Kasus Pneumonia di Bandar Lampung Naik Hampir 50 Persen Saat Kemarau

- Dinas Kesehatan Bandar Lampung mencatat kasus pneumonia mencapai 55 pada pekan ke-28 2026, naik 48,6 persen dibandingkan empat pekan sebelumnya.
- Udara kering dan suhu panas saat kemarau berisiko mengiritasi saluran napas serta mempercepat pertumbuhan bakteri pada makanan dan air.
- Warga diimbau memperbanyak minum, menjaga kebersihan makanan dan air, menghindari aktivitas berat siang hari, serta memakai masker untuk mengurangi paparan debu.
Bandar Lampung, IDN Times – Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Bandar Lampung mencatat lonjakan kasus pneumonia hampir 50 persen dalam empat pekan terakhir.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Muhtadi Arsyad Temenggung, mengatakan kondisi tersebut menjadi peringatan bagi masyarakat untuk lebih waspada terhadap dampak musim kemarau, meski cuaca di kota setempat masih tergolong berisiko rendah.
Menurutnya, udara yang lebih kering selama musim kemarau dapat memicu berbagai gangguan kesehatan apabila masyarakat tidak melakukan langkah pencegahan.
"Paparan udara kering dan suhu panas dapat memicu berbagai gangguan kesehatan apabila masyarakat tidak menerapkan langkah pencegahan," katanya, Minggu (2/8/2026).
1. Kasus pneumonia naik 48,6 persen

Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Kota Bandar Lampung pada minggu ke-28 tahun 2026, kasus pneumonia mencapai 55 kasus.
"Jumlah tersebut meningkat sekitar 48,6 persen dibandingkan dengan empat pekan sebelumnya," jelas Muhtadi.
Selain itu, Diskes juga mencatat kenaikan kasus suspek demam tifoid atau tipes menjadi 191 kasus atau naik sekitar 12,4 persen.
Sementara itu, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tercatat sebanyak 2.335 kasus dan cenderung stabil. Kasus diare akut mencapai 319 kasus, sedangkan influenza-like illness (ILI) tetap berada di angka empat kasus.
2. Dipicu udara kering

Muhtadi mengungkapkan suhu rata-rata di Bandar Lampung saat ini berkisar 25,9 hingga 26,4 derajat Celsius dengan durasi penyinaran matahari sekitar 4,2 jam per hari.
Meski kondisi tersebut masih tergolong aman, udara yang lebih kering dapat menyebabkan iritasi saluran napas sehingga meningkatkan risiko penyakit pernapasan.
"Suhu panas juga mempercepat pertumbuhan bakteri pada makanan dan air sehingga berpotensi memicu penyakit pencernaan seperti diare akut maupun demam tifoid," ucapnya.
3. Warga diminta perbanyak minum dan kenakan masker

Untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan selama musim kemarau, Diskes mengimbau masyarakat untuk memperbanyak konsumsi air putih agar tidak mengalami dehidrasi.
Selain itu, warga juga disarankan mengenakan pakaian yang nyaman saat beraktivitas di luar ruangan dan menghindari aktivitas fisik berat, terutama pada pukul 11.00 hingga 15.00 WIB.
Muhtadi juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga kebersihan makanan dan minuman dengan memastikan makanan dimasak hingga matang serta menggunakan air layak konsumsi.
"Penggunaan masker saat berada di luar ruangan juga dianjurkan untuk mengurangi paparan debu yang meningkat selama musim kemarau," tuturnya.



















