Industri AMDK Hadapi Berbagai Tantangan, Amdatara: Kolaborasi Penting

- Amdatara Sumbar-Bengkulu menegaskan komitmen membangun industri AMDK berkualitas dan berdaya saing melalui penerapan SNI wajib serta kolaborasi lintas sektor untuk menjaga keberlanjutan usaha.
- Pelaku industri menghadapi tantangan besar seperti isu keberlanjutan sumber daya air, maraknya produk ilegal, kenaikan biaya produksi, dan tuntutan penerapan ekonomi sirkular di tengah ketidakpastian global.
- Amdatara mendorong program strategis seperti kepatuhan terhadap BPOM dan SNI, penerapan EPR, serta penguatan sinergi dengan pemerintah guna menciptakan industri AMDK yang sehat dan berkelanjutan.
Perkumpulan Pengusaha Air Minum Dalam Kemasan Nusantara (Amdatara) Sumbar-Bengkulu berkomitmen mewujudkan industri air minum dalam kemasan (AMDK) yang berkualitas, berdaya saing, dan berkelanjutan. Salah satunya dengan patuh pada pemberlakuan SNI wajib sebagaimana Permenperin Nomor 62 Tahun 2024.
"Aturan SNI wajib ini akan berimplikasi positif terhadap iklim bisnis. Kebijakan ini mampu menciptakan persaingan pasar yang lebih sehat dan membatasi peredaran produk-produk di bawah standar," kata Ketua Umum Amdatara, Karyanto Wibowo pada pembukaan Musyawarah Daerah (Musda) Amdatara Sumatera Barat-Bengkulu, di Bengkulu minggu lalu.
Namun, Karyanto juga memberi catatan kebijakan ini akan berdampak pada pelaku usaha skala kecil dan menengah. Dia berpendapat, pelaku usaha di daerah masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait kapasitas teknis dan sumber daya.
1. Industri AMDK berperan strategis dukung akses masyarakat terhadap air minum aman dan higienis

Karyanto melanjutkan, perusahaan skala menengah dan besar secara umum telah mengacu pada standar SNI dan sistem mutu yang ketat. Sehingga, sambung dia, perusahaan skala menengah dan besar relatif siap menghadapi implementasi regulasi tersebut.
"Sehingga diperlukan masa transisi yang memadai serta dukungan konkret dari pemerintah agar tidak terjadi disrupsi terhadap keberlangsungan usaha dan stabilitas pasokan di pasar," katanya.
Amdatara meyakini industri AMDK memiliki peran strategis dalam mendukung akses masyarakat terhadap air minum yang aman dan higienis. Oleh karena itu, kolaborasi lintas sektor menjadi faktor penting dalam menciptakan ekosistem industri yang sehat dan berkelanjutan.
"Amdatara hadir sebagai wadah kolaborasi bagi pelaku industri AMDK untuk terus meningkatkan standar mutu, memperkuat daya saing, serta berkontribusi dalam penyediaan air minum yang aman dan berkualitas bagi masyarakat," katanya.
2. Industri AMDK saat ini menghadapi berbagai tantangan

Ketua DPD Amdatara Sumbar-Bengkulu, Azra'i mengatakan industri AMDK saat ini menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari isu keberlanjutan sumber daya air, maraknya produk ilegal, hingga tuntutan penerapan ekonomi sirkular.
Selain itu, ketidakpastian ekonomi global dan krisis geopolitik turut berdampak pada kenaikan harga energi, bahan baku produksi, serta gangguan rantai pasok industri.
"Pelaku usaha dituntut untuk terus beradaptasi melalui efisiensi, inovasi, dan kemampuan membaca perkembangan pasar agar tetap mampu bertahan dan bersaing," katanya.
3. Amdatara terus mendorong berbagai program strategis

Azra'i mengatakan, Amdatara terus mendorong berbagai program strategis, termasuk penguatan kepatuhan terhadap standar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Standar Nasional Indonesia (SNI). Selain itu penerapan ekonomi sirkular melalui skema Extended Producer Responsibility (EPR), serta pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan
Terlebih ia menilai wilayah Sumatera Barat dan Bengkulu memiliki posisi strategis dalam pengembangan industri AMDK nasional. Karena itu, soliditas organisasi di tingkat daerah menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan usaha sekaligus meningkatkan kontribusi sektor tersebut terhadap perekonomian daerah.
Perwakilan BPOM Bengkulu Denton Simamora dan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bengkulu Desman Simamora mengapresiasi keberadaan Amdatara. Mereka menilai Amdatara sebagai wadah yang dapat memperkuat sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha dalam menjaga mutu, keamanan produk, serta perlindungan konsumen.
"Kehadiran Amdatara diharapkan dapat memperkuat koordinasi, pengawasan, dan kepatuhan terhadap regulasi perlindungan konsumen, sekaligus mendorong terciptanya industri AMDK yang berkualitas, berkelanjutan, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat serta daerah," kata Desman.
4. Sinergi antar pelaku usaha, pemerintah, dan pemangku kepentingan

Musda perdana yang dihelat DPD Amdatara itu menekankan sinergi antar pelaku usaha, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mendukung perkembangan industri AMDK yang sehat, kompetitif, dan bertanggung jawab.
Musda Sumbar-Bengkulu dihadiri oleh perwakilan dari sejumlah produk yang telah bergabung, di antaranya DTR atau Darussalam Tegal Rejo, Hidayah dari Perumda Tirta Hidayah Kota Bengkulu, Bio Ite Sui dari Rejang Lebong, serta Hanun dari Kepahiang, serta Aqua dan MAS.
Amdatara memiliki 60 anggota yang memproduksi produk-produk AMDK terkemuka. Asosiasi juga memiliki delapan DPD di Indonesia.


















