Hari Pertama WFH, ASN di Lampung Sulap Ruang Tamu jadi 'Kantor Mini'

- Tri Mardiono, ASN Bawaslu Lampung, memulai hari pertama WFH dengan mengubah ruang tamu menjadi kantor mini dan menjalankan absensi digital sesuai aturan pemerintah.
- Ia menilai WFH memberi keuntungan efisiensi biaya namun tetap memiliki tantangan seperti koordinasi kerja dan gangguan jaringan internet di rumah.
- Istri Tri yang bekerja di laboratorium kesehatan tetap wajib masuk kantor, sementara Tri menegaskan esensi WFH adalah tanggung jawab dan profesionalisme, bukan sekadar lokasi kerja.
Bandar Lampung, IDN Times - Pagi ini suasana rumah Tri Mardiono tampak sedikit berbeda. Bukan bersiap berangkat ke kantor, ASN di Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Lampung itu justru membuka laptop di sudut ruang tamu rumahnya seraya duduk bersila di depan meja lipat sederhana.
Dengan mengenakan kemeja rapi, Tri tetap memulai hari seperti biasa, hanya saja kali ini tanpa perjalanan menuju kantor. Hari Jumat kali ini menjadi momen hari pertama pelaksanaan Work From Home (WFH) sesuai kebijakan pimpinan dan pemerintah pusat.
“Kalau dibilang kaget, sebenarnya enggak juga. Karena kita sudah pernah menjalani WFH sejak zaman Covid-19,” ujarnya dimintai keterangan, Jumat (10/4/2026).
1. WFH bukan hal baru, tapi tetap butuh adaptasi

Sebagai analis sumber daya manusia (SDM) aparatur di Bawaslu Lampung, Tri mengaku WFH bukan pengalaman pertama baginya. Ia bahkan sudah beberapa kali merasakan pola kerja serupa, baik saat pandemik maupun kebijakan efisiensi di masa pemerintahan baru.
Namun, bekerja dari rumah tetap menghadirkan suasana berbeda. Jika di kantor segala sesuatu sudah tertata, di rumah ia harus menciptakan sendiri “ruang kerja” yang nyaman.
Tri pun memanfaatkan meja lipat kecil dengan alas karpet hijau cerah sebagai tempat bekerja. Laptop terbuka di depannya, sementara ponsel diletakkan di samping sebagai alat pendukung kerja.
Meski sederhana, suasana itu cukup untuk menunjang aktivitasnya. Diawali dengan kewajiban yang sama, yakni absensi. Hanya saja, kini dilakukan secara digital. “Kalau WFH, presensi pakai HP (handphone). Kami harus foto wajah, lalu ada titik lokasi juga, jadi pimpinan bisa tahu kita benar-benar hadir,” jelasnya.
2. Menurut Tri, WFH itu ada plus minus
.jpg)
Meski bekerja di rumah, Tri meyakini aturan jam kerja formal tetap berlaku, sebab, seluruh pegawai wajib melakukan presensi sebelum pukul 08.00 WIB dan baru bisa melakukan presensi pulang setelah pukul 16.00 WIB.
"Ya, tadi kita melakukan absensi melalui presensi online. Alhamdulillah tadi lancar tidak ada kendala, keterangannya juga langsung berhasil," katanya sambil menunggu layar gawai.
Lebih lanjut ia amat mendukung kebijakan WFH tersebut. Pasalnya, Tri mengaku dapat lebih berhemat mulai dari BBM perjalanan pulang pergi kantor hingga urusan uang jajan selama bekerja.
Di sisi lain, kebijakan itu dirasa tetap memiliki tentangan tersendiri, salah satunya urusan koordinasi pekerjaan. "Ya, jelas koordinasi dengan pimpinan dan rekan kerja tentu itu tidak secepat sewaktu kita berkantor gitu. Kemudian masalah jaringan juga, terkadang jaringan di rumah kita lambat, karena terkadang aplikasi pemerintahan itu membutuhkan sinyal yang yang kuat," lanjut dia.
Selain itu, ia menyebutkan bahwa bekerja dari rumah juga berarti harus berdamai dengan berbagai distraksi. Pasalnya, aktivitas rumah tangga bisa saja mengganggu konsentrasi, jika tidak disikapi dengan baik. “Kembali ke pribadi, harus punya tanggung jawab dan tetap fokus menyelesaikan pekerjaan,” tegas warga Bandar Lampung tersebut.
3. Istri tetap bekerja di bidang pelayanan publik

Di sisi lain, kebijakan WFH diketahui tidak berlaku bagi seluruh pegawai negeri. Kondisi itu dialami Istri Tri juga ASN di bidang kesehatan disebut tetap harus bekerja langsung dari kantor.
“Istri saya di laboratorium kesehatan daerah. Karena langsung melayani masyarakat, jadi tidak bisa WFH karena masuk posisi yang dikecualikan,' jelasnya
4. Bukan soal lokasi, tapi tanggung jawab

Di akhir perbincangan, Tri menegaskan bahwa esensi dari WFH bukan terletak pada lokasi kerja, melainkan pada bagaimana seseorang tetap menjalankan tanggung jawab pekerjaan.
Melalui ruang tamu rumah yang sederhana berbekal meja kecil dan laptop yang menyala, Tri membuktikan bahwa profesionalisme tidak selalu harus hadir dari balik meja kantor.
“Bukan masalah kerja di rumah atau di kantor, yang penting kami tetap berkomitmen menyelesaikan pekerjaan dan menjaga kinerja,” imbuh Tri.


















