesar Rp9.950 per kilogram.

"Artinya kita berharap target kami 50.000 ton ini, mudah-mudahan dengan panen serentak terjadi di bulan mendatang bisa harganya turun. Kita berharap di situ," katanya.

Sejalan dengan target ini, pihaknya juga akan menerapkan pola komersil bekerjasama dengan BUMDes guna menyerap hasil produksi dari petani-petani di daerah. "Kami berharap dengan kerjasama ini bisa dapat gabah langsung dari petani hingga lebih murah, ini masih dalam pembahasan," Taufan menambahkan.

Kepala Bulog Bali, Sony Supriadi, Rabu (21/3/2024) menjamin stok beras cukup hingga Maret 2024. Harapannya stok ini bisa terealisasi sampai akhir pertengahan Maret atau akhir Maret.  Dia mengatakan, jumlah stok beras di Bulog Bali saat ini ada 9.800 ton dan segera mendapatkan tambahan sebesar 5.000 ton lagi. Stok ini akan aman sampai bulan April atau setidaknya hingga lebaran.

Ia menegaskan, harga beras SPHP di Bulog tidak naik. Harganya di gudang Bulog Bali, kata dia, Rp9.950 per kilogram (kg) sehingga untuk kemasan 5 ilogram seharga Rp49.750. Sedangkan untuk penjualan Harga Ekonomis Tertinggi (HET) sebesar Rp10.900, dan untuk kemasan Rp54.500/5 kilogram. Selain itu, Bulog Bali tetap menyalurkan beras SPHP ataupun bantuan pangan. SPHP sebagai upaya pengendali dari Bulog Bali untuk masyarakat, hingga saat ini tercatat sudah tersalur sekitar 1.200 ton. Sony mengatakan, Bulog menyalurkan beras itu ke retail-retail seperti Toko Pangan Kita (TPK) dan Rumah Pangan Kita (RPK). "Hingga pasar murah-pasar murah yang bekerja sama dengan pemda atau pemkot," ujarnya.

Bulog juga turut menyalurkan bantuan pangan bagi warga tidak mampu di Bali. Setiap bulan, ada 1.912.860 kilogram yang disalurkan pada Januari, Februari, dan Maret 2024. Diharapkan, masyarakat yang kurang mampu mendapatkan bantuan beras murah dan gratis.

Di Kalimantan Barat, walaupun harganya naik, stok beras di kabupaten kota aman. Bahkan permintaan beras di Kalbar sudah meningkat sejak September 2023. Total yang digelontorkan sepanjang 2024 untuk beras SPHP sampai tanggal 22 Februari itu 5.350 ton dari target kita tahun 2024 yakni 25 ribu ton, jadi sudah 21,40 persen naik dari tahun lalu hanya 19.000 ton.

Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kanwil Kalbar Dedi Aprilyadi, Jumat (23/2/2024), memaparkan, stok cadangan beras pemerintah di gudang bulog Kalbar saat ini berjumlah 7.500 ton, terbesar di wilayah kantor cabang. Masih ada 3.000 ton dari DKI Jakarta dalam perjalanan, dan sebanyak 9.200 ton akan masuk dari Vietnam. Awal Maret di minggu pertama, stok beras akan masuk sebanyak 19.700 ton.

"Untuk kebutuhan penyaluran kita rata-rata 5 ribu ton sebulan, jadi kalau stoknya kita kuasai 19.700 ton, penyaluran kita rata-rata 5 ribu ton. Jadi kita bisa bertahan sampai 3 bulan lebih. Menjelang hari besar keagamaan, Ramadan dan Idul Fitri relatif aman di Kalbar," ujarnya.

5. Kata KPPU tak ada suplai dari produsen ke ritel modern

Sidak Kanwil II KPPU di ritel modern Provinsi Lampung. (Dok. Kanwil II KPPU).

