Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Tukang Sayur Naik Haji di Lampung Selatan, 20 Tahun Menabung

Tukang Sayur Naik Haji di Lampung Selatan, 20 Tahun Menabung
Adna Yusri, penjual sayuran keliling di Lampung Selatan menjajakan dagangannya ke warga. (IDN Times/Istimewa).
Intinya Sih
  • Adna Yusri, pedagang sayur asal Lampung Selatan, berhasil menabung selama 20 tahun dari penghasilan harian Rp5–20 ribu untuk mewujudkan impian berhaji pada Mei 2026.
  • Meski bahagia akan berangkat ke Tanah Suci, Adna merasa sedih karena harus meninggalkan istrinya yang belum mampu ikut akibat keterbatasan ekonomi keluarga.
  • Di Tanah Suci nanti, Adna berdoa agar keluarganya, terutama sang istri dan anak cucu, juga mendapat kesempatan menunaikan ibadah haji di masa mendatang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Lampung Selatan, IDN Times - Jalan hidup Adna Yusri (58) tak pernah jauh dari kerja keras. Sehari-hari, pria asal Desa Karang Jaya, Kecamatan Merbau Mataram, Lampung Selatan (Lamsel) itu berkeliling menjajakan sayur dari kampung ke kampung.

Dibalik rutinitas sederhana tersebut, tersimpan mimpi besar yang dirawat selama puluhan tahun, yakni berangkat ke Tanah Suci. Mimpi itu kini tinggal menghitung hari, Adna dijadwalkan akan berangkat haji pada 5 Mei 2026 mendatang.

Bagi sebagian orang, pergi haji mungkin diraih melalui penghasilan besar atau usaha mapan. Namun bagi Adna, perjalanan menuju Baitullah ditempuh lewat uang receh hasil berdagang sayur keliling.

“Awalnya ya nabung gitu, dari uang kecil-kecil ditabungin. Karena sering nabung setiap hari, lama-lama jadi banyak. Total sudah ada 20 tanunan," katanya dimintai keterangan, Sabtu (25/4/2026).

1. Sisihkan uang Rp5 ribu-Rp20 ribu per hari

IMG_20260425_182640.jpg
Penampakan uang koin hasih tabungan Adna Yusri. (IDN Times/Istimewa).

Selama sekitar 15 tahun berjualan sayur, Adna menyisihkan sebagian penghasilannya. Nilainya tak besar, terkadang Rp5 ribu-Rp10 ribu. Namun jika dagangan sedang ramai, ia sesekali bisa menabung Rp20 ribu dalam sehari.

Jumlah kecil itu ternyata mampu menjadi jalan menuju impian telah lama ia simpan. Keinginan naik haji bukan cita-cita yang baru muncul ketika Adna menjadi pedagang sayur. Jauh sebelum itu, ia adalah seorang petani yang hidup dari hasil kebun.

Adna pernah menanam kayu jati dengan harapan hasilnya dapat digunakan untuk biaya haji. Namun rencana itu tak berjalan mulus, sebab, kayu yang ditanam akhirnya dipakai untuk kebutuhan keluarga. “Kayu jatinya dipakai anak-anak buat bikin rumah,” ujarnya.

Tak berhenti di situ, ia juga sempat menaruh harapan pada tanaman cokelat. Namun hasil panen yang datang setahun sekali kerap habis untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Menurutnya, berdagang sayur justru memberi peluang lebih nyata. Meski penghasilannya kecil, uang masuk hampir setiap hari. “Kalau dagang sayur ini tiap hari dapat duit walaupun sedikit tapi bisa rutin disisihkan buat tambah tabungan," lanjut dia.

2. Sedih harus berangkat tanpa istri

IMG_20260425_182630.jpg
Adna Yusri, penjual sayuran keliling di Lampung Selatan menjajakan dagangannya ke warga. (IDN Times/Istimewa).

Dibalik kebahagiaan menjelang keberangkatan ke Tanah Suci, Adna menyimpan perasaan yang sulit disembunyikan. Ia harus berangkat seorang diri tanpa sang istri.

Saat disinggung hal tersebut, suaranya perlahan melemah dan matanya mulai berkaca-kaca. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia mengaku amat ingin berangkat bersama pasangan hidupnya.

Namun, kondisi ekonomi saat mendaftar tidak memungkinkan untuk membayar biaya haji untu dua orang jemaah sekaligus.Meski demikian, dukuan tanpa surut terus datang dari sang istri yang mendorong dirinya untuk mendaftar lebih dulu.

“Istri saya bilang, ‘Bapak aja yang berangkat dulu. Saya gak apa-apa nggak berangkat,’” katanya.

Keputusan itu diambil karena saat itu anak-anak mereka masih kecil dan banyak kebutuhan yang harus diprioritaskan. Meski sudah mendapat restu, Adna mengaku tetap merasa sedih.

“Gimana gak sedih, dari awal kita berjuang bareng-bareng, kok berangkat sendirian. Rasa khawatir ada, takut pandangan orang lain beda, seolah meninggalkan istrinya demi berangkat sendiri," lirihnya.

3. Doa sederhana di Tanah Suci

IMG_20260425_182720.jpg
Adna Yusri, penjual sayuran keliling di Lampung Selatan menjajakan dagangannya ke warga. (IDN Times/Istimewa).

Bagi Adna, ibadah haji bukan sekadar perjalanan spiritual pribadi. Ia membawa harapan besar untuk keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Saat ditanya doa apa ingin dipanjatkan di Tanah Suci, jawabannya cukup sederhana.

“Semoga anak cucu saya, keluarga saya, tetangga saya, terutama istri saya bisa dipanggil juga untuk menunaikan ibadah haji,” imbuhnya.

Share
Topics
Editorial Team
Martin Tobing
EditorMartin Tobing
Follow Us

Latest News Lampung

See More