Sukses Hilirisasi Riset ke Industri, Rektor Itera Raih Inovator Award

Rektor Itera Elfahmi meraih Applied Research and Industrial Impact Award dari BPI Danantara Indonesia pada TIIF 2026 atas konsistensi mengembangkan riset terapan berbasis keanekaragaman hayati.
Riset PUI Nutraceutical ITB yang dipimpinnya mengolah bahan alam menjadi produk bernilai tinggi, termasuk biomarker produksi dalam negeri yang mengurangi ketergantungan impor.
Elfahmi ingin memperkuat hilirisasi riset Itera untuk komoditas Lampung serta mendorong kolaborasi kampus, industri, dan pemangku kepentingan dalam pengembangan teknologi daerah.
Rektor Institut Teknologi Sumatera (Itera), Elfahmi, meraih Inovator Award kategori Applied Research and Industrial Impact Award dari Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia. Penghargaan diserahkan pada penutupan Danantara Technology Innovation Investment Forum (TIIF) 2026 di Jakarta, Rabu 28 Oktober 2026.
Penghargaan tersebut menjadi apresiasi konsistensi Elfahmi mengembangkan riset terapan berbasis keanekaragaman hayati hingga menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi bagi industri. Kiprahnya dibangun melalui penelitian bersama Pusat Unggulan Iptek (PUI) Nutraceutical Institut Teknologi Bandung (ITB), yang kini menjadi bekal untuk memperkuat hilirisasi riset di Itera.
1. Komoditas berpotensi diolah menjadi produk bernilai tinggi

ilustrasi komoditas (freepik.com/jcomp) Elfahmi mengatakan, tim PUI Nutraceutical ITB yang dipimpinnya beberapa tahun terakhir mengembangkan teknologi pengolahan bahan alam untuk meningkatkan nilai ekonomi keanekaragaman hayati Indonesia. Selama ini, sebagian komoditas masih dijual sebagai bahan mentah dengan harga rendah, meski berpotensi diolah menjadi produk bernilai tinggi.
“Melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, potensi tersebut dapat ditransformasikan menjadi produk inovatif yang memiliki daya saing dan nilai jual jauh lebih tinggi,” ujar Elfahmi dalam keterangan resmi, Jumat (30/10/2026).
Ia mencontohkan, daun tanaman kering yang diekspor seharga 4 dolar AS per kilogram dapat diolah menjadi senyawa murni senilai 2.500 dolar AS per kilogram. Menurut Elfahmi, teknologi pengolahan dan pemurnian bahkan berpotensi meningkatkan nilai ekonomi bahan alam hingga 500–1.000 kali lipat, bergantung pada jenis produk.
Elfahmi menjelaskan, riset tersebut juga menghasilkan senyawa biomarker yang sebelumnya banyak diimpor untuk kebutuhan penelitian dan industri. Produk itu kini dapat diproduksi di dalam negeri melalui perusahaan rintisan berbasis teknologi hasil riset ITB, dengan Prof. Elfahmi sebagai peneliti utama.
“Keberhasilan ini menunjukkan bahwa riset perguruan tinggi tidak hanya dapat menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga produk yang memiliki nilai komersial, memperkuat kemandirian teknologi, dan mengurangi ketergantungan terhadap impor,” ujar Elfahmi.
2. Perkuat hilirisasi riset Itera

ilustrasi hilirisasi ubi kayu menjadi tepung tapioka. (freepik.com/Freepik) Pengalaman membawa riset hingga tahap komersialisasi menjadi bekal Elfahmi memperkuat ekosistem inovasi Itera. Ia mendorong penelitian yang menjawab kebutuhan industri sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan Lampung, seperti singkong, nanas, dan tebu.
Untuk itu, ia mengajak para peneliti Itera tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga menghasilkan teknologi yang dapat diterapkan dan dimanfaatkan masyarakat serta industri.
“Itera memiliki peluang besar untuk mengambil peran strategis dalam transformasi kekayaan sumber daya alam menjadi produk bernilai tambah tinggi. Para peneliti harus terus meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi agar hasil riset benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat dan perekonomian,” ujarnya.
3. Penggerak kolaborasi riset antar perguruan tinggi Lampung

ilustrasi riset teknologi (pexels.com/ThisIsEnginerering) Elfahmi juga mendorong Itera menjadi penggerak kolaborasi riset bersama perguruan tinggi di Lampung, antara lain Universitas Lampung (Unila), Politeknik Negeri Lampung (Polinela), UIN Raden Intan Lampung, Poltekkes, dan perguruan tinggi swasta. Sinergi ini diharapkan mempercepat pengembangan teknologi berbasis potensi daerah sekaligus memperkuat kerja sama dengan industri.
“Transformasi sumber daya alam melalui riset dan inovasi membutuhkan kerja bersama. Itera siap berkolaborasi dengan perguruan tinggi, industri, dan berbagai pemangku kepentingan agar kekayaan hayati Indonesia dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi bangsa,” ujarnya.






