Klaim ketersediaan CBP itu tak berbanding lurus dengan hasil pemantauan Kantor Wilayah II Komisi Pengawas Persaingan Usaha (Kanwil II KPPU) menyasar produsen beras di Lampung. Pemantauan sebagai tindaklanjut temuan kelangkaan beras di ritel modern dan kenaikan harga beras di pasar tradisional Lampung. Kepala Kanwil II KPPU, Wahyu Bekti Anggoro mengatakan, pihaknya memfokuskan pantauan

terhadap ketersediaan stok dan harga di tingkat produsen. Itu untuk mengkonfirmasi keterangan ritel modern menyatakan tidak tersedianya beras disebabkan tak ada suplai dari produsen dengan alasan harga.

"KPPU mendapati benar adanya surat pemberitahuan dari salah satu produsen kepada ritel modern di Lampung yang menginformasikan pemberhentian sementara waktu distribusi kepada ritel modern. Alasannya, harga saat ini sudah mencapai Rp14.500 per kilogram, sedangkan HET Rp13.900 per kilogram," ucap dia.

Sehubungan dengan ritel modern tidak dapat menjual produk di atas HET ditetapkan pemerintah, maka produsen memberhentikan suplai kepada ritel modern. "KPPU mendapati bahwa suplai terakhir oleh produsen kepada ritel modern dilakukan pada 9 Februari 2024," ujar Wahyu.

Wahyu menuturkan, produsen beras di Provinsi Lampung saat ini hanya mendistribusikan beras kepada pasar tradisional bersedia menerima dan menjual beras dengan harga di atas HET ditetapkan pemerintah. KPPU mendapati harga beras medium di tingkat produsen sudah mencapai Rp14.200 per kilogram dan beras premium Rp14.500 per kilogram sampai Rp14.700 per kilogram.

Artinya, harga beras di Lampung untuk premium sudah berada di atas 5,75 persen dari HET dan beras medium di atas 30,27 persen dari HET pemerintah. Kata dia, kenaikan harga beras di tingkat produsen dipengaruhi naiknya harga bahan baku GKP. Harga GKP di tingkat produsen sudah mencapai Rp7.750 per kilogram sampai Rp8.200 per kilogram, padahal harga acuan pembelian GKP di penggilingan yang ditetapkan pemerintah Rp5.100 per kilogram.

Ia menambahkan, ketersediaan stok gabah di tingkat produsen terbatas, khususnya gabah untuk bahan baku beras premium, sedangkan stok gabah untuk jenis beras asalan cukup. "Selain disuplai dari Provinsi Lampung, stok gabah produsen juga di pasok dari Provinsi Sumatera Selatan," kata Wahyu.

Sejalan dengan temuan tersebut, Wahyu menegaskan, KPPU menyoroti harga jual di tingkat produsen sudah berada di atas HET ditetapkan pemerintah. Atas harga jual produsen telah berada di atas HET ditetapkan, pihaknya bakal berkoordinasi kepada stakeholder tekait membidangi tata niaga gabah dan beras.

Lebih dari itu, KPPU turut menyoroti peningkatan harga gabah di tingkat petani dan produsen, sehingga bakal dilakukan pendalaman ihwal kenaikan harga gabah telah melebihi HAP sebesar 60,79 persen diduga dipengaruhi upaya penguasaan oleh pelaku usaha tertentu di dalam pasar.

"KPPU akan menindak sesuai dengan kewenangannya, apabila kenaikan harga jual beras dan harga beli gabah ditingkat produsen terjadi karena ada upaya hambatan pasar dalam bentuk penguasaan atas produksi atau pemasaran barang dan jasa oleh pelaku usaha tertentu. Itu dapat mengakibatkan terjadi praktik monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat," ujar Wahyu.

Ketua Perusahaan Daerah Dharma Santika (PDDS) Tabanan Provinsi Bali, Kompyang Gede Pasek Weda mengatakan, naiknya harga beras mulai terjadi sejak November 2023. Dari awalnya harga beras kualitas super Rp12.000 per kilogram perlahan naik hingga tembus Rp15.000 per kilogram. "Naiknya itu lumayan, sekitar 8-10 persen," kata Weda, Jumat (23/2/2024).

