Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

ISGCS 2026 Soroti Krisis Iklim Global, UBL Dorong Kolaborasi

ISGCS 2026 Soroti Krisis Iklim Global, UBL Dorong Kolaborasi
SDGs Center menggelar 4th International Symposium on Global Collaboration for Sustainability (ISGCS) 2026 di Hotel Holiday Inn Bandar Lampung, Rabu (20/5/2026). (Dok.UBl).
Intinya Sih
  • ISGCS 2026 di Bandar Lampung mempertemukan pemerintah, akademisi, swasta, dan masyarakat sipil untuk membahas strategi menghadapi krisis iklim global melalui kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan.
  • Forum ini menegaskan pentingnya kolaborasi multipihak dalam pembangunan perkotaan tangguh terhadap perubahan iklim, dengan dukungan proyek SDGs SSTC Phase II dan inisiatif KEM11LAU Provinsi Lampung.
  • UBL menyoroti peran perguruan tinggi sebagai katalisator inovasi dan perubahan sosial, dengan 35 peneliti mempresentasikan riset terkait solusi nyata untuk isu keberlanjutan dan ketahanan iklim.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Bandar Lampung, IDN Times - Krisis iklim global yang semakin kompleks menuntut lahirnya kolaborasi lintas sektor yang konkret dan berkelanjutan. Menjawab tantangan tersebut, Universitas Bandar Lampung (UBL) melalui SDGs Center menggelar 4th International Symposium on Global Collaboration for Sustainability (ISGCS) 2026 di Hotel Holiday Inn Bandar Lampung, Rabu (20/5/2026).

Mengusung tema “Navigating Global Climate Challenges through Multi-Stakeholder Partnership”, forum internasional ini mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, media, hingga sektor swasta dalam ruang kolaborasi. Tujuannya, untuk membahas strategi menghadapi tantangan perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.

Forum berlangsung dinamis melalui rangkaian agenda. Mulai dari welcome remarks, pemaparan dokumen rencana aksi, penandatanganan piagam kolaborasi MSP KEM11LAU, simposium internasional, hingga presentasi hasil riset para akademisi dan peneliti.

1. Hadirkan pembicara internasional

ilustrasi seminar (pexels.com/Matheus Bertelli)
ilustrasi seminar (pexels.com/Matheus Bertelli)

Forum ini turut menghadirkan sejumlah pembicara nasional dan internasional dari berbagai negara. Di antaranya Senior Advisor FORCLIME GIZ Indonesia Mohammad Sidig dari Jerman, Assistant Professor University of Tokyo Anh Cao dari Jepang, Lead Country Indonesia Climateworks Centre Jannata Giwangkara dari Australia, serta Adjunct Professor of Chosun University Daisy Park dari Korea Selatan.

Selain itu, hadir pula Deputy Minister for Human Development and Culture Bappenas Pungkas Bahjuri Ali serta Commission Manager SDGs SSTC Phase II GIZ Indonesia Zulazmi. Jalannya diskusi dipandu moderator sekaligus Parekraf Lampung Ambassador, Indra Pradya.

ISGCS 2026 merupakan bagian dari implementasi proyek Strengthening Capacities for Policy Planning for the Implementation of the 2030 Agenda in Indonesia and in the Global South Phase II (SDGs SSTC Phase II) yang didukung oleh GIZ Indonesia dan terintegrasi dengan Inisiatif KEM11LAU Provinsi Lampung.

2. Kolaborasi multipihak menjadi kunci

ilustrasi kolaborasi (pexels.com/fauxels)
ilustrasi kolaborasi (pexels.com/fauxels)

Dalam kerangka Framework Inisiatif KEM11LAU, forum ini menjadi bagian dari penguatan Multi-Stakeholder Collaboration in Urban Development. Khususnya dalam mendorong koordinasi, pertukaran pengetahuan, dan pengembangan kolaborasi lintas pemangku kepentingan untuk pembangunan perkotaan yang tangguh terhadap perubahan iklim.

Commission Manager SDGs SSTC Phase II GIZ Indonesia, Zulazmi, menegaskan tantangan iklim tidak dapat diselesaikan secara sektoral. Kolaborasi multipihak menjadi kunci dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks.

"Melalui forum seperti ISGCS 2026, kita dapat mempertemukan pemerintah, akademisi, komunitas, sektor swasta, dan masyarakat sipil untuk membangun solusi bersama yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya.

3. Pentingnya peran perguruan tinggi sebagai penggerak inovasi dan katalisator perubahan sosial

ilustrasi inovasi VR (pexels.com/Oleksandr P)
ilustrasi inovasi VR (pexels.com/Oleksandr P)

Rektor UBL, M Yusuf S Barusman, menekankan pentingnya peran perguruan tinggi sebagai penggerak inovasi dan katalisator perubahan sosial dalam agenda pembangunan berkelanjutan. Universitas tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan penelitian, tetapi juga harus hadir sebagai katalisator kolaborasi dan perubahan sosial.

"Melalui ISGCS 2026, kami ingin memperkuat peran akademisi dalam membangun solusi nyata terhadap isu perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan,” katanya.

Menurut Yusuf, isu perubahan iklim kini tidak lagi menjadi tantangan masa depan, melainkan persoalan nyata yang membutuhkan respons cepat, terukur, dan berbasis kolaborasi global.

4. Ada 35 paper presenter mempresentasikan hasil penelitian

ilustrasi presentasi (freepik.com/DC Studio)
ilustrasi presentasi (freepik.com/DC Studio)

Ketua Pelaksana ISGCS 2026, M Denu Poyo, menyebut antusiasme peserta pada penyelenggaraan tahun ini meningkat secara signifikan. Tidak hanya menjadi ruang diskusi akademik, forum tersebut juga memperkuat jejaring kemitraan lintas sektor di Provinsi Lampung.

“Tahun ini terdapat 35 paper presenter yang mempresentasikan hasil penelitian dan praktik baik terkait pembangunan berkelanjutan serta kemitraan multipihak. Ini menunjukkan tingginya perhatian akademisi dan praktisi terhadap isu keberlanjutan dan ketahanan iklim,” ujar Denu.

Selain menghadirkan pembicara nasional dan internasional, ISGCS 2026 juga diramaikan oleh panel diskusi yang melibatkan berbagai organisasi dan institusi di Lampung. Forum tersebut diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi strategis sekaligus memperkuat sinergi lintas sektor dalam mendukung pembangunan berkelanjutan, baik di tingkat lokal maupun global.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Martin Tobing
EditorMartin Tobing

Latest News Lampung

See More