Itera Kenalkan Alat Pengolah Sampah Plastik jadi Bahan Bakar

Itera mengenalkan teknologi pirolisis kepada siswa SMKN Unggul Terpadu Anak Tuha, Lampung Tengah, untuk mengolah limbah plastik menjadi bahan bakar.
Melalui program pengabdian masyarakat, tim dosen Itera menyerahkan alat pirolisis skala laboratorium serta modul praktikum bagi Jurusan Teknik Energi Biomassa.
Praktikum dirancang agar siswa memahami penguraian plastik dengan pemanasan minim oksigen, konversi energi, rekayasa alat, dan penerapan pengolahan limbah secara langsung.
Lampung Tengah, IDN Times - Sampah plastik yang kerap menjadi persoalan lingkungan ternyata bisa diolah menjadi produk bermanfaat. Institut Teknologi Sumatera (Itera) mengenalkan teknologi pirolisis kepada siswa SMKN Unggul Terpadu Anak Tuha, Lampung Tengah, sebagai salah satu alternatif untuk mengolah limbah plastik menjadi bahan bakar.
Pengenalan teknologi ini dilakukan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). Tim dosen Itera juga menyerahkan alat pirolisis skala laboratorium dan modul praktikum untuk mendukung pembelajaran siswa Jurusan Teknik Energi Biomassa.
1. Kenalkan teknologi pirolisis untuk mengolah sampah plastik

Institut Teknologi Sumatera (Itera) mengenalkan teknologi pirolisis kepada siswa SMKN Unggul Terpadu Anak Tuha, Lampung Tengah (dok.humas/itera) Ketua tim PkM, Rifqi Sufra, mengatakan, kegiatan tersebut dilatarbelakangi oleh persoalan sampah plastik di lingkungan sekolah serta keterbatasan sarana praktikum yang dapat menghubungkan pembelajaran dengan persoalan lingkungan dan energi terbarukan.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memperkenalkan teknologi pirolisis kepada siswa sebagai salah satu alternatif dalam mengolah limbah, khususnya limbah plastik,” ujarnya, Jumat (9/10/2026).
2. Alat pirolisis bisa digunakan sebagai sarana praktikum

ilustrasi siswa mengerjakan proyek praktikum (pexels.com/Roxanne Minnish) Rifqi menjelaskan, pirolisis merupakan proses penguraian material melalui pemanasan dalam kondisi minim atau tanpa oksigen. Dalam pengolahan plastik, proses ini dapat menghasilkan bahan bakar cair dan produk samping lainnya.
"Untuk mendukung pembelajaran di sekolah, tim PkM Itera merancang alat pirolisis berukuran kecil yang dapat digunakan dalam kegiatan praktikum. Alat ini dirancang untuk membantu siswa mempelajari pengolahan limbah, konversi energi, dan rekayasa alat secara terpadu," jelasnya.
Selain alat pirolisis, menurut Rifqi, tim Itera juga memberikan modul praktikum yang disesuaikan dengan pembelajaran di sekolah. Modul tersebut dilengkapi dengan lembar kerja siswa dan instrumen evaluasi sebagai panduan bagi guru dan siswa saat melaksanakan praktikum.
3. Siswa bisa melihat langsung cara mengolah limbah plastik

ilustrasi recycle (pexels.com/Sarah Chai) Anggota tim PkM, Qalilul Rahman, menambahkan, pembelajaran melalui praktikum diharapkan membuat siswa lebih mudah memahami konsep pirolisis sekaligus mengetahui penerapannya dalam pengolahan sampah plastik.
“Melalui pembelajaran berbasis modul praktikum, siswa tidak hanya memahami konsep dan tahapan proses pirolisis, tetapi juga dapat melihat secara langsung penerapannya dalam mengolah limbah plastik menjadi produk bernilai guna,” ujar Qalilul.
Sementara itu, Kepala SMKN Unggul Terpadu Anak Tuha, Wihan Afriono, mengapresiasi pendampingan dan edukasi yang diberikan tim dosen Itera bersama mahasiswa. Menurutnya, alat pirolisis dan modul praktikum tersebut dapat menambah sarana pembelajaran di sekolah.
“Dengan adanya kegiatan ini, siswa dapat memahami bahwa limbah plastik yang selama ini menjadi permasalahan lingkungan dapat dipelajari dan diolah melalui teknologi tepat guna menjadi produk yang lebih bermanfaat,” ujar Wihan.
























