Bukan Rudal, Ini Penjelasan Ilmiah Objek Melintas di Langit Lampung

- Fenomena benda bercahaya di langit Lampung bukan rudal, melainkan kemungkinan besar sampah antariksa atau meteor yang memasuki atmosfer bumi menurut penjelasan ahli dari ITERA.
- Ada juga kemungkinan pengaruh dari Komet C/2026 (MAPS) yang sedang melintas dekat bumi pada awal April, namun identifikasi pasti menunggu temuan benda jatuh di permukaan.
- Warga diminta tetap tenang dan waspada karena potensi bahaya bisa muncul jika benda langit tersebut jatuh di area permukiman seperti kasus meteorit Punggur tahun 2021.
Bandar Lampung, IDN Times – Beredarnya video objek bercahaya melintas di langit Lampung bikin heboh warga pada, Sabtu (4/4/2026) malam membuat beragam spekulasi pun muncul, mulai dari meteor hingga rudal.
Terkait hal itu, Dosen Sains Atmosfer dan Keplanetan (SAK) Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Robiatul Muztaba, memastikan fenomena tersebut bukan rudal seperti yang ramai diperbincangkan.
Robiatul menjelaskan, berdasarkan penelusuran awal, ada dua kemungkinan sumber objek bercahaya tersebut.
Pertama, sampah antariksa (space debris) yang melintas di langit Indonesia. Kedua, fenomena alam berupa meteor yang masuk ke atmosfer bumi.
“Memang timing-nya kebetulan bersamaan dengan isu global, tapi itu jelas bukan rudal. Dugaan kami antara space debris atau meteor,” ujarnya saat dihubungi, Minggu (5/4/2026).
1. Ada dua kemungkinan

Terkait sampah antariksa, Robiatul menduga berasal dari roket atau satelit milik China yang memang melintas di wilayah Indonesia pada waktu yang sama.
"Kedua, fenomena alam berupa meteor yang masuk ke atmosfer bumi. Memang ada data yang menunjukkan objek dari China melintas di langit kita. Tapi selain itu, ada juga kemungkinan fenomena meteor,” ujarnya.
Dalam sains, peristiwa ini dikenal sebagai bolide, yaitu meteor yang pecah saat memasuki atmosfer bumi.
“Kalau meteor, dia bisa pecah dan terlihat menyebar seperti di video. Itu yang kita sebut fenomena bolide,” jelasnya.
Sebaliknya, sampah antariksa biasanya tidak terlihat secerah itu dan tidak mudah pecah saat memasuki atmosfer.
2. Komet juga jadi kemungkinan pemicu

Selain dua kemungkinan tadi, Robiatul juga menyebut adanya fenomena Komet C/2026 (MAPS) yang sedang melintas pada awal April.
Komet tersebut diperkirakan mendekati matahari pada 4 April dan titik terdekat ke Bumi sekitar 6 April. “Bisa saja ada pengaruh dari fenomena komet ini, apalagi waktunya berdekatan,” katanya.
Meski begitu, ia menegaskan identifikasi pasti baru bisa dilakukan jika ditemukan benda yang jatuh ke permukaan bumi. Ia menambahkan selama objek masih berada di atmosfer, kemungkinan interpretasi masih terbuka.
“Kalau belum ditemukan benda jatuhnya, kita belum bisa memastikan secara pasti itu apa,” jelasnya.
3. Warga diminta tetap tenang tapi waspada

Robiatul mengimbau masyarakat tidak perlu panik, selama objek tersebut tidak jatuh di permukiman. Namun, ia mengingatkan potensi bahaya jika benda langit tersebut benar-benar mencapai permukaan.
Ia mencontohkan, kejadian meteorit Punggur tahun 2021 di Lampung yang sempat merusak rumah warga. “Kalau jatuh di pemukiman tentu berbahaya. Bisa merusak atap bahkan benda di dalam rumah,” ujarnya.
Diketahui warga di berbagai wilayah Lampung sempat dihebohkan dengan kemunculan benda bercahaya DDI langit. Dalam sejumlah video yang beredar, terlihat objek terang meluncur perlahan di langit malam dengan ekor cahaya panjang dan tampak terfragmentasi.
Sejumlah warga yang menyaksikan langsung spontan merekam kejadian itu. Banyak di antaranya menduga benda tersebut adalah meteor jatuh.
“Eh, apa itu? Meteor ya? Kok pecah-pecah gitu, panjang banget apinya,” ujar salah satu warga dalam video yang beredar.


















