Tiga Cara Mengolah Limbah Penyulingan Kayu Putih ala Itera

Tim Itera memperkenalkan program pengolahan limbah penyulingan kayu putih di Desa Negararatu, Lampung Selatan, melalui pemanfaatan hidrosol, biopori, dan biofilter.
Hidrosol hasil samping penyulingan dimanfaatkan untuk formulasi pestisida organik, sementara daun dan sisa tanaman diolah menjadi kompos guna mengurangi limbah.
Itera memasang lima biopori dan satu biofilter 120 liter; penyaringan awal mengurangi bau, menghilangkan lapisan minyak, serta mengubah warna limbah cair.
Lampung Selatan, IDN Times - Limbah penyulingan minyak kayu putih di Dusun Muhajirun, Desa Negararatu, Kecamatan Natar, Lampung Selatan, mulai diolah agar lebih bermanfaat bagi lingkungan. Tim dosen dan mahasiswa Institut Teknologi Sumatera (Itera) memperkenalkan sejumlah inovasi untuk mengurangi limbah sekaligus menjaga ketersediaan resapan air.
Ada tiga inovasi diperkenalkan, yakni pemanfaatan hidrosol sebagai bahan pestisida organik, pembuatan lubang resapan biopori, serta pengolahan limbah cair menggunakan biofilter. Program tersebut dilaksanakan melalui Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Desa Binaan Berdampak.
Berikut tiga inovasi yang diperkenalkan tim Itera untuk membantu warga mengelola limbah penyulingan minyak kayu putih.
1. Hidrosol diolah menjadi bahan pestisida organik

Tim Itera memperkenalkan inovasi pengolahan limbah kayu putih di Lampung Selatan (dok.humas/itera) Ketua PkM, Ajeng Eliyana mengatakan, salah satu inovasi diperkenalkan adalah pemanfaatan hidrosol, yakni hasil samping dari proses penyulingan minyak kayu putih, sebagai bahan formulasi pestisida organik.
Selain hidrosol, limbah padat berupa daun dan sisa tanaman juga dimanfaatkan sebagai bahan kompos. Pengolahan ini diharapkan dapat mengurangi jumlah limbah yang terbuang sekaligus memberikan nilai guna baru bagi sisa proses penyulingan.
2. Lima biopori dibuat untuk meningkatkan resapan air

Tim Itera memperkenalkan inovasi pengolahan limbah kayu putih di Lampung Selatan (dok.humas/itera) Menurut Ajeng, tim Itera juga memasang lima unit lubang resapan biopori menggunakan drum berkapasitas 80 liter. Fasilitas ini dibuat untuk membantu meningkatkan penyerapan air hujan sekaligus mengurangi potensi genangan di lingkungan warga.
Menariknya, biopori tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat pengolahan sampah organik, termasuk daun sisa penyulingan kayu putih. Warga turut mendapat penyuluhan mengenai cara menggunakan dan merawat biopori agar bisa berfungsi dengan baik dalam jangka panjang.
3. Biofilter digunakan untuk mengolah limbah cair penyulingan

Tim Itera memperkenalkan inovasi pengolahan limbah kayu putih di Lampung Selatan (dok.humas/itera) Ajeng menjelaskan, untuk menangani limbah cair, tim Itera membuat satu unit biofilter berkapasitas 120 liter. Alat ini menggunakan sejumlah media penyaring, seperti honeycomb, biochar, karbon aktif, zeolit, manganis, silika, dan kerikil kasar.
"Biofilter dirancang untuk menyaring dan mengurangi kandungan pencemar dalam limbah cair penyulingan minyak kayu putih sebelum dilepaskan ke lingkungan," jelasnya.
Menurutnya, berdasarkan pengamatan awal, proses penyaringan menunjukkan perubahan karakteristik limbah. Bau berkurang, lapisan minyak yang terlihat menghilang, serta warna cairan berubah dari cokelat kehitaman menjadi cokelat.
"Meski demikian, efektivitas pengolahan tersebut masih membutuhkan pengujian lebih lanjut. Cairan hasil penyaringan juga berpotensi dikaji sebagai bahan pewarna alami setelah melalui pengujian karakteristik dan keamanan," ujarnya.






















