Arus Balik 2026, Pedagang Keliling Bakauheni Keluhkan Sepinya Pembeli

- Arus balik Lebaran 2026 di Pelabuhan Bakauheni membuat pendapatan pedagang keliling menurun drastis, hanya sekitar Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per hari.
- Perubahan pola pemudik dan pengalihan kendaraan besar ke pelabuhan lain menyebabkan berkurangnya pembeli dari pengendara motor serta sopir truk.
- Pedagang seperti Erna dan Ana kini lebih banyak menunggu pembeli karena suasana pelabuhan jauh lebih sepi dibandingkan tahun sebelumnya.
Lampung Selatan, IDN Times - Kondisi arus balik Lebaran 2026 mulai melandai di Pelabuhan Bakauheni tak hanya berdampak pada lalu lintas penumpang dan kendaraan, tetapi juga dirasakan langsung oleh para pedagang kecil di area pelabuhan.
Erna (53), pedagang kopi keliling sudah 15 tahun berjualan di kawasan pelabuhan, mengaku pendapatannya tahun ini menurun drastis dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ia menyebut, penghasilannya saat arus balik Lebaran 2026 hanya berkisar Rp100 ribu hingga maksimal Rp200 ribu per hari.
“Sekarang paling dapat Rp100 ribu, mentok-mentok Rp200 ribu. Kalau tahun kemarin bisa sampai Rp500 ribu sehari,” ujarnya saat ditemui di area pelabuhan, Jumat (27/3/2026).
1. Adanya perubahan pola pemudik

Erna melanjutkan, penurunan ini dipengaruhi perubahan pola pemudik, terutama pengendara sepeda motor. Banyak pemudik kini memilih singgah di warung-warung di luar area pelabuhan setempat.
Alhasil, setibanya mereka di Pelabuhan Bakauheni atau area tunggu kendaraan mayoritas tidak lagi membeli minuman kopi sedu atau sekadar air mineral kemasan.
“Sekarang banyak yang sudah makan atau minum di luar, jadi di dalam pelabuhan jarang yang beli kopi atau air minum,” katanya.
2. Omzet pembeli dari kendaraan besar hilang

Kebijakan pengalihan kendaraan besar, khususnya jenis truk yang tidak lagi masuk ke Pelabuhan Bakauheni juga turut berdampak pada omzet pedagang. Diketahui, kendaraan logistik pada masa arus mudik maupun balik kali ini dialihkan ke pelabuhan alternatif seperti Wika Beton dan PT SMA.
Akibatnya, potensi pembeli dari sopir dan kru kendaraan besar ikut berkurang. Sebagai gambaran, Erna menyebut perputaran dagangannya tahun ini jauh lebih lambat.
Bahkan, air panas dalam termos yang biasa ia isi ulang berkali-kali kini belum habis hingga sore hari.
“Kalau tahun lalu, termos bisa isi ulang sampai lima kali. Sekarang ini yang bawa dari rumah saja belum habis,” kata warga asal Bakauheni.
3. Ngaku lebih banyak habiskan waktu menunggu pembeli

Kondisi serupa juga dirasakan Ana (25), pedagang keliling lainnya di pelabuhan. Ia mengaku lebih banyak menghabiskan waktu menunggu pembeli dibandingkan melayani penumpang seperti pada arus balik tahun sebelumnya.
“Sekarang lebih sering nunggu, sepi. Tidak seramai dulu. Pokoknya tahun ini kerasa benar sepinya dari tahun-tahun lalu," imbuh dia.


















