Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Yuk Intip Pengolahan Terasi Lampung dan Ikan Asin Khas Tulang Bawang

Yuk Intip Pengolahan Terasi Lampung dan Ikan Asin Khas Tulang Bawang
Olahan ikan asin dan terasi Lampung khas Tulangbawang (IDN Times/Silviana)

Bandar Lampung, IDN Times -  Provinsi Lampung terkenal dengan surganya keripik pisang. Tapi jangan salah, masih ada banyak makanan khas Lampung yang berasal dari kabupaten lainnya lho. Kali ini berasal dari Kabupaten Tulang Bawang, memiliki pusat pembuatan ikan asin dan terasi sebagai oleh-oleh khas daerah tersebut.

Jika kamu melintas di Jalan Lintas Timur menuju Sumatera Selatan tentu akan menemukan pedagang ikan asin dan terasi di kanan kiri jalan setelah jembatan Cakat Raya.

Menurut salah satu pedagang, Hartati, ciri khas terasi di Tulang Bawang adalah menggunakan udang air tawar, sehingga warnanya kemerahan. Karena kebanyakan pembuatan terasi menggunakan bahan dari cumi-ikan laut dan menghasilkan warna hitam.

Berikut ini IDN Times rangkum pengolahan ikan asin dan terasi khas Tulang Bawang.

1. Andalkan ikan air tawar

Olahan ikan asin dan terasi Lampung khas Tulangbawang (IDN Times/Silviana)
Olahan ikan asin dan terasi Lampung khas Tulangbawang (IDN Times/Silviana)

Para pedagang yang mengandalkan tangkapan ikan dan udang air tawar untuk diolah menjadi ikan asin dan terasi. Menurut Hartati, saat ini jumlah ikan di sungai sudah mulai jarang. Terlebih untuk menangkap udang dalam satu hari hanya mendapat 2 kilogram saja. Itu tak hanya diolah menjadi terasi, melainkan ada juga kerupuk kemplang.

"Kalau bulan dua atau tiga itu air gede baru banyak ikan. Kalau sekarang gini ada dikit-dikit aja. Makannya kita udah punya stok yang kering," kata Hartati kepada IDN Times, Selasa (18/5/2021).

2. Cara pengolahan terasi

Olahan ikan asin dan terasi Lampung khas Tulangbawang (IDN Times/Silviana)
Olahan ikan asin dan terasi Lampung khas Tulangbawang (IDN Times/Silviana)

Hartati menjelaskan, proses pembuatan terasi khas Tulang Bawang ini secara utuh hanya menggunakan udang dan garam saja. Udang yang telah dibersihkan itu karang garam kemudian didiamkan dalam ember tertutup hingga lembek dan berair. Tapi tidak sampai busuk ya.

Setelah itu, udang akan ditumbuk hingga halus dan jadilah terasi. Biasanya Hartati mengolah menjadi tiga bagian. Ada yang murni tanpa diolah lagi, matang hingga matang dan dikeringkan.

"Terasi yang sudah dimasak sampai matang harganya Rp100 ribu per kilogram (kg). Kalau yang masih mentah Rp50 ribu. Kalau yang sudah dikeringkan satu kemasan ini seperempat Rp10 ribu," terangnya.

Terasi tersebut, menurut Hartati jika disimpan dalam wadah tertutup rapat bisa bertahan 2-3 bulan. Sedangkan jika disimpan dalam lemari dingin bisa bertahan hingga satu tahun.

3. Olahan ikan asap dan ikan asin

Olahan ikan asin dan terasi Lampung khas Tulangbawang (IDN Times/Silviana)
Olahan ikan asin dan terasi Lampung khas Tulangbawang (IDN Times/Silviana)

Lebih lanjut Hartati menjelaskan cara pengolahan ikan asin diasap dan langsung dijemur. Menurutnya, ikan diasap harganya lebih mahal karena melalui proses pengolahan lebih lama.

Misalnya saja ikan gabus diasap, 1 kg harganya Rp200 ribu. Sedangkan untuk ikan asin gabus biasa Rp80 ribu.

"Kalau ikan asap kita mengasapi-nya selama satu hari, ada juga sampai dua hari. Kalau ikan asin kita rendam dua hari sama garam terus kita cuci baru dijemur," ujarnya.

4. Membedakan ikan asin alami dengan bahan pengawet

Olahan ikan asin dan terasi Lampung khas Tulangbawang (IDN Times/Silviana)
Olahan ikan asin dan terasi Lampung khas Tulangbawang (IDN Times/Silviana)

Menurutnya ikan asin tersebut tidak menggunakan bahan pengawet, namun bisa bertahan tiga sampai enam bulan.

"Kalau kita ngeliat warna merah itu jangan takut itu bukan pengawet tapi pakai garam. Nanti dicuci juga bersih. Kalau pakai pengawet dia bersih putih mengkilat terus keras sampai beberapa tahun. Makannya ini bentuknya jelek karena pakai garam," terang Hartati.

Ia menambahkan untuk ikan asap rasanya tawar sehingga cocok untuk sayur lodeh atau santan. Sementara ikan paling banyak dicari adalah gabus,seluang, sepat dan baung.

5. Mulai sepi pembeli sejak ada jalan tol

Olahan ikan asin dan terasi Lampung khas Tulangbawang (IDN Times/Silviana)
Olahan ikan asin dan terasi Lampung khas Tulangbawang (IDN Times/Silviana)

Beberapa pedagang mengaku kehilangan pelanggan sejak adanya Jalan Tol Trans Sumatera menghubungkan Provinsi Lampung dan Sumatera Selatan. Itu lantara, sudah sangat jarang pengendara melintas di Jalan Lintas Timur itu.

"Cuma posisi sekarang ini sepi karena ada tol itu. Kalau dulu paling ramai itu bisa dapat 1 juta sehari. Sekarang 30 ribu aja susah. Tapi ya masih dapatlah untuk jajan anak untuk makan harian," ungkap Hartati.

Hal yang sama juga dirasakan pedagang lainnya Rosita. Menurutnya, sebelum ada Tol banyak pengendara dari Palembang, Medan, Riau yang mampir mebeli dagangannya.

"Sekarang saya mulai jual lewat Facebook jadi lumayan lah ada yang beli online," katanya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Silviana
Martin Tobing
Silviana
EditorSilviana
Follow Us

Latest News Lampung

See More

Mahasiswi Unila Top 3 Best Traditional Costume Putri Indonesia 2026

23 Apr 2026, 15:48 WIBNews