Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

CCTV Tak Beroperasi, Gunung Anak Krakatau Erupsi 9 Menit

Kab. Lampung Selatan
2 min read
CCTV Tak Beroperasi, Gunung Anak Krakatau Erupsi 9 Menit
Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dari perairan Selatan Sunda, Lampung Selatan. (Dok. BKSDA Bengkulu-Lampung).
  • Gunung Anak Krakatau mengalami tiga erupsi pada Rabu malam, terekam seismograf sementara visual letusan tidak teramati karena CCTV lapangan tidak beroperasi.

  • Pemantauan dini hari mencatat gempa hembusan, frekuensi rendah, hybrid, dan tremor menerus; puncak tertutup kabut dengan cuaca berawan hingga hujan.

  • Masyarakat dilarang memasuki radius lima kilometer dari pusat erupsi, diminta menjauhi pulau baru, serta mengikuti informasi resmi dan arahan BPBD.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Lampung Selatan, IDN Times – Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda tercatat mengalami tiga kali erupsi dalam kurun waktu sembilan menit, Rabu (28/10/2026) malam.

Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Hargo Pancuran, Lampung Selatan, Suwarno mengatakan CCTV di lapangan dilaporkan tidak beroperasi sehingga visual letusan tidak teramati.

"Erupsi dari GAK (Gunung Anak Krakatau) tersebut terekam melalui instrumen seismograf," katanya, Kamis (29/10/2026).

  1. 1. Visual letusan tidak teramati

    Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dari perairan Selatan Sunda, Lampung Selatan
    Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dari perairan Selatan Sunda, Lampung Selatan. (Dok. BKSDA Bengkulu-Lampung).

    Suwarno menjelaskan, erupsi pertama terjadi pukul 22.37 WIB dengan amplitudo maksimum 48 milimeter dan durasi 233 detik atau sekitar 3 menit 53 detik. Selanjutnya, erupsi kedua tercatat pukul 22.42 WIB, sedangkan erupsi ketiga terjadi pukul 23.29 WIB.

    "Erupsi ketiga memiliki amplitudo maksimum 48 milimeter dengan durasi 573 detik atau sekitar 9 menit 33 detik," jelas Suwarno

    Meski aktivitas kegempaan terekam, visual letusan tidak teramati. Kondisi ini menjadi perhatian dalam pemantauan aktivitas gunung api tersebut.

  2. 2. Aktivitas kegempaan masih terpantau

    erupsi gunung berapi
    erupsi gunung berapi (unsplash.com/Shreyas Nair)

    Suwarno menyampaikan, berdasarkan laporan pengamatan, Kamis (29/10/2026) pukul 00.00–06.00 WIB, kondisi puncak Anak Krakatau tertutup kabut sehingga asap kawah tidak teramati.

    "Cuaca dilaporkan berawan hingga hujan, dengan angin lemah menuju barat laut," ujarnya.

    Dalam periode tersebut, tercatat satu gempa hembusan dengan amplitudo 44 milimeter dan durasi 38 detik. Selain itu, terdapat satu gempa frekuensi rendah dengan amplitudo 48 milimeter selama delapan detik serta satu gempa hybrid dengan amplitudo 39 milimeter selama 16 detik.

    Petugas juga mencatat tremor menerus dengan amplitudo 5–35 milimeter dan amplitudo dominan 10 milimeter.

  3. 3. Pengunjung diminta menjauhi kawasan gunung

    ilustrasi peringatan bahaya radiasi nuklir (commons.wikimedia.org/Nuclear Regulatory Commission)
    ilustrasi peringatan bahaya radiasi nuklir (commons.wikimedia.org/Nuclear Regulatory Commission)

    Suwarno mengingatkan masyarakat dan wisatawan agar mematuhi rekomendasi keselamatan serta tidak mendekati kawasan Anak Krakatau.

    "Masyarakat dilarang memasuki radius lima kilometer dari pusat erupsi. Pengunjung juga diminta menjauhi pulau-pulau baru di sektor barat laut dan tenggara Anak Krakatau dalam radius satu kilometer," imbaunya.

    Menurutnya potensi bahaya yang perlu diwaspadai meliputi lontaran batu pijar, hujan abu lebat, aliran lava, serta erupsi sekunder akibat kontak material lava panas dengan air laut maupun air hujan.

  4. 4. Warga pesisir Lampung dan Banten diimbau tetap tenang

    ilustrasi peringatan dini bencana di Jepang (unsplash.com/Emmanuel Ikwuegbu)
    ilustrasi peringatan dini bencana di Jepang (unsplash.com/Emmanuel Ikwuegbu)

    Suwarno mengimbau masyarakat di wilayah pesisir Lampung dan Banten diimbau tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, terutama kabar mengenai ancaman tsunami yang tidak berasal dari sumber resmi.

    "Untuk warga terus mengikuti perkembangan aktivitas Anak Krakatau melalui informasi resmi pemantauan gunung api serta mematuhi arahan BPBD setempat," ucapnya.

    Kewaspadaan perlu ditingkatkan dengan tetap mengikuti rekomendasi petugas dan menghindari kawasan yang dinyatakan berbahaya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More