Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Nestapa Petani Lamsel Hadapi El Nino, Sawah Terancam Kekeringan

Kab. Lampung Selatan
Nestapa Petani Lamsel Hadapi El Nino, Sawah Terancam Kekeringan
Petani Gapoktan Makmur Sejati, Kabupaten Lampung Selatan. (IDN Times/Istimewa).
Intinya Sih
  • Petani di Sidomakmur, Lampung Selatan, menghadapi keterbatasan air akibat El Nino saat padi berusia sekitar 60 hari dan memasuki fase generatif yang sangat membutuhkan irigasi.
  • Penggunaan pompa air serentak membuat daya listrik melemah, sehingga pengairan sawah terhambat dan petani harus menyalakan pompa secara bergantian.
  • Strategi tanam awal sejak Juni membuat kondisi tanaman diperkirakan masih 75 persen; petani meminta tambahan sumur bor serta penguatan jaringan listrik untuk ratusan hektare sawah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Lampung Selatan, IDN Times - Musim kemarau dipengaruhi fenomena El Nino mulai dirasakan para petani di Kabupaten Lampung Selatan. Keterbatasan air untuk irigasi hingga melemahnya daya listrik menjadi tantangan utama dihadapi petani, untuk menyelamatkan tanaman padi memasuki fase generatif.

Ketua Gapoktan Makmur Sejati, Joko Umboro mengatakan, tanaman padi di Desa Sidomakmur, Kecamatan Way Panji saat ini telah berusia sekitar 60 hari atau mulai memasuki fase bunting. Pada fase tersebut, kebutuhan air menjadi sangat krusial.

"Yang paling dibutuhkan sekarang itu air. Rata-rata petani sudah punya sumur bor kecil ataupun sibel, tapi karena cuaca seperti ini ada yang airnya tinggal sedikit, bahkan ada yang sudah tidak keluar sama sekali," ujarnya dikonfirmasi IDN Times, Sabtu (1/8/2026).

1. Daya listrik melemah karena digunakan bersamaan

ilustrasi arus listrik
ilustrasi arus listrik (pexels.com/Onics Energy)

Selain pasokan air semakin terbatas, Joko menyebutkan, penggunaan pompa air secara bersamaan turut membuat daya listrik di wilayah pertanian setempat kerap melemah.

Alhasil, kondisi tersebut diakui amat menghambat proses pengairan sawah lantaran pompa tidak dapat bekerja secara maksimal. Bahkan petani terpaksa harus mengakalinya dengan cara dihidupkan bergantian

"Kalau semua petani memakai jaringan listrik bersamaan, sering terjadi dayanya lemah jadi tidak kuat untuk menghidupkan pompa air," keluhnya.

2. Tanam lebih awal jadi strategi hindari gagal panen

IMG_20260801_165648.jpg
Petani Gapoktan Makmur Sejati, Kabupaten Lampung Selatan. (IDN Times/Istimewa).

Meski menghadapi musim kemarau, Joko mengaku kondisi pertanian di Way Panji masih relatif lebih baik dibandingkan sejumlah daerah lain di Lampung Selatan yang beberapa tempat mulai terancam gagal panen akibat kekeringan.

Menurutnya, kondisi tersebut ditopang anjuran Dinas Pertanian agar petani melakukan masa tanam lebih awal sebelum puncak musim kemarau tiba.

"Alhamdulillah masih ada harapan. Kami mengikuti anjuran pemerintah dengan tanam lebih awal sejak awal Juni. Di Sidomakmur kami kompak tanam serentak, sehingga mudah-mudahan tanaman masih bisa diselamatkan," ucapnya.

Selain itu, Joko memperkirakan kondisi tanaman saat ini masih sekitar 75 persen dan berpeluang menghasilkan panen sehingga petani setidaknya dapat mengembalikan modal tanam. "InsyaAllah masih bisa kalau balik modal," lanjut dia.

3. Petani berharap tambahan sumur bor dan penguatan jaringan listrik

Pembuatan sumur bor di Gampong Rumoh Rayeuk
Pembuatan sumur bor. (Dok. BNPB)

Di tengah ancaman kekeringan, Joko berharap pemerintah segera merealisasikan bantuan infrastruktur penunjang pertanian, terutama tambahan sumur bor dan penguatan jaringan listrik di kawasan persawahan.

Pasalnya, bantuan tersebut sangat dibutuhkan agar petani tetap dapat mengairi sawah selama musim kemarau berlangsung. "Mohon bantuannya, karena harapan teman-teman petani tentu modal bisa kembali dan syukur alhamdulillah bisa ada untung sedikit-sedikit," pintanya.

Hingga saat ini bantuan sumur bor disebut memang sudah pernah diterima kelompok tani. Namun, jumlahnya masih belum mampu memenuhi kebutuhan lahan pertanian di wilayah setempat yang mencapai ratusan hektare.

"Sumur bor sudah ada, tapi luas lahan kami ratusan hektare sehingga belum mencukupi. Sekarang ada informasi akan ada tambahan bantuan, mudah-mudahan bisa segera direalisasikan," imbuh Joko.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More