Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Gajah Indra TNWK Tutup Usia, 30 Tahun Mengabdi bagi Konservasi

Gajah Indra TNWK Tutup Usia, 30 Tahun Mengabdi bagi Konservasi
Gajah jinak jantan Indra berusia 42 tahun tutup usia di Taman Nasional Way Kambas Lampung TImur, Senin (22/6/2026). (Dok. Balai TNWK).
Intinya Sih
  • Gajah Indra, gajah jinak jantan berusia 42 tahun di Taman Nasional Way Kambas, meninggal setelah lebih dari tiga dekade mengabdi dalam konservasi Gajah Sumatera di Lampung.
  • Kondisi kesehatannya menurun sejak kecelakaan pada 2017 yang menyebabkan cedera tulang belakang, hingga akhirnya ambruk dan dinyatakan mati pada 22 Juni 2026 setelah upaya penyelamatan intensif.
  • Tiga jam setelah kematian, tim medis melakukan nekropsi sesuai SOP untuk memastikan penyebab klinis kematian, disaksikan aparat terkait sebelum jenazah dimakamkan di kawasan TNWK.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Lampung Timur, IDN Times - Gajah Indra kesehariannya berada di Taman Nasional Way Kambas Kabupaten Lampung Timur. Gajah jinak jantan berusia 42 tahun ini tutup usia setelah selama lebih dari tiga dekade menjadi bagian penting dalam upaya konservasi Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) di Provinsi Lampung.

Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas, MHD. Zaidi, mengatakan, kepergian gajah Indra merupakan kehilangan besar bagi dunia konservasi Indonesia. Menurutnya, hewan itu bukan hanya satwa binaan, tetapi bagian dari sejarah panjang konservasi Gajah Sumatera di Way Kambas.

"Dedikasinya dalam berbagai kegiatan lapangan dan penanganan konflik satwa liar telah memberikan kontribusi nyata. Kami menyampaikan penghormatan setinggi-tingginya atas pengabdian Gajah Indra selama hidupnya," ujar Zaidi dalam pernyataan resmi, Kamis (25/6/2026).

1. Bermula insiden kecelakaan akhir 2017

WhatsApp Image 2026-06-24 at 6.29.05 PM.jpeg
Gajah jinak jantan Indra berusia 42 tahun tutup usia di Taman Nasional Way Kambas Lampung TImur, Senin (22/6/2026). (Dok. Balai TNWK).

Zaidi menjelaskan, penurunan kondisi kesehatan Gajah Indra berakar dari insiden pada akhir 2017. Seusai membantu penanganan konflik satwa di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), kendaraan yang mengangkut Gajah Indra mengalami kecelakaan lalu lintas.

Peristiwa tersebut mengakibatkan trauma fisik serius. Hasil pemeriksaan medis menduga Indra mengalami gangguan pada ruas tulang belakang (suspect ruptur os vertebrae) yang secara bertahap memengaruhi gerak dan kesehatannya.

Sejak cedera tersebut, Gajah Indra dipensiunkan dari tugas lapangan. Tim dokter hewan dan perawat satwa TNWK memberikan perawatan intensif, terapi, serta pemantauan harian untuk menjaga kualitas hidupnya. Namun, kondisi fisiknya terus menurun seiring bertambahnya usia.

2. Tiba-tiba ambruk di lereng rawa dan tidak mampu berdiri

WhatsApp Image 2026-06-24 at 6.29.04 PM (1).jpeg
Gajah jinak jantan Indra berusia 42 tahun tutup usia di Taman Nasional Way Kambas Lampung TImur, Senin (22/6/2026). (Dok. Balai TNWK).

Gajah Indra menjalani aktivitas rutin mandi di area rawa Minggu, 21 Juni 2026 sore, . Saat hendak diarahkan naik kembali menuju kandang, Indra tiba-tiba ambruk di lereng rawa dan tidak mampu berdiri.

Upaya darurat segera dilakukan oleh mahout pendamping, Siswo, bersama tim rescue dengan bantuan gajah jinak lainnya. Meskipun sempat berhasil diposisikan duduk selama beberapa menit, kondisi fisik yang sangat lemah membuat Indra kembali rebah.

Mengingat keterbatasan medan rawa dan kondisi fisik satwa yang tidak memungkinkan untuk dievakuasi ke fasilitas medis utama, tim dokter hewan langsung melakukan tindakan penyelamatan darurat secara intensif di lokasi kejadian. Setelah berjuang keras selama lebih dari 20 jam untuk mempertahankan kondisi vitalnya, Gajah Indra akhirnya dinyatakan mati pada Senin, 22 Juni 2026 pukul 11.06 WIB.

3. Tindakan nekropsi dilakukan tiga jam setelah kematian

ilustrasi dokter (freepik.com/8photo)
ilustrasi dokter (freepik.com/8photo)

Sebagai bagian dari standar operasional prosedur (SOP) medis dan pemenuhan akuntabilitas ilmiah, tindakan nekropsi dilakukan tiga jam setelah kematian. Proses bedah bangkai ini dipimpin oleh drh. Diah Esty Nggraeni (PLG TNWK) dan drh. Atma (Sumatran Rhino Sanctuary), didukung lima tenaga kesehatan hewan dari Rumah Sakit Gajah TNWK.

Guna menjaga transparansi, proses nekropsi dilakukan di bawah pengawasan dan disaksikan langsung oleh unsur Polres Lampung Timur, Kodim 0429/Lampung Timur, serta Polisi Kehutanan TNWK. Sejumlah sampel organ telah diambil untuk analisis laboratorium lebih lanjut guna mendapatkan data komprehensif mengenai faktor klinis penyebab kematian.

Setelah seluruh rangkaian pemeriksaan selesai, jenazah Gajah Indra langsung dimakamkan di lokasi khusus dalam kawasan TNWK.

4. Dikenal memiliki karakter yang kuat, tangguh, dan berani

DSC01391.JPG
Wisatawan sedang melihat gajah di Taman Nasional Way Kambas, Rabu (20/8/2025). (IDN Times/Martin L Tobing).

Gajah Indra berasal dari Desa Karang Sari, Kabupaten Lampung Timur, dan bergabung dengan Pusat Latihan Gajah (PLG) TNWK sejak tahun 1995. Dikenal memiliki karakter yang kuat, tangguh, dan berani, Gajah Indra telah terlibat dalam berbagai operasi krusial di lapangan, mulai dari evakuasi gajah liar, patroli perlindungan kawasan, hingga mitigasi konflik antara manusia dan satwa liar di berbagai wilayah Lampung.

Dedikasi ini membuatnya sangat dihormati oleh para mahout, dokter hewan, perawat satwa, serta para pegiat konservasi. Kepergian Gajah Indra menjadi pengingat pentingnya dedikasi dan kolaborasi semua pihak dalam menjaga kelestarian satwa liar Indonesia.

Balai TNWK berkomitmen untuk terus memperkuat upaya konservasi Gajah Sumatera melalui perlindungan habitat, mitigasi konflik, peningkatan kapasitas pelayanan medis, serta penguatan kesejahteraan gajah-gajah binaan di bawah pengelolaan negara.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Martin Tobing
EditorMartin Tobing

Latest News Lampung

See More