Meski harga beras naik, permintaan beras super dari outlet, restoran, maupun hotel yang bekerja sama dengan PDDS Tabanan tak terpengaruh. "Permintaan tetap 70 ton per bulan. Kami menaikkan harga jualnya, sesuai dengan kenaikan di pasaran," ujar Kompyang.

Sedangkan dari pantauan yang dilakukannya selama ini di sejumlah ritel modern, cenderung tidak lagi menjual beras premium karena patokan HET sudah diluar jangkauan mereka. Besaran HET yang sudah dibanderol Rp69.000 lebih dan harga belinya di atas Rp70.000, banyak peritel enggan menjual beras premium. 

Pemerintah Provinsi Lampung buka-bukaan membeberkan penyebab terjadinya kelangkaan ketersediaan penjualan beras di ritel-ritel modern di provinsi setempat. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan  Provinsi Lampung, Evie Fatmawaty mengatakan, fenomena kekosongan stok beras di retail modern dikarenakan adanya permintaan penyesuaian HET.

"Dari keterangan Aprindo (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia), mereka belum menjual beras ke pasar modern, karena menginginkan penyetaraan HET agar lebih di atas harga sebelumnya," ujarnya saat dimintai keterangan, Jumat (23/2/2024).

Berdasarkan Peraturan Badan Pangan Nasional (Perbadan) Nomor 7 Tahun 2023, HET beras premium di Provinsi Lampung seharga Rp13.900/Kg dan beras medium Rp10.900 per kilogram. Batas tertinggi penjualan harga beras itu diketahui berbanding terbalik dengan harga beras di pasar-pasar tradisional Kota Bandar Lampung. 

Dari pantauan IDN Times, Jumat (23/2/2024), harga beras premium kini dibanderol Rp19.500 per kilogram dan beras medium Rp17.000 - Rp18.000 per kilogram. Meski stok beras di ritel modern tergolong langka, 

Evie sendiri meyakini ketersediaan kebutuhan beras bagi konsumsi sehari-hari masyarakat masih tersedia melimpah pasar-pasar tradisional di Lampung. "Kami saat ini memang hanya memasukkan beras-beras ke pasar tradisional saja, sehingga yang pasti untuk ketersediaan beras bagi konsumsi masyarakat aman karena di pasar tradisional ada banyak," ucapnya.

Kelangkaan beras yang terjadi di supermarket di pulau Jawa tidak terjadi di Kabupaten Lombok Timur (Lotim), Provinsi Nusa Tenggara Barat. Stok beras di sejumlah supermarket di Lotim masih mencukupi.

Retail yang ada di Lotim tidak kesulitan untuk menyediakan beras di supermarket. Salah satunya Toko Sinar Bahagia. Retail terbesar di Lotim ini tidak kesulitan menyediakan beras karena sudah dipasok oleh penyuplai beras lokal. Sehingga stok selalu terjaga di supermarket.

"Kalau pasokan masih tetap aman, tidak ada kendala, karena kita bekerja sama dengan penyuplai lokal, hanya saja harganya naik cukup tinggi," ungkap Humas Ritel Sinar Bahagia H. Hafsan, di Lotim, Sabtu (24/2/2024).

Hafsan mengatakan karena memiliki pasokan yang cukup, pihaknya tidak melakukan pembatasan jumlah pembelian kepada konsumen. Pihaknya justru memberikan keringanan dengan membuka layanan eceran beras. Tujuannya konsumen yang memiliki keterbatasan uang karena tingginya harga beras ini, bisa membeli beras sesuai dengan kemampuan. 

"Kita buka layanan eceran, menyesuaikan kemampuan keuangan, akibat dampak dari tingginya harga beras ini," ucapnya.

