Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Gelombang Ekstrem Bisa Rusak Dermaga, Dosen Itera Ungkap Risikonya

Kota Bandar Lampung
2 min read
Gelombang Ekstrem Bisa Rusak Dermaga, Dosen Itera Ungkap Risikonya
ilustrasi gelombang laut (pexels.com/Виктор Соломоник)
  • Gelombang ekstrem, arus, dan perubahan dasar perairan berisiko merusak dermaga serta mengganggu operasional Pelabuhan Panjang jika tidak dikaji sejak tahap perencanaan.

  • Dosen Itera menekankan ketangguhan pelabuhan tidak hanya bergantung pada bangunan, tetapi juga kesiapan organisasi, koordinasi, informasi peringatan dini, dan latihan bersama masyarakat pesisir.

  • FGD KSOP Kelas I Panjang mendorong pengembangan Port Resilience Command Center untuk memperkuat pemantauan risiko, pertukaran informasi, dan respons darurat terintegrasi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandar Lampung, IDN Times - Gelombang ekstrem dan perubahan kondisi dasar laut bisa menjadi ancaman serius bagi fasilitas pelabuhan. Jika tidak diperhitungkan sejak awal, kondisi tersebut berisiko merusak struktur dermaga hingga mengganggu aktivitas operasional.

Persoalan ini menjadi salah satu perhatian dalam upaya memperkuat keselamatan Pelabuhan Panjang Lampung Selatan. Dua dosen Teknik Kelautan Institut Teknologi Sumatera (Itera), Muhammad Fatkhurrozi dan Satriyo Panalaran, turut membagikan pandangan mengenai ketahanan infrastruktur dan kesiapsiagaan menghadapi bencana dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar KSOP Kelas I Panjang.

  1. 1. Gelombang ekstrem bisa mengancam kekuatan dermaga

    Ilustrasi gelombang laut (pixabay.com/Kanenori)
    Ilustrasi gelombang laut (pixabay.com/Kanenori)

    Dosen Teknik Kelautan Itera, Muhammad Fatkhurrozi, menyoroti pentingnya memperhitungkan kondisi hidrodinamika dalam perencanaan dan pembangunan dermaga. Menurutnya, faktor seperti gelombang, arus, hingga perubahan dasar perairan dapat memengaruhi stabilitas struktur, keselamatan infrastruktur, dan keberlanjutan operasional pelabuhan.

    Dalam pemaparannya, ia turut membahas sejumlah studi kasus kerusakan dermaga akibat gelombang ekstrem dan gerusan dasar perairan. Menurutnya, pembangunan fasilitas pelabuhan perlu didukung kajian teknis berdasarkan karakteristik lingkungan setempat agar potensi kerusakan dapat diantisipasi sejak awal.

  2. 2. Ketangguhan pelabuhan bukan hanya soal infrastruktur

    Penampakan aktivitas penumpang mudik angkutan bus dan travel di Pelabuhan Bakauheni. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).
    Penampakan aktivitas penumpang mudik angkutan bus dan travel di Pelabuhan Bakauheni. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).

    Sementara itu, dosen Teknik Kelautan Itera, Satriyo Panalaran, membahas mitigasi risiko bencana dan penguatan ketahanan infrastruktur pelabuhan. Menurutnya, ketangguhan pelabuhan tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan bangunan. Kesiapan organisasi, efektivitas koordinasi, serta keterlibatan masyarakat pesisir juga menjadi bagian penting dalam menghadapi keadaan darurat.

    "Pelabuhan dan masyarakat pesisir memiliki keterkaitan erat sehingga pengurangan risiko bencana perlu dilakukan secara terpadu. Salah satunya melalui penyebaran informasi dan peringatan dini, penguatan komunikasi, serta pelaksanaan latihan kesiapsiagaan bersama," jelasnya.

  3. 3. Pelabuhan Panjang dorong pengembangan command center

    Aktivitas arus mudik Lebaran 2025 di Pelabuhan Bakauheni, Jumat (28/3/2025). (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).
    Aktivitas arus mudik Lebaran 2025 di Pelabuhan Bakauheni, Jumat (28/3/2025). (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).

    Satriyo menambahkan, FGD tersebut juga menjadi langkah awal untuk mendorong pengembangan Port Resilience Command Center (PRECC). Inisiatif ini ditujukan untuk memperkuat pemantauan risiko, pertukaran informasi, dan koordinasi respons kedaruratan di kawasan Pelabuhan Panjang.

    Pengembangan PRECC dinilai penting karena setiap entitas pelabuhan memiliki karakteristik operasional dan potensi risiko berbeda. Melalui sistem koordinasi yang lebih terintegrasi, penanganan keadaan darurat diharapkan bisa berlangsung lebih efektif.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More