Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Dari Limbah ke Cuan, Daun Pala Way Kalam Disulap Jadi Minyak Atsiri

Dari Limbah ke Cuan, Daun Pala Way Kalam Disulap Jadi Minyak Atsiri
Tim dosen dan mahasiswa Institut Teknologi Sumatera (Itera) mendampingi warga memanfaatkan limbah daun pala menjadi produk bernilai ekonomi (dok.humas/itera)
Intinya Sih
  • Tim dosen dan mahasiswa Itera mendampingi warga Way Kalam mengolah limbah daun pala menjadi minyak atsiri bernilai ekonomi melalui program Pengabdian kepada Masyarakat pada Juli 2026.
  • Minyak atsiri daun pala direncanakan jadi produk unggulan desa yang mendukung wisata Way Terjun, melibatkan mahasiswa KKN dalam pendampingan, promosi, dan penguatan produksi berkelanjutan.
  • Warga dilatih menggunakan alat destilasi untuk menyuling daun pala hingga menghasilkan minyak siap jual, membuka peluang usaha baru berbasis potensi lokal dan ekonomi hijau.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Lampung Selatan, IDN Times - Daun pala yang selama ini menjadi limbah di Desa Way Kalam, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan, mulai diolah menjadi minyak atsiri bernilai ekonomi.

Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), tim dosen dan mahasiswa Institut Teknologi Sumatera (Itera) mendampingi warga memanfaatkan limbah daun pala menjadi produk yang berpotensi membuka peluang usaha.

Program yang berlangsung pada 7–8 Juli 2026 tersebut, tidak hanya memberikan pelatihan penyulingan minyak atsiri, tetapi juga mendorong masyarakat mengembangkan potensi lokal menjadi produk unggulan desa yang terintegrasi dengan sektor pariwisata.

1. Bisa jadi bahan obat-obatan hingga produk body care

Dosen dan mahasiswa Itera bersama warga mengolah limbah daun pala menggunakan alat destilasi untuk menghasilkan produk bernilai ekonomi.
Tim dosen dan mahasiswa Institut Teknologi Sumatera (Itera) mendampingi warga memanfaatkan limbah daun pala menjadi produk bernilai ekonomi (dok.humas/itera)

Ketua Tim PkM Itera, Rio Ardiansyah Murda mengatakan, selama ini komoditas pala di Way Kalam belum dimanfaatkan secara optimal. Daun pala yang melimpah umumnya hanya menjadi limbah, padahal memiliki potensi ekonomi apabila diolah lebih lanjut.

Melalui program Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) yang didanai BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, tim Itera mengenalkan pengolahan daun pala menjadi minyak atsiri. Produk tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan kosmetik, obat-obatan, aromaterapi, hingga produk body care.

"Melalui program ini, kami mendorong masyarakat agar tidak hanya menjual pala sebagai bahan mentah, tetapi juga mengolah turunannya. Salah satunya minyak atsiri dari daun pala yang memiliki nilai tambah lebih tinggi," ujar Rio, Jumat (10/7/2026).

2. Disiapkan menjadi produk unggulan pendukung wisata Way Kalam

ilustrasi produk kosmetik (pexels.com/Polina Tankilevi
ilustrasi produk kosmetik (pexels.com/Polina Tankilevi

Selain menghasilkan produk baru, program PkM Itera juga menghubungkan potensi ekonomi desa dengan sektor pariwisata. Minyak atsiri daun pala direncanakan menjadi produk unggulan yang mendukung daya tarik wisata Way Terjun di Desa Way Kalam. Rio menjelaskan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Itera turut dilibatkan dalam program tersebut. Mereka membantu proses pendampingan masyarakat, dokumentasi, hingga promosi produk sehingga hasil kegiatan tidak berhenti pada pelatihan semata.

"Program ini menunjukkan peran Itera sebagai kampus yang tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga menghadirkan solusi bagi masyarakat. Dari limbah yang sebelumnya tidak bernilai, kini terbuka peluang ekonomi baru yang dapat dikembangkan oleh warga secara berkelanjutan," ujarnya.

Rio menambahkan, rencananya tim PkM Itera mendorong penguatan produksi dan pemasaran minyak atsiri daun pala. Dengan dukungan alat destilasi serta pendampingan lanjutan, produk tersebut diharapkan mampu menjadi salah satu sumber ekonomi baru bagi masyarakat Desa Way Kalam sekaligus memperkuat pengembangan ekonomi hijau berbasis potensi lokal.

3. Warga belajar penyulingan hingga siap mengembangkan usaha desa

ilustrasi pelaku UMKM memaksimalkan AI untuk bisnisnya (freepik.com/odua)
ilustrasi pelaku UMKM memaksimalkan AI untuk bisnisnya (freepik.com/odua)

Dalam pelatihan tersebut, masyarakat diperkenalkan dengan penggunaan alat destilasi minyak atsiri. Peserta yang terdiri dari kelompok masyarakat, perangkat desa, Pokdarwis Way Terjun, serta KUPS Sadar Wisata mengikuti seluruh tahapan, mulai dari persiapan bahan baku, proses penyulingan, hingga pemisahan minyak hasil destilasi.

Pendampingan itu membuat warga memahami limbah daun pala dapat diubah menjadi produk bernilai jual. Pengetahuan teknis yang diberikan juga diharapkan menjadi bekal bagi masyarakat untuk memproduksi minyak atsiri secara mandiri dan berkelanjutan. Kepala Desa Way Kalam, Abdul Rosyid, menilai program tersebut menjadi solusi konkret dalam mengembangkan ekonomi masyarakat berbasis potensi desa.

"Selama ini daun pala belum dimanfaatkan. Dengan adanya pelatihan ini, masyarakat jadi tahu cara mengolahnya menjadi produk yang punya nilai jual," katanya.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Febriana Sintasari
EditorFebriana Sintasari

Latest News Lampung

See More