Itera Dipercaya UNESCO Kembangkan Infrastruktur Pesisir Tahan Tsunami

- Itera dipercaya UNESCO melalui program SUSTAIN untuk memperkuat ketahanan infrastruktur pesisir terhadap tsunami, menjadi bagian dari agenda global UN Decade of Ocean Science 2021–2030.
- Dalam program ini, Itera berperan sebagai implementing partner utama yang mengembangkan penilaian risiko, pedoman teknis, dan kegiatan capacity building bagi negara anggota sistem peringatan dini tsunami.
- Kolaborasi lintas negara melibatkan akademisi Indonesia, Jepang, Sri Lanka, serta negara berkembang dan SIDS seperti Timor Leste dan Vanuatu guna memperkuat pertukaran pengetahuan dan ketahanan pesisir berkelanjutan.
Bandar Lampung, IDN Times - Institut Teknologi Sumatera (Itera) kembali menunjukkan kiprahnya di panggung internasional. Kampus yang berada di Lampung ini dipercaya ikut memperkuat ketahanan infrastruktur pesisir dari ancaman tsunami melalui program bernama SUSTAIN (Strengthening Tsunami-Resilient Infrastructure).
Program tersebut digagas oleh Pusat Mitigasi Bencana Gempa dan Tsunami Itera, dan menarik perhatian dunia karena terhubung langsung dengan UNESCO melalui kerangka kerja Intergovernmental Oceanographic Commission (UNESCO-IOC).
Kepala Pusat Mitigasi Bencana Gempa dan Tsunami Itera, Harkunti Pertiwi Rahayu mengatakan, dukungan internasional ini menjadi pengakuan atas kapasitas Itera dalam pengembangan ilmu mitigasi bencana, khususnya yang berbasis pada penguatan infrastruktur kritis. Menurutnya, keterlibatan Itera dalam program tersebut membuktikan bahwa kontribusi kampus tidak berhenti di lingkup nasional saja.
“Program ini menunjukkan bahwa Itera tidak hanya berkontribusi di tingkat nasional, tetapi juga dipercaya dalam agenda global untuk penguatan ketahanan infrastruktur pesisir terhadap tsunami,” ujar Harkunti.
1. Proyek rencana global jangka panjang

Harkunti menyampaikan, program SUSTAIN diajukan kepada UNESCAP Trust Fund for Tsunami, Disaster and Climate Preparedness, sekaligus menjadi bagian dari implementasi agenda besar dunia yaitu UN Decade of Ocean Science for Sustainable Development 2021–2030. Artinya, program ini bukan sekadar proyek biasa, tetapi masuk dalam rencana global jangka panjang untuk memperkuat keberlanjutan pembangunan berbasis ilmu kelautan.
Tak hanya itu, Harkunti menyebut, SUSTAIN juga terintegrasi dengan sistem peringatan dini tsunami global, termasuk Indian Ocean Tsunami Warning and Mitigation System (IOTWMS) serta Pacific Tsunami Warning System (PTWS). Integrasi ini penting karena sistem peringatan dini tsunami tidak akan efektif jika wilayah pesisir masih memiliki infrastruktur rapuh yang mudah lumpuh saat bencana terjadi.
2. Itera berperan sebagai implementing partner utama

Menurut Harkunti, latar belakang program ini tidak terlepas dari meningkatnya kerentanan infrastruktur kritis di wilayah pesisir, serta masih terbatasnya panduan teknis dalam desain dan pengelolaan infrastruktur tahan tsunami.
“Kerusakan infrastruktur akibat tsunami dapat memicu dampak berantai yang luas, mulai dari gangguan transportasi, energi, hingga layanan dasar. Karena itu, dibutuhkan pendekatan berbasis sains yang terintegrasi,” jelasnya.
Dalam program ini, Harkunti menyebut Itera berperan sebagai implementing partner utama dengan kontribusi pada pengembangan kerangka penilaian risiko, pelaksanaan studi lapangan pada infrastruktur pesisir termasuk bandara serta penyusunan pedoman teknis dan pelaksanaan kegiatan capacity building.
Program SUSTAIN menargetkan penyusunan pedoman mutakhir dalam penilaian risiko dan desain infrastruktur tahan tsunami, sekaligus memperkuat kapasitas kelembagaan negara anggota. Manfaat program ini diharapkan dapat menjangkau 28 negara anggota IOTWMS dan 46 negara anggota PTWS.
3. Program ini memperkuat kolaborasi lintas negara

Ia menambahkan, keterlibatan Itera dalam program ini juga memperkuat kolaborasi lintas negara dan sektor dengan melibatkan institusi akademik dari Indonesia, Jepang, dan Sri Lanka, organisasi internasional, pemerintah, operator infrastruktur, hingga komunitas pesisir.
Partisipasi negara berkembang dan Small Island Developing States (SIDS) seperti Timor Leste dan Vanuatu turut memperkuat dimensi inklusivitas serta pertukaran pengetahuan. Lebih lanjut, Harkunti mengatakan dukungan internasional ini menjadi momentum bagi Itera untuk memperkuat perannya sebagai pusat keunggulan dalam mitigasi bencana.
“Harapannya, hasil program ini dapat terinstitusionalisasi dalam kebijakan dan praktik, serta direplikasi di berbagai negara. Dengan demikian, Itera dapat terus berkontribusi dalam membangun ketahanan infrastruktur pesisir yang berkelanjutan,” ujarnya.



















