Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cerita UMKM Asal Lampung Barat Kembangkan Kopi hingga Pasar Ekspor

Bandar Lampung
3 min read
Cerita UMKM Asal Lampung Barat Kembangkan Kopi hingga Pasar Ekspor
Petugas Karantina mengecek kualitas biki kopi asal Lampung. (Dok. Karantina Lampung).
  • CV Mr. Zian Coffee di Lampung Barat, dirintis Wahyu Anggono sejak 2012, menjaga konsistensi rasa, spesifikasi, dan mutu untuk mempertahankan kepercayaan konsumen serta membuka peluang ekspor.

  • Usaha ini mengembangkan robusta, arabika, kopi petik merah, kopi luwak, dan kopi sangrai; produk olahan dinilai memberi nilai tambah lebih besar dibanding penjualan biji kopi.

  • Ekspor kopi Indonesia ke Italia naik 91 persen pada 2025, sementara pelaku UMKM didorong memahami persyaratan pasar dan memanfaatkan pendampingan karantina sejak perencanaan ekspor.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandar Lampung, IDN Times - Menjaga rasa dan kualitas kopi bukan perkara mudah bagi pelaku usaha. Bagi Wahyu Anggono, pemilik CV Mr. Zian Coffee di Pekon Kejadian, Kecamatan Belalau, Kabupaten Lampung Barat, konsistensi menjadi bagian penting untuk mempertahankan kepercayaan konsumen sekaligus membuka peluang menuju pasar ekspor.

Usaha yang dirintis sejak 2012 tersebut kini mengembangkan berbagai produk kopi. Mulai dari robusta, arabika, kopi petik merah, kopi luwak, hingga kopi sangrai.

Perjalanan tersebut membuat Wahyu memahami, bahwa membawa kopi Lampung ke pasar yang lebih luas tidak cukup hanya dengan mengandalkan cita rasa.

  1. 1. Menjaga konsistensi jadi tantangan UMKM

    Petugas Karantina Lampung memeriksa kualitas biji kopi asal Lampung di area pemeriksaan sebelum proses karantina.
    Petugas Karantina mengecek kualitas biki kopi asal Lampung. (Dok. Karantina Lampung).

    Wahyu mengatakan, pelaku usaha harus mampu memastikan produk yang dihasilkan tetap sesuai dengan standar dan kebutuhan konsumen, tak terkecuali di pasar global.

    “Konsistensi rasa, ketepatan spesifikasi, serta pendampingan dari instansi terkait menjadi bagian penting bagi kami sebagai pelaku UMKM untuk berani melangkah ke pasar ekspor,” ujarnya, Jumat (30/10/2026).

    Menurutnya, pengalaman dan pendampingan menjadi bekal penting bagi UMKM untuk menjaga mutu pengolahan sekaligus memahami kebutuhan pasar. "Proses ini menjadi bagian dari upaya membawa produk kopi asal Lampung, agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas," lanjut dia.

  2. 2. Tak hanya jual biji kopi

    ilustrasi ekspor impor, kontainer, peti kemas, pelabuhan
    ilustrasi ekspor impor, kontainer, peti kemas, pelabuhan (magnific.com/jcomp)

    CV Mr. Zian Coffee tidak hanya mengembangkan kopi dalam bentuk bahan baku. Produk olahan seperti kopi sangrai juga menjadi bagian dari pengembangan usaha. Langkah tersebut disebut penting karena produk olahan memiliki peluang memberikan nilai tambah lebih besar, dibandingkan hanya menjual komoditas dalam bentuk bahan baku.

    "Pengembangan produk juga menuntut pelaku usaha memperhatikan proses produksi, kualitas rasa, spesifikasi, hingga kemasan agar sesuai dengan kebutuhan konsumen," ucap Wahyu.

  3. 3. Peluang pasar kopi Lampung masih terbuka

    Petugas Karantina Lampung memeriksa kualitas biji kopi asal Lampung dalam proses pemeriksaan karantina.
    Petugas Karantina mengecek kualitas biki kopi asal Lampung. (Dok. Karantina Lampung).

    Peluang tersebut semakin terbuka seiring meningkatnya permintaan kopi Indonesia di pasar internasional. Data Atase Perdagangan Indonesia di Roma mencatat nilai ekspor kopi Indonesia ke Italia meningkat 91 persen, dari USD 29,96 juta pada 2024 menjadi USD 57,22 juta pada 2025.

    Namun, angka tersebut merupakan ekspor kopi Indonesia secara keseluruhan ke Italia, bukan khusus kopi Lampung maupun kopi sangrai. Pada 2025, ekspor kopi Indonesia ke Italia masih didominasi oleh kopi tidak disangrai dan tidak didekafeinasi atau HS 090111.

    Kepala PPSDM Karantina, Wisnu Wasisa Putra, mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan masih adanya ruang bagi pelaku usaha seperti CV Mr. Zian Coffee untuk mengembangkan produk kopi olahan dan menjajaki pasar baru.

    “Pelaku usaha perlu memahami karakteristik konsumen, spesifikasi yang diminta pembeli, struktur biaya, kapasitas produksi, konsistensi mutu, serta berbagai persyaratan yang berlaku di negara tujuan,” ucapnya.

  4. 4. Pendampingan dibutuhkan sejak awal

    Petugas Karantina Lampung memeriksa kualitas biji kopi asal Lampung di atas meja sebelum proses pengiriman.
    Petugas Karantina mengecek kualitas biki kopi asal Lampung. (Dok. Karantina Lampung).

    Kepala Karantina Lampung, Donni M. Saragih, mengatakan pelaku usaha perlu berkoordinasi sejak tahap awal perencanaan ekspor. Salah satunya dapat memanfaatkan Klinik Ekspor Barantin, untuk memperoleh informasi awal mengenai persyaratan ekspor sesuai jenis produk dan negara tujuan.

    “Kami berkomitmen memberikan pendampingan teknis kepada pelaku usaha, memastikan pemenuhan persyaratan sanitari dan fitosanitari, serta memfasilitasi layanan dan dokumen karantina sesuai ketentuan,” imbuh Donni.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More