Petugas BKSDA Amati Erupsi Anak Krakatau, Sempat Panik Dengar Gemuruh

Video viral memperlihatkan tim patroli BKSDA Bengkulu-Lampung mengamati kepulan abu tebal dari erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda.
BKSDA membenarkan personelnya sedang melakukan pemantauan rutin, tetapi menegaskan tidak berwenang menyampaikan informasi teknis terkait aktivitas erupsi gunung api.
Personel sempat panik mendengar gemuruh, namun tidak terdampak; sementara aktivitas erupsi tersebut tidak terdeteksi alat pemantauan di pos Gunung Anak Krakatau maupun Pulau Sebesi.
Lampung Selatan, IDN Times - Rekaman video memperlihatkan tim patroli Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung mengamati erupsi abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda viral di media sosial (Medsos).
Berdasarkan rekaman diterima IDN Times, terlihat kepulan asap tebal berwarna abu-abu pekat membumbung tinggi ke udara dari puncak Gunung Anak Krakatau. Letusan nampak terjadi di daratan vulkanik yang berbatasan langsung dengan perairan laut.
Video diambil dari sudut pandang jarak jauh dari atas kapal tim patroli berada di perairan sekitar. Saat kejadian, langit tampak mendung dan berawan, menyertai suasana letusan gunung berapi tersebut.
1. Tim BKSDA sedang patroli rutin

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dari perairan Selatan Sunda, Lampung Selatan. (Dok. BKSDA Bengkulu-Lampung). Terkait peristiwa vulkanik tersebut, Kepala Seksi Wilayah III BKSDA Lampung, Itno Itoyo membenarkan tim dalam video merupakan anggota Seksi KSDA Wilayah III Lampung BKSDA Bengkulu saat sedang melakukan pemantauan rutin di perairan setempat.
"Ya benar, itu kemarin dan hari ini tim kami melakukan pemantauan langsung Gunung Anak Krakatau," ujarnya dikonfirmasi, Selasa (27/10/2026).
Meski demikian, ia menyebutkan BKSDA Bengkulu-Lampung tidak memiliki kewenangan untuk memberikan informasi teknis mengenai aktivitas erupsi gunung berapi tersebut. "Kalau untuk informasi erupsi bukan kapasitas kami memberikan keterangan, namun memang tim kemarin itu dari kami yang melakukan patroli rutin," lanjut dia.
2. Sempat panik dengar suara gemuruh

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dari perairan Selatan Sunda, Lampung Selatan. (Dok. BKSDA Bengkulu-Lampung). Itno menambahkan, kondisi personel BKSDA melakukan patroli tidak terdampak akibat kejadian tersebut. Meski demikian, tim sempat merasakan kepanikan setelah mendengar suara gemuruh dari arah Gunung Anak Krakatau.
"Iya, gemuruh. Jadi mereka merasakan kengerian itu saja yang dirasakan teman-teman kemarin," imbuhnya.
Oleh karenanya, ia terus meminta seluruh personel melaksanakan patroli di sekitar kawasan tersebut tetap meningkatkan kewaspadaan. "Saya meminta untuk tim yang melakukan patroli senantiasa berhati-hati. Kalau memang dirasakan perkembangannya semakin intens, ya merapat ke pos-pos untuk berjaga-jaga," lanjut dia.
3. Aktivitas erupsi tak terdeteksi alat pemantauan

Pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau, Minggu (18/10/2026). (Dok. Magma ESDM). Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau Lampung Selatan, Suwarno menambahkan, aktivitas terjadi sehari sebelumnya tidak terdeteksi oleh peralatan pemantauan di posnya.
"Mungkin (erupsi), karena di kami alat kami tidak terdeteksi. Bahkan di alat pengamatan di Pulau Sebesi pun tak teramati," imbuhnya.






















