Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Suspek Campak di Lampung Tembus 591 Kasus, Positif Terbanyak Lamsel!
ilustrasi campak (freepik.com/freepik)
  • Dinas Kesehatan Lampung mencatat 591 kasus suspek campak hingga awal April 2026, dengan 52 kasus positif dan Lampung Selatan menjadi wilayah dengan jumlah tertinggi.

  • Kasus campak meningkat dibanding tahun sebelumnya, dari 28 kasus positif pada 2025 menjadi 52 kasus di 2026, seiring penguatan sistem surveilans Case Based Measles Surveillance (CBMS).

  • Peningkatan kasus dipicu rendahnya cakupan imunisasi MR akibat hoaks, kelompok anti-vaksin, dampak pandemik COVID-19, serta tingginya mobilitas masyarakat saat momen mudik Lebaran.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandar Lampung, IDN Times - Dinas Kesehatan Provinsi Lampung mencatat ratusan kasus dugaan campak (suspek) sejak Januari hingga awal April 2026. Dari jumlah tersebut, puluhan di antaranya telah terkonfirmasi positif berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium rujukan nasional.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Edwin Rusli mengatakan, pihaknya menghimpun terdapat 591 kasus suspek campak yang ditemukan di berbagai wilayah hingga 3 April 2026.

“Dari jumlah itu, sebanyak 52 kasus telah dinyatakan positif campak berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium,” ujarnya dikonfirmasi, Jumat (3/4/2026).

1. Lampung Selatan tertinggi, hasil sebagian wilayah masih ditunggu

Kadinkes Provinsi Lampung, Edwin Rusli. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).

Edwin merincikan, sebanyak 52 kasus positif itu tersebar di delapan kabupaten/kota. Lampung Selatan (Lamsel) menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi sebanyak 15 kasus, disusul Lampung Utara 10 kasus, Kota Metro 9 kasus, Pringsewu 8 kasus, dan Tanggamus 7 kasus.

Sementara itu, Lampung Timur, Tulang Bawang Barat, dan Mesuji masing-masing mencatat satu kasus. Meski demikian, ia menyebut masih ada tujuh kabupaten/kota yang hingga kini belum keluar hasil pemeriksaan spesimen dari laboratorium rujukan nasional.

“Semua kasus positif maupun suspek sudah ditangani di fasilitas pelayanan kesehatan dan saat ini kondisinya sembuh,” jelasnya.

2. Tren kasus meningkat dibanding tahun sebelumnya

ilustrasi campak pada anak (CDC/Public Health Image Library (PHIL), ID#28830)

Lebih lanjut Dinkes Lampung juga mencatat adanya peningkatan kasus dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, jumlah kasus campak positif tercatat sebanyak 28 kasus, sementara hingga awal April 2026 sudah mencapai 52 kasus.

Tak hanya itu, jumlah suspek juga meningkat. Sepanjang 2025 ditemukan sekitar 500 suspek, sedangkan hingga 3 April 2026 sudah mencapai 591 kasus. Namun, Edwin menjelaskan peningkatan ini juga dipengaruhi oleh penguatan sistem surveilans melalui program Case Based Measles Surveillance (CBMS), yang bertujuan menemukan kasus secara dini.

“Semakin banyak suspek yang ditemukan lebih cepat, maka penanganan bisa segera dilakukan untuk menekan penularan,” katanya.

Pemicu peningkatan kasus mulai dari rendahnya imunisasi hingga dampak pandemik

ilustrasi campak pada anak kecil (commons.wikimedia.org/CDC)

Menurut Edwin, kemunculan kasus campak di Lampung dipengaruhi sejumlah faktor, salah satunya cakupan imunisasi campak-rubella (MR) yang belum merata dan belum mencapai target di atas 95 persen.

Kondisi tersebut dipicu berbagai faktor, mulai dari maraknya hoaks tentang imunisasi, adanya kelompok anti-vaksin, hingga kekhawatiran orangtua terhadap efek samping, seperti demam. Selain itu, dampak pandemi COVID-19 pada 2020–2023 juga berpengaruh terhadap menurunnya layanan imunisasi rutin. Alhasil, banyak anak yang lahir pada periode tersebut belum mendapatkan imunisasi lengkap.

"Mayoritas kasus campak saat ini berasal dari anak kelahiran masa pandemik COVID-19. Faktor lain juga memicu peningkatan kasus adalah rendahnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya campak serta tingginya mobilitas penduduk, terutama saat momen mudik Lebaran,” katanya.

4. Tidak ada korban meninggal, masyarakat diminta waspada

ilustrasi campak (drugtopics.com)

Meski jumlah kasus meningkat, Edwin memastikan hingga saat ini tidak ada laporan kematian akibat campak di Lampung. Seluruh pasien telah mendapatkan penanganan medis dan dinyatakan sembuh.

Namun demikian, ia mengingatkan masyarakat untuk tidak menganggap campak sebagai penyakit ringan. Pasalnya, penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi serius seperti diare berat, pneumonia, radang otak, hingga kebutaan.

“Campak sangat menular dan bisa menjangkiti hingga 18 orang dari satu kasus. Karena itu, kami mengimbau masyarakat untuk melengkapi imunisasi anak,” imbuhnya.

Editorial Team