6. Pasar murah jadi solusi pemda

Stok beras SPHP di Gudang Bulog Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Pemerintah Provinsi Banten menginstruksikan pemerintah daerah kabupaten/kota di wilayahnya menggelar gerakan pangan murah secara serentak dan masif. Hal ini dilakukan untuk menekan harga beras yang saat ini melambung tinggi. "Kami sudah mengirim surat ke kabupaten dan kota untuk mengimbau supaya gerakan pangan murah itu dimasifkan," kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan Banten Aan Muawanah pada Kamis (22/2/2024).

Aan mengatakan, Pemprov Banten telah menggelar gerakan pangan murah dua kali dalam seminggu yakni hari Selasa dan Jumat. Rencananya, mulai pekan ini akan ditambah dua hari lagi sehingga empat hari dalam seminggu. "Sekarang ditambah lagi Selasa Kamis untuk di beberapa daerah," katanya.

Ia menilai, gerakan pangan murah perlu dimasifkan agar harga beras yang saat ini melambung tinggi bisa ditekan hingga ke harga normal kembali, terutama menjelang puasa dan Idul Fitri. "Kami khawatir harga akan naik, tetapi kami coba upaya-upaya pemerintah itu dengan gerakan pangan murah ataupun operasi pasar," katanya.

Kendati demikian, ia mengklaim stok beras menjelang bulan suci Ramadan ini masih aman. Masyarakat pun dia minta untuk tetap tenang dan tidak panic buying. Ia mengaku telah mengecek dan memantau stok di pasar maupun di retail-ritel besar hingga medium, stok beras masih tersedia.

"Pada bulan Desember dan Januari lalu, memang produksi menurun, tapi stok itu ada. Makanya masyarakat itu jangan panic buying. Jangan merasa beras pasti habis. Insya Allah beras ada," katanya.

Pemerintah Kota Tangerang menambah titik lokasi Gelar Pangan Murah (GPM) bekerja sama dengan Perum Bulog. Kali ini, GPM digelar di 104 titik kelurahan se-Kota Tangerang. PJ Wali Kota Tangerang, Nurdin mengatakan, GPM adalah salah satu upaya menjaga ketersediaan pasokan beras di masyarakat. Kegiatan GPM akan digelar selama tiga hari, mulai 22- 24 Februari 2024 secara serentak di 104 kelurahan se-Kota Tangerang.

"Selain menghadirkan beras dengan harga murah, melalui GPM Pemkot ingin yakinkan pada masyarakat bahwa beras di Kota Tangerang tidak dalam kondisi langka," ujar Nurdin, Rabu (21/2/2024).

Nurdin menjabarkan, dalam kegiatan GPM, Pemkot telah menyiapkan beras medium Stabilisasi Pasokan Harga Pangan (SPHP) sebanyak 208 ton untuk 104 kelurahan di 13 kecamatan. "Masing-masing kelurahan akan menerima sebanyak 2 ton beras SPHP," tuturnya.

Alumnus Universitas Indonesia ini menambahkan, Pemkot Tangerang berencana terus menggelar GPM hingga menjelang momen Idul Fitri mendatang, guna mencegah kondisi kelangkaan beras di Kota Tangerang. "Masyarakat tidak perlu panik, karena Pemkot siap untuk menggelontorkan beras, baik secara langsung maupun melalui jalur distribusi yang ada," ujarnya.

Harga beras di Kota Banjarmasin mengalami fluktuasi setelah pemilu, tergantung pada jenisnya. Namun, kenaikan terbesar terjadi pada beras lokal, sementara harga beras dari Pulau Jawa tetap stabil. Menurut Kepala Dinas Perdagangan Dan Perindustrian Kota Banjarmasin Iqrom Muftesar, kenaikan harga beras disebabkan oleh cuaca ekstrem dalam beberapa pekan terakhir mempengaruhi pengiriman beras. Jenis beras lokal seperti Unus Mutiara mengalami kenaikan signifikan hingga Rp2.000, sementara jenis lain seperti Panda dan Mutiara naiknya di bawah Rp2.000.

