Ilustrasi risiko (pixabay.com/wokandapix)
Achmad mengatakan, ke depan BI memprakirakan inflasi Lampung tetap terjaga dalam rentang sasaran 2,5±1 persen (yoy) pada akhir 2026. Meski demikian, sejumlah risiko perlu diwaspadai, dari sisi inflasi inti, volatile food, maupun administered prices.
Dari sisi inflasi inti, risiko berasal dari peningkatan permintaan agregat sejalan dengan implementasi kenaikan UMP 2025 sebesar 5,35 persen yang direalisasikan bertahap sepanjang 2026 serta potensi kenaikan harga emas dunia di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Sementara itu, dari sisi volatile food, risiko dipengaruhi rendahnya realisasi tanam pada Maret 2026 akibat curah hujan tinggi yang berpotensi menekan capaian panen dan meningkatkan tekanan inflasi pada triwulan II. Prakiraan curah hujan rendah pada April–September serta potensi peralihan menuju El Nino lemah pada semester II juga berisiko menekan produksi tanaman pangan dan hortikultura.
Dari sisi administered prices, risiko yang perlu diwaspadai antara lain potensi kenaikan harga BBM seiring peningkatan harga minyak dunia serta dampak lanjutan kenaikan tarif Tol Lampung ruas Bakauheni–Terbanggi Besar terhadap penyesuaian tarif transportasi antarkota dan harga rokok.