Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Air Berkah dan Perebutan Jembul Warnai Paperahan Ke-206 Tahun di Kalianda

Kota Bandar Lampung
Air Berkah dan Perebutan Jembul Warnai Paperahan Ke-206 Tahun di Kalianda
Tradisi Sedekah Bumi atau Paperahan di Desa Sumur Kumbang, Kecamatan Kalianda (dok.humas/lamsel)
Intinya Sih
  • Tradisi Sedekah Bumi atau Paperahan di Desa Sumur Kumbang, Kalianda, kembali digelar pada usia 206 tahun sebagai wujud syukur atas hasil bumi dan pelestarian budaya.
  • Prosesi diawali pembagian air berkah dari sumur keramat, dilanjutkan arak-arakan Jembul berisi hasil pertanian, perebutan isi Jembul, serta makan bersama warga.
  • Bupati Radityo Egi Pratama menegaskan dukungan Pemkab Lampung Selatan agar Paperahan tetap dilaksanakan, dikenal generasi muda, dan berkembang menjadi agenda budaya lebih besar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Lampung Selatan, IDN Times - Tradisi Sedekah Bumi atau Paperahan di Desa Sumur Kumbang, Kecamatan Kalianda, kembali digelar. Memasuki usia 206 tahun sejak pertama kali dilaksanakan pada 1820, tradisi ini tetap menjadi wujud syukur masyarakat atas limpahan hasil bumi sekaligus menjaga warisan budaya yang terus bertahan di tengah perkembangan zaman.

Mengusung tema Hamparan Syukur di Kaki Gunung Rajabasa, ratusan warga memadati lokasi kegiatan untuk mengikuti seluruh rangkaian prosesi adat. Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, turut hadir dan disambut melalui prosesi pengalungan sarung serta pemasangan peci oleh tokoh adat sebagai simbol penghormatan kepada pemimpin daerah sekaligus penghargaan terhadap tradisi yang diwariskan lintas generasi.

1. Air berkah dari sumur keramat jadi simbol doa dan rasa syukur

Pelaksanaan tradisi Sedekah Bumi atau Paperahan di Desa Sumur Kumbang, Kecamatan Kalianda, bersama warga setempat.
Tradisi Sedekah Bumi atau Paperahan di Desa Sumur Kumbang, Kecamatan Kalianda (instagram/disparbud_lampungselatan)

Paperahan diawali dengan pembagian air berkah yang diambil dari sejumlah mata air atau sumur keramat di Desa Sumur Kumbang. Air yang telah didoakan oleh tokoh agama dan sesepuh adat itu menjadi simbol permohonan keberkahan, keselamatan, serta ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil bumi yang melimpah.

Sebelum prosesi dimulai, masyarakat bergotong royong menyiapkan seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari menyiapkan hidangan, penyembelihan hewan, hingga menata lokasi acara. Semangat kebersamaan tersebut menjadi nilai yang terus dijaga dalam tradisi Sedekah Bumi yang telah bertahan selama lebih dari dua abad.

2. Arak-arakan Jembul hingga perebutan hasil bumi jadi puncak tradisi

Suasana tradisi Sedekah Bumi atau Paperahan di Desa Sumur Kumbang, Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan.
Tradisi Sedekah Bumi atau Paperahan di Desa Sumur Kumbang, Kecamatan Kalianda (instagram/disparbud_lampungselatan)

Usai prosesi air berkah, masyarakat mengarak Jembul yang dihiasi aneka hasil bumi dan komoditas pertanian sebagai lambang rasa syukur atas rezeki yang diberikan. Arak-arakan itu menjadi salah satu prosesi paling dinanti karena mencerminkan kekayaan pertanian sekaligus kebersamaan warga Desa Sumur Kumbang.

Puncak acara berlangsung saat perebutan isi Jembul dimulai. Ratusan warga berbaur memperebutkan hasil bumi yang dipercaya membawa keberkahan, kemakmuran, dan harapan panen yang lebih baik pada musim berikutnya. Seluruh rangkaian kemudian ditutup dengan makan bersama yang semakin mempererat hubungan masyarakat, tokoh adat, dan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan.

3. Pemkab Lampung Selatan ingin Paperahan jadi kebanggaan generasi muda

Suasana tradisi Sedekah Bumi atau Paperahan yang berlangsung di Desa Sumur Kumbang, Kecamatan Kalianda.
Tradisi Sedekah Bumi atau Paperahan di Desa Sumur Kumbang, Kecamatan Kalianda (instagram/disparbud_lampungselatan)

Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama mengatakan Sedekah Bumi bukan sekadar agenda tahunan, melainkan warisan budaya yang menyimpan nilai sejarah, filosofi, dan semangat kebersamaan yang harus terus dijaga.

"Acara seperti ini menunjukkan filosofi yang kuat dan menjadi identitas masyarakat kita. Saya ingin tradisi ini terus dilaksanakan setiap tahun dan menjadi kebanggaan generasi muda, sehingga mereka semakin mengenal dan mencintai budaya daerahnya sendiri," ujar Egi, Minggu (2/8/2026).

Menurutnya, kemajuan zaman tidak boleh membuat generasi muda kehilangan jati diri. Karena itu, pelestarian tradisi lokal harus terus diperkuat agar tetap hidup di tengah derasnya pengaruh budaya luar. Pihaknya menegaskan, Pemkab Lampung Selatan berkomitmen mendukung berbagai tradisi masyarakat dan mendorong Sedekah Bumi Sumur Kumbang berkembang menjadi agenda budaya yang lebih besar agar semakin memperkenalkan kekayaan budaya Lampung Selatan kepada masyarakat luas.

"Tradisi seperti ini harus terus kita rawat dan kita jaga. Tidak banyak daerah yang masih memiliki budaya dan adat istiadat seperti ini. Mari bersama-sama melestarikannya agar tidak lekang dimakan waktu," kata Egi.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More