Di sisi lain, harga beras dari Jawa seperti Lopoijo, Rojolele dan Pamanukan tetap stabil, berkisar antara Rp12.000 hingga Rp13.000 per liter. “Baru-baru ini, harga beras lokal naik. Data ini kami peroleh dari beberapa pasar tradisional. Kenaikannya berkisar antara Rp1.000 hingga Rp3.000," katanya.

Pemerintah Kota Palembang masih berupaya menekan kondisi kenaikan harga atau inflasi terhadap sejumlah komoditi, dengan menyelenggarakan kegiatan operasi pasar murah di setiap kecamatan. "Komoditas yang dijual di pasar murah ini harganya lebih terjangkau," ujar Penjabat Wali Kota (Pj Wako) Palembang, Ratu Dewa, Selasa (20/2/2024).

Beberapa komoditas yang tersedia di pasar murah seperti beras, bawang merah, bawang putih, cabai, gandum, gula, dan minyak. Sebab komoditas tersebut mengalami kenaikan harga di pasar tradisional dan toko ritel. "Warga bisa mendapatkan paket lima kilogram beras ditambah satu liter minyak goreng hanya dengan enam puluh tujuh ribu rupiah," kata dia.

Dirut PUD Pasar Medan Suwarno membenarkan harga beras seluruh Pasar Kota Medan mengalami kenaikan harga di atas HET. Harga beras yang naik yaitu jenis premium dan medium. Sebagai upayanya, di tengah kabar harga beras premium yang melonjak, Pasar Murah Keliling PUD Pasar Medan terus bergerak untuk menjangkau masyarakat. Dia menjelaskan, memasuki tahun 2024, durasi operasional Pasar Murah Keliling ditambah.

Dari yang sebelumnya satu kecamatan satu hari, menjadi satu kecamatan dua hari."Karena antusias dari masyarakat untuk memenuhi bahan pokok yang ada di Pasar Murah Keliling seperti beras, minyak goreng, dan gula, maka kami menambah durasi operasinalnya," ungkap Suwarno.

Pasar Murah Keliling sudah beroperasi di 8 kecamatan di Medan. Kecamatan-kecamatan itu adalah Johor, Tuntungan, Barat, Helvetia, Baru, Sunggal, Tembung, Petisah. Dari rentang waktu tersebut, total penjualan yakni 4.095 goni beras kategori medium, 3.979 liter minyak goreng dan 2.012 kg gula pasir. "Kami di PUD Pasar Medan terus berupaya menjaga agar distribusi kebutuhan bahan pokok seperti beras, minyak goreng dan gula terjaga. Selain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, juga menjaga stabilitas inflasi," tuturnya.

Sementara untuk menstabilkan harga beras, Badan Urusan Logistik NTB mendatangkan 13.000 ton beras dari Bulog Jawa Timur. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) NTB Abdul Aziz dikonfirmasi di Mataram, Kamis (22/2/2024). Pemprov NTB imbuhnya, punya cadangan beras pemerintah (CBP) sebanyak 56 ton. Sebanyak 3 ton sudah dikeluarkan ke Sumbawa dan satu ton ke Lombok Tengah untuk korban bencana alam. Aziz mengatakan sisa CBP sebanyak 52 ton cukup untuk mengantisipasi lonjakan harga beras jelang Ramadan. Apalagi akan datang pasokan beras dari Bulog sebanyak 13.000 ton.

Mengatasi meroketnya harga beras, Aziz menyebutkan ada tiga instrumen yang dilakukan pemerintah. Pertama, penyaluran bantuan pangan kepada masyarakat miskin. Kedua, Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dan ketiga melakukan gerakan pasar murah.

