Cerita Nasrudin, Pemudik Bawa 30 Kg Pisang untuk Tetangga di Tangerang

- Nasrudin, pemudik asal Kalianda, Lampung Selatan, membawa 30 kilogram pisang sebagai oleh-oleh untuk tetangga dan saudara di Cikupa, Tangerang.
- Tradisi membawa hasil bumi setiap Lebaran menjadi simbol kebersamaan bagi Nasrudin, sekaligus pengingat kampung halaman yang selalu ia rindukan.
- Selama di kampung, Nasrudin memanfaatkan momen Lebaran untuk bersilaturahmi dan berkumpul dengan keluarga besar yang jarang bisa ditemui.
Lampung Selatan, IDN Times - Arus balik Lebaran 2026 tak hanya soal perjalanan panjang menuju perantauan, tapi juga cerita hangat tentang kebersamaan dan berbagi. Kondisi itu tergambar dari sosok Nasrudin (43), pemudik sepeda motor membawa pulang oleh-oleh hasil bumi dari kampung halamannya di Kalianda, Lampung Selatan.
Di sela menunggu antrean kendaraan roda dua di Pelabuhan Bakauheni, Nasrudin tampak bersiap melanjutkan perjalanan menuju Cikupa, Kabupaten Tangerang. Di bagian depan motornya, tergantung karung berisi pisang kepok dan muli seberat sekitar 30 kilogram.
Ia baru saja pulang dari Kalianda, Lampung Selatan, usai bersilaturahmi dengan keluarga. Perjalanan arus balik kali ini dilakoninya bersama sang ayah.
“Ini bawa pisang dari kampung, buat oleh-oleh. Nanti dibagikan ke tetangga sama saudara di rumah,” ujarnya saat ditemui sambil tersenyum, Jumat (27/3/2026).
1. Lakoni pulang kampung setiap lebaran

Bagi Nasrudin, membawa buah tangan dari kampung halaman sudah menjadi tradisi setiap lebaran. Ia ingin berbagi hasil bumi yang sederhana, namun penuh makna, kepada orang-orang terdekat di perantauan.
Perjalanan tahun ini pun ia rasakan lebih lancar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ia mengaku berangkat setelah Azhar dan tidak menemui kendala berarti sepanjang perjalanan menuju pelabuhan.
“Alhamdulillah tahun ini lebih lancar. Gak terlalu padat, jadi perjalanan juga lebih nyaman,” katanya dengan rawut wajah sumringah.
2. Oleh-oleh simbol kebersamaan pengingat kampung halaman

Meski harus menempuh perjalanan jauh membawa beban cukup berat, semangat Nasrudin tak surut. Baginya, oleh-oleh tersebut bukan sekadar buah tangan, melainkan simbol kebersamaan dan pengingat kampung halaman.
Setiap tahun, ia selalu menyempatkan diri pulang saat lebaran. Dan setiap kali kembali ke tanah rantau, ada cerita yang ikut dibawa termasuk pisang dari kebun kampung yang akan dibagikan dengan penuh kehangatan di lingkungan tempat tinggalnya di Cikupa.
"Kalau saya setiap tahun memang pulang karena di sana masih ada ibu. (Oleh-oleh pisang) Rencana buat buah tangan dan akan dibagikan ke tetangga dan saudara," ucap dia.
3. Banyak habiskan waktu bersilahturahmi dengan keluarga besar

Nasrudin mengaku banyak menghabiskan waktu bersama keluarga besar di Kalianda. Pasalnya, momen lebaran dimanfaatkannya untuk bersilaturahmi, berkumpul, dan melepas rindu dengan orang tua serta sanak saudara di kampung halaman.
“Pulang kampung sekalian silaturahmi sama keluarga. Jarang bisa kumpul lengkap, jadi Lebaran ini dimanfaatkan,” imbuh Nasrudin.


















