75 Persen Siswa SR Ingin Kuliah, Mensos Soroti Kesenjangan Kemampuan

- Mensos Saifullah Yusuf meninjau Sekolah Rakyat di Lampung dan mengungkap 75 persen siswanya bersemangat melanjutkan kuliah sebagai bentuk harapan besar untuk masa depan.
- Ia menyoroti kesenjangan kemampuan dasar antar siswa, di mana sebagian masih kesulitan membaca meski sudah setara SMA, menjadi tantangan besar bagi para pengajar.
- Pemerintah menyiapkan skema pemberdayaan bagi siswa yang langsung bekerja serta mendorong kolaborasi lintas pihak agar pendidikan dan masa depan anak tetap terjamin.
Bandar Lampung, IDN Times — Menteri Sosial RI, Saifullah Yusuf, menyoroti adanya kesenjangan dalam kemampuan dasar siswa yang ada di Sekolah Rakyat. Ia mengungkap mayoritas siswa Sekolah Rakyat di Hajimena, Kecamatan Natar, Lampung Selatan, memiliki semangat tinggi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Hal itu disampaikan saat ia meninjau langsung kegiatan belajar mengajar bersama Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, Minggu (26/4/2026).
“Sekitar 75 persen siswa ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Ini menjadi sinyal positif bahwa mereka punya harapan besar untuk masa depan,” ujar Saifullah Yusuf.
1. Kesenjangan jadi tantangan utama

Di balik tingginya motivasi tersebut, Mensos menyoroti adanya kesenjangan kemampuan dasar antar siswa. Ia menyebut, sebagian siswa bahkan belum memiliki kemampuan membaca meski sudah berada di jenjang setara SMA.
“Kondisinya sangat beragam. Ada yang cepat menyerap pelajaran, tapi ada juga yang masih tertinggal jauh. Ini jadi tantangan besar bagi guru,” jelasnya.
2. Alternatif selain kuliah

Sementara itu, sekitar 25 persen siswa lainnya dipersiapkan untuk langsung masuk dunia kerja. Pemerintah tengah menyiapkan skema pemberdayaan, salah satunya melalui koperasi desa atau kelurahan.
Langkah ini dinilai penting agar seluruh siswa tetap memiliki peluang masa depan, baik melalui jalur pendidikan maupun ekonomi produktif.
Saifullah Yusuf juga menegaskan, Sekolah Rakyat hadir sebagai solusi bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu atau yang putus sekolah. Namun, ia mengakui program ini belum mampu menjangkau semua karena keterbatasan daya tampung.
“Masih banyak anak usia sekolah, terutama lulusan SMP, yang tidak melanjutkan pendidikan. Ini jadi pekerjaan rumah bersama,” ujarnya.
3. Perlu dukungan berkelanjutan

Saifullah menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, termasuk penguatan pendidikan formal, informal, dan keagamaan untuk mencegah anak-anak terjerumus ke hal negatif.
“Harus ada perhatian bersama. Mereka ini generasi yang perlu kita selamatkan,” tegasnya.


