7. Produksi padi menurun

Petani di Kota Mataram memanen padi di tengah ancaman El Nino pada 2023 lalu. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Badan Pusat Statistik (BPS) tak menampik bahwa produksi padi di dalam negeri termasuk di Provinsi Jawa Barat yang menjadi salah satu lumbung alami penurunan. BPS mencatat beberapa peristiwa alam yang terjadi di Jawa Barat menyebabkan penurunan produksi padi pada tahun 2023 menjadi 9,095 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), dari sebelumnya 9,43 juta ton pada 2022

Tiga kabupaten/kota dengan total produksi padi tertinggi pada 2023 adalah Kabupaten Indramayu (1,41 juta ton), Kabupaten Karawang (1,09 juta ton), dan Kabupaten Subang (1,01 juta ton). Sementara, tiga kabupaten/kota dengan produksi padi terendah yaitu Kota Depok (33,1 ton), Kota Bogor (117,8 ton), dan Kota Cimahi (445,5 ton).

Penurunan produksi padi yang cukup besar pada 2023 terjadi di beberapa wilayah sentra produksi padi seperti Kabupaten Karawang (turun 130,2 ribu ton), Kabupaten Indramayu (turun 62,5 ribu ton), dan Kabupaten Bekasi (turun 48,3 ribu ton). Persoalan penurunan produksi padi tak hanya dikarenakan anomali cuaca. Hal lain yang menjadi pemicu adalah penurunan luasan lahan untuk memproduksi padi. Berdasarkan perkiraan luasan panen padi di Jawa Barat seluas 1,58 juta hektare yang terdiri dari realisasi luasan panen padi periode Januari−September 2023 sebesar 1,31 juta hektare, ditambah potensi luas panen padi pada Oktober−Desember 2023 sekitar 273,72 ribu hektare.

Dengan luas panen padi Provinsi Jawa Barat pada 2023 yang diperkirakan sekitar 1,58 juta hektare itu, mengalami penurunan sebanyak 81,53 ribu hektare atau 4,90 persen dibandingkan luas panen padi pada 2022 mencapai 1,66 juta hektare. Keterlambatan produksi padi pun sudah dipastikan oleh Dinas Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura (DTPH) Jawa Barat. Kepala DTPH Jabar Dadan Hidayat mengatakan, biasanya panen padi hingga Februari mampu mencapai luasan 443 ribu hektare. Sementara Februari tahun ini hanya ada 175 ribu hektare lahan yang bisa panen. Dadan menyebut, dampak el nino membuat masa panen di Jabar tahun ini tidak sesuai perhitungan dan ada pergesaran di mana panen baru bisa dilakukan pada April.

Meski puncak musim hujan diprediksi terjadi pada akhir Januari hingga Maret, faktanya pasokan air ke sentra-sentra produksi padi di Jawa Barat masih sulit. DPTH Jabar dan pemerintah pusat saat ini sudah melakukan pemetaan daerah mana saja yang akan dibantu dengan memompa air agar masuk ke lahan pesawahan. Saat ini pihaknya sudah mengidentifikasi calon petani calon lokasi yang akan dibantu program tersebut dengan berbagai syarat dan ketentuan.

Guna mendongkrak produksi padi tahun ini akan digunakan sejumlah cara, di antaranya memastikan petani menggunakan benih padi bersertifikat. “Penggunaan benih bersertifikat mampu meng-upgrade produksi sampai di angka 40 persen. Kita memastikan penggunaan benih bersertifikat, itu tantangannya,” kata dia.

8. Perlu alternatif pangan lain

ilustrasi jagung (pexels.com/NEOSiAM 2024+)

Pakar Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Taryono menilai saat ini memang perlu alternatif pangan untuk mengatasi kelangkaan. "Saya akan usul desentralisasi kedaulatan pangan. Pangan tidak harus beras seperti sekarang," ujar Dosen Departemen Budidaya Pertanian UGM itu, Kamis (22/2/2024).

Taryono menyebut, ketergantungan masyarakat pada nasi saat ini tidak lepas karena politik beras, sejak masa Orde Baru (Orba). Padahal menurut Taryono, setiap wilayah memiliki kekhasan dan potensi pangan masing-masing. "Di pantura, Jawa Timur sebagai contoh masyarakat masih suka mengonsumsi jagung. NTT, NTB juga sama. Saya lihat di Merauke, bahkan transmigrannya nanam talas untuk sumber karbohidrat," ujar Taryono.

