Dermaga Bom Kalianda Pusat Cuan Baru, Target Omzet Rp3,4 Miliar

- Pemkab Lampung Selatan menargetkan transformasi Dermaga Bom Kalianda jadi pusat ekonomi baru dengan proyeksi omzet Rp3,4 miliar per tahun dan kontribusi PAD hingga Rp450 juta.
- Konsep pengembangan fokus pada reposisi kawasan agar lebih produktif, higienis, dan estetik, termasuk tambahan modal Rp285 juta untuk infrastruktur dasar serta fasilitas usaha strategis.
- Kawasan dibagi tiga segmen waktu: pelelangan ikan pagi hari, kuliner laut siang hari, dan wisata air panas sore hari guna menjaga aktivitas ekonomi sepanjang hari.
Lampung Selatan, IDN Times - Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan tak lagi ingin melihat kawasan pesisir hanya ramai saat sore hari. Lewat Rencana Bisnis (Renbis) 2026, pemkab membidik transformasi Dermaga Bom Kalianda menjadi pusat ekonomi baru yang diproyeksikan menyumbang omzet hingga Rp3,4 miliar per tahun.
Perseroda Lampung Selatan Maju memproyeksikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) mencapai Rp400 juta–Rp450 juta per tahun. Angka tersebut dinilai realistis karena berbasis potensi usaha yang sudah memiliki pasar jelas.
Direktur Utama Perseroda Lampung Selatan Maju, Baiquni Aka Sanjaya, mengatakan pihaknya tidak sedang membangun bisnis spekulatif.
“Kami mengoptimalkan potensi yang sudah ada pasarnya, seperti pengelolaan parkir, distribusi pangan, dan sektor pariwisata,” ujarnya dalam paparan Renbis 2026.
1. Tak Sekadar revitalisasi, tapi reposisi kawasan

Baiquni mengatakan, salah satu fokus utama Renbis adalah pembenahan total kawasan Dermaga Bom. Namun konsep yang ditawarkan bukan sekadar perbaikan fisik.
Menurutnya, kawasan ini akan direposisi menjadi ruang publik yang higienis, estetik, sekaligus produktif secara ekonomi. Artinya, wajah pesisir diperindah, tapi tetap menghasilkan perputaran uang yang nyata bagi daerah dan pelaku usaha lokal.
Ia bahkan mengusulkan tambahan modal sekitar Rp285 juta untuk mendukung perbaikan fasilitas dasar dan infrastruktur usaha di titik-titik strategis kawasan tersebut.
2. Dibagi tiga Segmen, pagi hingga senja tetap hidup

Lebih lanjut Baiquni menjelaskan, konsep pengembangan dibagi dalam tiga segmen waktu dan fungsi agar kawasan tak lagi “mati” di jam tertentu.
Dermaga 1 difokuskan untuk aktivitas pelelangan ikan dan operasional SPBU nelayan pada pagi hari. Dermaga 2 dikembangkan menjadi pusat kuliner dengan konsep “From Sea To Table”, menghadirkan olahan laut segar langsung dari pesisir.
Sementara kawasan wisata air panas dioptimalkan sebagai destinasi sore hari untuk menikmati panorama matahari terbenam.
3. Dorong pedagang fokus pada olahan hasil laut dan makanan khas Lampung Selatan

Kepala Divisi Pariwisata Perseroda Lampung Selatan Maju, Yosefh Fauzi, berharap pola ini mendorong pedagang lebih fokus pada olahan hasil laut dan makanan khas Lampung Selatan.
“Harapan kami, pedagang fokus pada olahan ikan dan memperkenalkan makanan khas daerah agar wisatawan tertarik,” katanya.
Yosefh menekankan kolaborasi lintas perangkat daerah menjadi kunci agar Perseroda benar-benar berfungsi sebagai motor penggerak ekonomi lokal, bukan sekadar badan usaha pelengkap struktur.
"Jika skenario ini berjalan sesuai rencana, Dermaga Bom Kalianda berpotensi menjelma dari ikon wisata biasa menjadi mesin pendapatan baru yang memperkuat kemandirian fiskal Lampung Selatan," imbuhnya.