Tidak hanya itu, Taryono menyebut di pesisir timur Sulawesi, orang juga bisa makan sagu dengan beragam bentuknya. "Kalau desentralisasi, saya pikir daerah lebih bergairah mengembangkan pangan lokal," kata Taryono.

Disinggung mengenai permasalahan beras saat ini, Taryono menilai saat ini tidak bisa juga dikatakan langka. Permasalahan yang ada dinilai karena masalah musim tanam yang terlambat. "Ya, tidak langka, yang langka kan beras premium yang dapat dihasilkan rice mill besar. Kalau harga sudah lama mahal, (musim) tanam terlambat," kata Taryono.

Untuk peningkatan produksi dalam negeri, Taryono menilai harus dilakukan  intensifikasi pertanian ramah lingkungan. Meski begitu, diakui Taryono hal tersebut juga tidak mudah, karena sejumlah tantangan. "Produksi dalam negeri belum optimal. Biaya usaha tani mahal, tenaga kerja sulit, padahal teknologi penggantinya belum siap atau sudah siap tetapi budaya masyarakat belum menerima," ujar Taryono.

9. Layanan pengaduan penimbunan sembako

pesawat telepon (unsplash.com/@anniespratt)

Tindak lanjut menyikapi ketersediaan hingga harga beras di Lampung, Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Lampung membuka layanan pengaduan terkait penimbunan sembilan bahan pokok, terutama komoditas beras. "Polda Lampung mengajak masyarakat melaporkan penimbunan sembako, khususnya beras, kepada kami untuk segera ditindaklanjuti," ujar Dirreskrimsus Polda Lampung, Kombes Pol Donny Arief Praptomo.

Bagi masyarakat yang menemukan penumpukan sembako, terutama beras, diharapkan segera menginformasikan temuan itu melalui nomor 085241252001. "Laporkan temuan penimbunan ini, kami akan segera menindaklanjuti setiap laporan dari masyarakat," katanya.

Selain membuka layanan pengaduan, Donny menambahkan, Tim Satgas Pangan Polda Lampung sebelumnya telah menggelar kegiatan pemantau terhadap dugaan-dugaan tersebut. Hasilnya, belum ditemui adanya tanda-tanda penimbunan oleh para pelaku usaha. Meski demikian, pihaknya mengamini adanya kelangkaan ketersediaan beras terjadi terutama pada retail modern menyediakan beras premium. Sedangkan di pasar tradisional terpantau dalam kondisi aman, namun dibandrol dengan harga tinggi.

Satgas Pangan bersama Bulog dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pasar tradisional Kosambi dan toko swalayan. Sidak ini untuk memastikan beras di Bulog disalurkan sudah sampai ke para pedagang dan bisa dibeli oleh masyarakat. Kepala Satgas Pangan Polda Jabar, Kombes Pol Deni Okvianto mengatakan, dari pantauan dilakukan dipastikan beras dari Bulog ukurang lima kilogram (kg) dengan merek SPHP sudah ada di pasaran baik yang tradisional maupun swalayan. Meski demikian, ada pembatasan pembelian agar semua masyarakat bisa membelinya.

"Kita sudah lihat ada dan harganya sesuai dengan HET. Ketersediaan cukup dan kepada masyarakat tidak panik untuk membeli karena memang kebijakannya dibatasi untuk pembelian satu orang satu beras," kata Deni.

Tim penulis: Tama Yudha Wiguna, Riyanto, Muhammad Iqbal, Wayan Antara, Khairil Anwar, Maya Aulia Aprilianti, Herlambang Jati Kusumo, Agung Sedana, Ni Ketut Wira Sanjiwani, Hamdani, Debbie Sutrisno, Fariz Fardianto, Indah Permata Sari, Feny Maulia Agustin, Tri Purnawati, Ayu Afria Ulita Ermalia, Muhammad Nasir dan Ruhaili.

Editorial Team

Related Article